
"Mama, bagaimana keadaan Mariam?"
"Dia sudah siuman dan sekarang sedang sholat magrib."
"Apakah aku boleh bicara dengannya?"
"Sebaiknya jangan dulu Rendra, tunggu keadaan lebih kondusif, kamu baru bisa bicara dengannya. Lagi pula kandungannya masih lemah dan mentalnya belum siap untuk menerima perpisahan yang sangat terpaksa ini." Nyonya Widya memberikan pengertian kepada Rendra.
"Baiklah mama, kalau begitu aku pamit pulang ke Jakarta. Sampaikan salam ku untuk Mariam." Ucap Rendra dengan suara parau.
"Rendra, selidiki keluarga kandungmu, mungkin kamu bisa menemukan solusi dari masalah ini." Ujar nyonya Widya.
"Itu yang ingin aku lakukan mama. Jika aku dan Mariam tidak mendapatkan asupan ASI dari ibu yang berbeda, seperti mama kepadaku, pernikahan kami bisa kembali utuh kan mah?." Ucap Rendra penuh harap.
"Allah akan memberikan kalian petunjuk, sayang. Maafkan mama yang sudah menyebabkan semua ini terjadi. Pernikahan kalian harus kandas karena dosa masa lalu yang dilakukan oleh nyonya Alya."
"Mama tidak salah, mama adalah korban dan juga kami berdua. Kasihan ayah, harus menerima kenyataan cinta mama harus berakhir karena keegoisan nenek Alya."
"Semoga Allah mengampuninya sayang." Ucap nyonya Widya yang sudah tidak lagi dendam dengan mertuanya karena saat ini, ia bahagia karena telah menemukan putrinya dan Mariam telah kembali dalam hidupnya dengan cara yang sangat dramatis.
"Assalamualaikum mama!" Mohon doanya semoga badai ini berlalu. Rendra dan ayah mau balik ke Indonesia. Aku titip Mariam kepada mama."
"Tenang saja sayang, dia putri kandungku, dia tidak akan kekurangan apapun dibawah pengawasan ku. Cukuplah Allah yang akan mengokohkan hatinya untuk menerima ujian besar ini." Balas Nyonya Widya.
Keduanya sepakat mengakhiri percakapan mereka. Rendra sudah siap meninggalkan Turki dan istrinya Mariam bersama nyonya Widya.
Sementara Mariam masih saja membaca Alquran dengan lirih namun terdengar menyayat hati.
Jauh dalam hatinya, ia merasa bahwa umminya mungkin tidak menyusuinya sejak bayi. Tapi ia tidak bisa menyimpulkan sendiri kecuali menyelidiki dua pelayannya yang saat ini masih menjaga rumah orangtuanya.
"Mariam!" Panggil nyonya Widya yang sudah tidak sabar ingin bicara banyak dengan putrinya.
"Sebentar mama, biarkan Mariam mengakhiri bacaan Mariam. Allah sedang berkomunikasi dengan Mariam melalui ayat-ayat cintaNya." Ujar Mariam dengan santun.
"Baiklah sayang!"
Kami menunggumu untuk makan malam bersama." Nyonya Widya meninggalkan putrinya di kamarnya.
"Apakah dia tidak ingin makan bersama kita?" Tanya tuan Arkana.
"Dia masih ingin membaca Alquran ayah." Ucap nyonya Widya lalu duduk di meja makan sambil melihat ponsel miliknya.
"Apakah putramu Rendra sudah kembali ke Jakarta?"
"Mereka baru berangkat, mungkin pesawatnya sudah take off sayang."
"Kisah hidupmu makin rumit setelah menemukan putri kandungmu yang selama ini engkau cari dan kamu rindukan.
Kamu terlihat bahagia namun terselip kepedihan mengetahui Rendra adalah menantumu sendiri. Dan keduanya sedang dipermainkan oleh takdir." Ujar tuan Arkana yang cukup prihatin dengan kehidupan masalalu istrinya.
Sementara di dalam kamar Mariam sibuk mengirim pesan untuk suaminya Rendra.
"Assalamualaikum bang Rendra!"
Apakah kita bisa bicara?" Tanya Mariam melalui pesan WhatsApp.
Dokter membuka ponselnya dan ia hampir melonjak kegirangan ketika mendapat pesan dari istrinya Mariam.
Kebetulan sekali pesawatnya sedang delay makanya ia pun bebas membalas pesan istrinya.
__ADS_1
"Waalaikumuslam sayang, apakah kamu baik-baik saja?"
"Iya bang, keadaan ku sangat baik, tapi tidak dengan hatiku."
"Apakah aku boleh bicara denganmu?"
"Jangan bang!" Kalau ketahuan akibatnya akan sangat fatal. Kita cukup WA aja."
"Baiklah sayang!" Tidak apa begini saja aku sudah senang, yang penting masih bisa bicara denganmu.
"Bang Rendra!" Mariam kangen sama Abang, Mariam yakin kita berdua bukan saudara sepersusuan. Ini hanya kecurigaan mama Widya saja dan keluarga besar kita.
Aku yakin kita berdua bukan saudara sepersusuan."
"Kalau begitu kita kabur saja Mariam daripada menunggu penyelidikan kasus hubungan kita, itu sangat membutuhkan waktu yang sangat lama dan itu sangat menyakitkan bagi kita berdua.
"Bang aku mengerti kegelisahan mu dan juga arti kata kecewamu. Tapi kamu harus yakin bahwa aku dan Abang bukan saudara sepersusuan."
"Mau sampai kapan kita menunggu sayang?" Bisa-bisa anak kita keburu lahir dan dia akan tumbuh tanpa seorang ayah di sampingnya."
"Abang, lebih baik banyak bersabar akan menyelamatkan kita dari salah sangka."
"Tapi bagaimana caranya jika aku sangat merindukanmu?" Apa yang harus aku lakukan untuk menghibur diriku?"
"Nanti kita akan pikirkan lagi yang jelas kita harus tetap berkomunikasi agar kita bisa mengobati kerinduan kita sayang.
"Apakah pesawat Abang belum berangkat?"
"Belum Mariam, katanya lagi delay. Makanya aku bisa menjawab telepon kamu.
"Mariam boleh aku Videocall, aku tidak akan bicara. Aku hanya ingin melihat wajah kamu saja sayang."
Mariam mematikan ponselnya lalu melakukan panggilan melalui video call.
Dokter berdiri menjauhi ayah dan bundanya. Ia lalu menerima panggilan video call dari sang istri tercinta.
Mariam membuka mukenanya lalu melakukan video call dengan memperlihatkan perutnya yang masih rata.
Mariam melambaikan tangannya dan mengirim ciuman jarak jauh untuk suaminya.
Suaminya menunjukkan bagian dadanya dan Mariam mengerti kalau suaminya ingin melihat bentuk tubuhnya.
Mariam melucuti baju tidurnya dan memperlihatkan semua aset miliknya. Rendra yang saat ini sedang ada di dalam kamar mandi tidak kuat menahan hasratnya.
Mariam makin menjadi gila, ia memperlihatkan tempat sensitifnya dengan begitu jelas membuat suaminya meneguk salivanya dengan kasar sambil memperhatikan bentuk dari milik istrinya yang memang selalu menggoda.
"Aku bisa gila dan membatalkan penerbangan ku sayang. Aku akan nekat menculikmu saat ini." Gumam dokter Rendra membatin.
"Sayang, tolong jangan tinggalkan aku, demi bayi kita. Aku mohon jangan tinggalkan aku!" Gumam Mariam lirih.
Dokter Rendra mematikan ponselnya karena tidak kuat menahan hasratnya pada tubuh istrinya.
Iapun kembali mengirimkan pesan terakhir untuk istrinya dan mengatakan pesawatnya sudah tiba.
"Selamat tinggal sayang!" Aku akan selalu merindukan kalian berdua. Tolong jaga dirimu dan juga calon bayi kita. Suatu hari nanti aku akan datang menjemput kalian. Tunggu saja sayang. Aku mencintaimu. Muuuaaacchhh."
"Selamat jalan kekasih jiwaku, aku dan bayi kita akan menantimu lagi dengan segenap hatiku." Muuuaaacchhh.
*
__ADS_1
*
Perjalanan cinta keduanya ketika nyonya Widya yang saat itu sudah resmi bercerai dari tuan Hendra.
Cinta untuk suaminya saat itu seakan mati, ketika ia tidak bisa menemukan putrinya. Di tambah lagi, kedua mertuanya yang begitu diktator kepada hidup Widya yang saat itu adalah seorang yatim piatu.
Gadis malang ini tidak bisa lagi hidup dalam sangkar emas dengan merawat anak lelaki yang bukan anak kandungnya.
Saat itu, usai bercerai dengan tuan Hendra, Widya yang saat itu masih sangat muda hampir mengakhiri hidupnya.
Saat itu Widya ingin menenangkan dirinya ke pulau Dewata Bali, namun ia masih tidak bisa move on dari kehilangan putrinya.
Pagi itu Widya sedang berenang sendirian di kolam renang resort. Tuan Arkana yang memperhatikan Widya yang masuk ke kolam renang tidak berkunjung muncul ke permukaan membuat dirinya sangat kuatir pada gadis yang belum ia kenal.
Ia melihat ke kanan dan ke kiri yang masih nampak sepi di area resort sekitar kolam renang.
"Sial!" Mengapa gadis itu belum muncul juga?" Apakah dia tidak bisa berenang ataukah memang sengaja bunuh diri?" Gumam tuan Arkana dalam hati.
Widya yang memang ingin mengakhiri hidupnya sudah tenggelam di bawah sana.
Tuan Arkana langsung meloncat ke dalam kolam renang itu karena tidak sabar lagi menunggu Widya muncul ke permukaan.
Setelah melihat tubuh Widya, tuan Arkana menarik tubuh itu untuk di bawah ke permukaan kolam renang.
Petugas resort yang melihat kejadian itu langsung membantu tuan Arkana untuk mengangkat tubuh Widya ke darat.
Setelah memompa dada Widya berkali-kali, akhirnya gadis putus asa itu menyemburkan air dari mulutnya. Tubuhnya segera di miringkan oleh tuan Arkana dan petugas hotel memanggil ambulans namun di cegah oleh tuan Arkana karena Widya sudah bisa bernafas lagi.
"Apakah kamu ingin mati nona?" Kalau ingin mati kenapa harus menyusahkan orang lain?" Tanya tuan Arkana yang sudah berada di kamar milik Widya.
"Kenapa kamu harus menyelamatkan aku?" Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja." Gerutu Widya.
"Resort ini tidak akan laku, jika memiliki tamu yang tega bunuh diri di kolam renang, di mana kolam renang salah satu tempat yang sering dikunjungi para tamu.
Jika kamu seorang pembisnis, kamu tahu betul kerugian yang dialami oleh resort ini. Banyak staff yang kehilangan pekerjaan jika resort ini sudah sepi dari para tamunya.
Dan pemiliknya terancam bangkrut dan keluarganya akan menderita. Itu semua akan terjadi karena ulahmu yang nekat mengakhiri hidup di sini." Ucap tuan Arkana panjang lebar.
"Kau ini terlalu banyak bicara tuan. Lagakmu seperti kakek-kakek tua yang sedang menasehati cucunya yang pembangkang." Ujar Widya dengan ekspresi datar.
"Anggap saja aku seperti itu supaya lain kali berpikirlah seribu kali untuk mengakhiri hidupmu lagi."
"Terimakasih atas wejangannya Tuan, sekarang tolong keluarlah dari kamarku karena kita bukan muhrim."
"Boleh kita berkenalan, nona?"
"Widya!"
"Arkarna!"
"Terimakasih tuan Arkana, aku ingin istirahat dan tolong keluarlah!" Pinta Widya sekali lagi.
"Tolong jangan ulangi lagi perbuatanmu yang konyol itu. Allah tidak akan mengampuni dosa hambaNya yang mendahului ajal yang sudah Dia tentukan untuk hambaNya.
Tahukah kau, ketika di akhirat, kamu akan diperlakukan Allah bagaimana cara kamu mati. Jika kamu mati dengan menenggelamkan diri, begitu juga di sana kamu akan disiksa seperti itu, jika kamu mati dengan cara menusuk dirimu dengan pisau, begitu pula kamu di siksa di akhirat seperti itu, bagaimana cara manusia bunuh diri di dunia, maka siksaannya akan diterimanya seperti itu di akhirat.
Lebih baik sibukkan dirimu dengan amal Sholeh sebagai bekal di akhirat karena tiket masuk ke surga yang di terima amal baik hamba dengan Rahmat Tuhan.
Jika kamu seorang muslim, bertobatlah Widya. Apapun masalahmu, mintalah petunjuk Allah karena setiap manusia akan mendapatkan ujiannya dengan cara yang berbeda-beda." Ujar tuan Arkana membuat Winda termangu.
__ADS_1
"Assalamualaikum Widya!" Tuan Arkana meninggalkan kamar Widya dengan langkah tegap.