
Setibanya di Istambul, nyonya Widya dan tuan Arkana memperlakukan Sindy seperti putri mereka sendiri.
Apapun yang Sindy minta selalu saja dipenuhi oleh keduanya. Kini kehamilan sindy sudah mencapai enam bulan. Nyonya Widya melakukan USG pada bayi kembar Sindy yang ternyata laki-laki.
"Sindy bayimu laki-laki sayang, dan ada kabar baik untukmu, hasil DNA anakmu sudah keluar. Apakah kamu ingin membacanya sendiri atau mama yang membacanya?" Tanya mama Widya.
"Mama saja." Ucap Sindy.
"Baiklah semoga hasilnya sesuai dengan keinginanmu Sindy." Ucap mama Widya seraya membuka amplop hasil DNA yang menunjukkan bahwa 99,9% adalah putra dari Reno Aldi Setiawan.
"Ini anaknya Reno sayang, apakah kamu senang?"
"Kalau dia sendiri yang memperkosaku aku tidak terlalu merasa terluka seperti ini, mama Widya karena mereka bertiga yang melakukan itu yang membuat aku sangat sakit.
Reno bahkan menikmati kedua temannya ikut memperkosaku, itu yang membuat hidupku sangat hancur mama....hiks...hiks!"
Setan telah menutupi mata hati mereka karena di bawah pengaruh alkohol, kalau mereka dalam keadaan sadar maka tindakan mereka yang sudah seperti binatang." Ucap mama Widya.
"Mama, apa yang harus aku lakukan pada hidupku?" Tanya Sindy.
"Banyak-banyaklah bertobat dan lebih mendekatkan dirimu pada Allah. Tunjukkan lah sikap pasrahmu kepada Allah karena hanya dengan berserah diri, kita akan merasa tenang sayang.
Ingatlah, hati ini milik Allah. Hanya Allah yang mampu membolak balikan hati hambaNya dari susah, sedih dan takut akan menjadi lega dan bahagia itu tergantung amalan kita sayang."
Sejak mengetahui kalau mbak Mariam adalah anak kandungnya mama bukan mas Rendra, aku sangat sedih.
Mas Rendra mulai menjauhiku karena merasa bukan muhrimnya lagi. Saat itu aku jadi sering mampir ke rumah Reno sambil mengerjakan tugas tesisku.
Tapi di malam naas itu ketika aku sedang membuat tesis di kamar Reno, di luar rumah Reno kedatangan temannya dengan membawa minuman vodka.
Mereka minum bertiga lalu mengusir semua pelayan untuk pergi ke mana saja dengan memberikan banyak uang kepada mereka.
Di saat itulah Reno masuk ke kamarnya dan mulai mendekati aku dengan mulut yang sangat bau alkohol.
Karena melihat gelagat Reno yang tidak normal, aku menjauhkan diri dan hendak kabur tapi kedua temannya menghadangku dan membawa masuk aku lagi ke kamar Reno.
Mereka memegangiku dan Reno mulai melancarkan aksi biadabnya padaku lalu diikuti kedua temannya....hiks...hiks.
Setiap kali mengingat itu, rasanya aku ingin mati, mama." Sindy mengadu peristiwa kelam itu pada ibu angkatnya Widya.
"Ingatan itu tidak akan hilang sampai kapanpun Sindy, tapi kalau kamu mengandalkan Allah dalam setiap doamu, maka kamu akan terlepas dari belenggu masa lalu.
Benih yang mereka tanam padamu hanya satu yang bisa berhasil tumbuh yaitu benih Reno.
Setelah itu kamu boleh menemukan menerima dia lagi suatu saat nanti ataukah membuka lagi hatimu untuk laki-laki lain.
Sekarang ketiganya sudah berada di dalam jeruji besi, ketiganya mendapatkan hukuman yang sama beratnya yaitu keduapuluh tahun penjara.
Andai saja Reno datang dan menikahimu hari itu, mungkin dua tidak akan mendekam di penjara sayang. Dia hanya di minta wajib lapor." Ucap nyonya Widya yang mengetahui semua informasi tentang Reno dari menantunya, dokter Rendra.
Sindy menarik nafas lega." Mama Sindy pulang sekarang ya." Pinta Sindy yang tidak betah lama-lama di rumah sakit.
"Kamu jangan pulang sendiri sayang, biarkan mama yang mengantarmu pulang." Ucap dokter Widya lalu meninggalkan ruang prakteknya.
Dokter Affan yang sudah mengetahui keadaan Sindy melihat Sindy dan mama Widya sedang berjalan berdua menuju tempat parkir.
"Mau ke mana dokter Widya?" Tanya dokter Affan.
"Aku mau mengantar putriku pulang." Ucap dokter Widya.
"Bukankah anda masih ada praktek dokter Widya?" Kalau diijinkan biarkan saya mengantar putri anda pulang. Tidak apakan nona?" Tanya dokter Affan.
"Tapi putriku tidak akan mau diantar oleh orang lain...?"
"Tidak apa mama, bukankah dia adalah teman mama?"
"Tapi dia ini masih bujangan Sindy, takutnya dia akan naksir kamu." Canda Dokter Widya.
"Kalau nona Sindy tidak keberatan, aku akan sangat bahagia." Canda dokter Affan.
Sindy hanya diam saja tidak ingin menanggapi dua orang yang sedang ingin menghibur dirinya.
"Apakah anda mau nona Sindy, aku antar pulang?" Tanya dokter Affan sekali lagi.
Sindy hanya mengangguk menerima kebaikan dokter Affan.
"Mama, Sindy pulang dulu ya." Sindy mengecup pipi ibu angkatnya.
__ADS_1
"Affan, jangan ngebut ya!" Pinta dokter Widya pada rekan kerjanya.
"Siap ibu mertua!" Ucap Dokter Affan semangat bisa mengantar Sindy pulang.
Dokter Affan adalah dokter spesialis anak. Usianya yang tidak jauh dengan Sindy saat ini, membuat ia nekat mendekati Sindy walaupun ia tahu masa lalu Sindy walaupun tidak sepenuhnya Dokter Widya menceritakan keadaan Sindy kepada dokter Affan.
Dokter Affan hanya mengetahui bahwa Sindy hamil di luar nikah dan calon suaminya kabur di hari pernikahan mereka. Hanya sebatas itu yang diketahui oleh dokter Affan tentang Sindy.
"Nona Sindy, apa hobi anda?" Tanya dokter Affan mencairkan suasana yang kaku diantara mereka.
"Baca, nonton film dan mendengarkan musik."Jawab Sindy.
"Apakah kamu mau kita nonton sekarang?" Daripada di rumah kamu pasti merasa kesepian." Ajak dokter Affan pada ibu hamil ini.
"Apakah anda sedang mengajak kencan ibu hamil ini?" Tanya Sindy.
"Kalau nona Sindy tidak keberatan." Ujar dokter Affan apa adanya.
Sindy tidak langsung menjawab. Ia juga sangat minder pada Dokter Affan yang sangat tampan dan juga seorang lelaki muda yang sangat bertanggung jawab pada pekerjaannya.
"Ya Allah, apakah aku layak bahagia?" Gumam Sindy yang masih enggan untuk memulai mencintai lelaki lain.
"Dokter Affan, apakah anda bisa mengajak aku di lain waktu?"
Sindy belum siap menerima ajakan kencan dari dokter Affan.
"Tentu saja nona Sindy!" Ucap dokter Affan.
"Saya mau istirahat saja karena membawa beban bayi kembar cukup merepotkan karena membuat aku sedikit sulit bergerak lincah." Ucap Sindy yang saat ini sedang menumpang mobil milik dokter Affan.
Dokter Affan melanjutkan perjalanannya hingga tiba di rumah Sindy.
Setelah tiba di depan rumah Sindy, dokter Affan membantu Sindy turun dari mobil.
"Terimakasih dokter Affan atas tumpangannya."
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu nona Sindy."
"Hati-hati dokter Affan." Ucap Sindy yang masih berdiri melihat kepergian dokter Affan hingga mobilnya Dokter Affan hilang dari pandangannya.
Sindy berjalan perlahan menuju kamarnya. Hatinya merasa sangat kesepian setelah kepergian dokter Affan.
"Bawakan saja apa yang kalian masak hari ini karena aku sangat lapar." Ucap Sindy.
"Baik nona!"
Sindy duduk di meja makan sambil membuka ponselnya melihat notifikasi pesan di dalam layar ponselnya.
"Ya Allah kenapa bunda tidak pernah menghubungi aku lagi?" Tanya Sindy dengan suara lirih.
"Nona Sindy ini makanannya." Ucap pelayan itu lalu menyiapkan beberapa hidangan khas Turki berupa sup domba, kebab, kofte dan Baklava.
Sup domba yang dimasak selama 15 jam ini menghasilkan tekstur daging yang lembut dan sangat lezat dengan kaldunya yang gurih kaya akan rempah-rempah khas Turki.
Sindy menikmatinya dengan nasi hangat. Ia menghabiskan makan siangnya sendiri tanpa ditemani oleh tuan Arkana dan ibu angkatnya, mama Widya.
Sindy tidak ingin lagi tenggelam dalam kesedihannya. Semakin ia sedih dengan mengenang masa lalunya, maka semakin ia sulit untuk keluar dari kegelapan itu.
Saat ini, dia hanya ingin merasakan kesendiriannya bersama dua buah hatinya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
Setelah menikmati makan siangnya Sindy menunaikan sholat dhuhur sendiri dan membaca Alquran untuk menenangkan jiwanya.
Sementara di Jakarta, nyonya Nada dan suaminya sangat menyesal menolak menikahi Sindy dengan putra mereka Reno.
Sejak Reno di tuntut mendekam di penjara selama dua puluh tahun, keadaan perusahaan orangtuanya langsung goyah.
Kini keduanya harus menerima nasib mereka sebagai orang tua yang angkuh yang tidak mau menerima kesalahan putra mereka yang telah menghancurkan anak gadis orang lain.
Sementara dokter Rendra dan Mariam tetap menjalankan rumah sakit seperti biasanya. Malah rumah sakit yang mereka kelola makin berkembang pesat.
Mariam yang saat ini sedang hamil lima bulan dengan dua janin yang berada dalam rahimnya tidak membuatnya kepayahan.
Putranya Daffa diasuh oleh kakek dan neneknya di rumah. Baby Daffa yang sebentar lagi berusia genap satu tahun kini makin lincah dan cerdas dalam belajar sesuatu.
Mariam dan Rendra sangat bahagia walaupun hati mereka tidak mengingkari kesedihan yang dirasakan oleh kedua orangtuanya Mariam yang masih memikirkan keadaan Sindy.
"Bunda kenapa tidak mau menghubungi Sindy, bukankah sebentar lagi dia akan melahirkan bayi kembarnya?" Tanya Mariam disela-sela keduanya sedang menemani baby Daffa yang saat ini sedang bermain.
__ADS_1
"Bunda tidak ingin dia menjadi manja Mariam. Dia harus bisa mandiri dan melihat kehidupan ini yang akan memberikan dia banyak pelajaran." Ucap nyonya Andara pada putri tirinya.
"Tapi dia sedang hamil bunda, tidak baik membuat hatinya makin sedih. Harusnya bunda banyak mendukungnya. Lagian ini semua bukan kesalahan Sindy, mengapa Sindy yang dihukum.
Apakah bunda tidak ingat saat dia ingin mengakhiri hidupnya dengan mengiris pergelangan tangannya dengan karter, kita akan kehilangan dia selamanya.
Kita orang terdekatnya saja sudah membencinya, apa lagi orang di luar sana akan memandang hina Sindy, bunda.," Mariam menasehati ibu sambungnya agar lebih peduli dengan nasib Sindy.
Nyonya Andara terlihat termenung memikirkan nasib putrinya yang ada di Istambul bersama dengan nyonya Widya dan suaminya tuan Arkana.
Nyonya Andara mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi putrinya, Sindy.
Di Istambul Sindy menerima panggilan dari bundanya Andara. Ia merasa sangat gugup mendapatkan telepon dari ibunya setelah beberapa bulan ia tinggal di Istambul.
"Ya Allah, terimakasih akhirnya bundaku menelepon aku." Sindy membuka mukenanya dan mengatur nafasnya untuk mengontrol emosinya.
"Assalamualaikum bunda!"
"Waalaikumuslam sayang, apa kabar Sindy!"
"Alhamdulillah baik bunda."
"Bagaimana dengan keadaan kandungan kamu saat ini?"
"Alhamdulillah sehat bunda, jenis kelamin mereka laki-laki."
"Apakah kamu merindukan makanan Indonesia?"
"Aku sangat merindukan bunda. Kalau aku kangen makanan Indonesia, mama Widya sering membuatnya untukku, jadi aku tidak begitu kekurangan disini.
Yang aku rindukan hanya bunda. Kapan bunda datang menjenguk aku di Istambul?" Tanya Sindy penuh harap.
"Nanti saja kalau kamu mau melahirkan Sindy karena saat ini, mbakmu Mariam juga sedang hamil kembar juga. Tolong mengerti juga posisi bunda." Ucap Nyonya Andara menahan kesedihannya.
"Kami berdua seakan sedang bertukar posisi. Ibu kandungku mengurus putri orang lain sedang kan ibu kandungnya mbak Mariam mengurusku." Sindir Sindy.
"Sama saja sayang. Nyonya Widya orang yang sangat baik dan penyayang. Bunda percaya dia sangat tulus mengurus kamu sayang.
"Tapi, Sindy lebih butuh bunda dari pada mama Widya." Pinta Sindy sambil menangis pilu.
"Sudah dulu ya sayang, bunda mau menyuap makanan untuk baby Daffa." Ucap nyonya Andara lalu mematikan ponselnya tanpa ingin mendengarkan lagi rengekan manja putrinya.
"Bunda jahat!" Bunda tidak sayang lagi sama Sindy. Berapa kali Sindy bilang, kalau sindy bukan wanita murahan. Sindy diperkosa bukan mau menyerahkan diri pada ketiga bandit itu. Semoga mereka mati di penjara!" Teriak Sindy bersamaan dengan kilatan petir yang menyambar di jendela kamarnya.
Hujan mulai turun dengan derasnya. Sindy makin merasakan kesepian tanpa nyonya Widya di sampingnya.
Di tempat yang berbeda, Reno dan kedua temannya sedang di hajar oleh beberapa senior yang sudah lama mendekam di penjara.
"Heh anak muda, apa kesalahan kalian?" Tanya senior napi yang banyak tatonya.
Reno tidak ingin menjawabnya. Ia hanya tunduk melihat lantai hitam tanpa ekspresi.
"Sepertinya kalian berasal dari anak-anak konglomerat, pasti kalian pemakai narkoba, tapi di lihat dari tampang kalian bukan pemakai narkoba.
Aku tanya sekali lagi, apa yang terjadi pada kalian?" Jawab!" Bentak senior yang bernama Edo.
"Pemerkosa." Ucap salah satu temannya Reno karena sudah dihajar berkali-kali oleh Edo.
"Dasar kalian manusia laknat. Hidup kalian sudah sangat enak tanpa harus bekerja keras kalian sudah bisa menikmati makanan lezat tiga kali sehari.
Berpergian dengan mobil mewah. Ingin keluar negeri tinggal angkat telepon pesan tiket pesawat.
Tidak seperti kami yang harus mencuri barang orang lain untuk memenuhi kebutuhan perut bahkan merendahkan diri kami untuk menipu orang agar mendapatkan harta lebih banyak.
Merampok orang lain tanpa memikirkan nyawa taruhannya jika ketahuan oleh massa.
Kami harus dihajar berkali-kali oleh para polisi sebelum dikirim ke penjara.
Sedangkan kalian harus melibatkan pengacara hebat untuk membolak balikan fakta agar bisa terbebas dari jeratan hukum atau mendapatkan potongan tahanan lebih banyak.
Tapi, kalian bertiga kelihatannya berurusan dengan anak orang kaya juga, maka hukuman kalian makin berat bukan?" Tanya Edo.
"Iya bang." Ucap temannya Reno.
*
*
__ADS_1
Mariam mengajak suaminya untuk melakukan USG pada kehamilannya. Keduanya sangat senang ketika mereka dikaruniai bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
"Nyonya Mariam, anda memiliki sepasang bayi kembar. Yang satunya cantik dan satunya lagi sangat tampan. Selamat dokter Rendra." Ucap dokter Kartika pada pasangan yang sedang berbahagia ini.