
Ponsel milik Rendra berdering berkali-kali begitu pula dengan ponsel milik Sindy. Bibi Ijah menghubungi dua orang itu untuk mengabarkan Mariam sudah di bawah oleh sopir pribadi ke rumah sakit.
Sementara dokter Rendra dan Sindy mengulangi percintaan panas mereka dan saat ini sedang berpacu mencari kenikmatan.
Hingga akhirnya keduanya mencapai kepuasan dan masuk ke kamar mandi dan mandi bersama. Setelah merapikan diri mereka lagi, dokter Rendra baru melihat ponselnya dan membaca pesan yang masuk begitu banyak dari istri dan bibi Ijah.
Dokter Rendra menatap wajah Sindy dan keduanya buru-buru menghampiri kamar bersalin.
Dokter Rendra menemani istrinya di dalam kamar bersalin.
"Sayang, maaf tadi ponselnya di silent karena ada rapat dengan beberapa dokter luar negeri secara Zoom." Ucap dokter Rendra bohong.
"Maafkan saya bang, sudah menganggu pekerjaan Abang." Ucap Mariam sambil menahan sakit.
"Aku yang seharusnya minta maaf tidak bisa menjadi suami siaga di sisimu." Ucap Rendra.
Dokter Kartika memeriksa keadaan bayi kembar Mariam yang tidak bisa melahirkan secara normal.
"Nyonya Mariam sebaiknya anda melakukan operasi sesar karena bayi anda saat ini tidak memungkinkan anda lahir normal, apa lagi air ketuban anda hampir kering dan itu akan membahayakan bayinya dan juga nyawa anda.
"Lakukan yang terbaik untuk istriku dokter Kartika." Pinta dokter Rendra.
"Tidak apa dokter kalau suamiku menginginkannya." Ucap Mariam pasrah.
"Baiklah kalau begitu kita akan melakukan operasi sesar.
Mariam di pindahkan ke ruang operasi. Tim dokter mulai melakukan operasi sesar pada Mariam.
Dokter Rendra dan Sindy menunggu di depan kamar operasi. Sedangkan bibi Ijah menemani baby Daffa di apartemen.
Karena terlalu lama menunggu, dokter Rendra memberi tahu suster kalau saat ini ia sedang banyak pekerjaan dan mengajak Sindy ikut bersamanya.
"Suster, aku masih punya pekerjaan yang belum selesai, jika ada apa-apa dengan istriku atau sudah selesai operasinya tolong telepon saja aku." Pinta dokter Rendra pada stafnya itu.
"Siap dokter Rendra." Ucap suster Yuna.
Staff di rumah sakit itu, hanya mengetahui kalau dokter Rendra dan Sindy adalah saudara kandung seayah, beda ibu.
Sindy mengikuti langkah kakak iparnya dan masuk lagi ke ruang kerja mereka.
Setibanya di ruang kerjanya, dokter Rendra langsung mengunci pintu secara manual.
Ia lalu menarik lagi tubuh Sindy dan memeluk tubuh sintal itu.
"Sayang, aku masih merindukanmu." Ucap dokter Rendra sambil melucuti lagi pakaian Sindy.
Sindy menginginkan hal yang sama, kini ia yang memanjakan milik kakak iparnya.
Pergulatan panas itu kembali terjadi di atas kasur. Rendra memberikan banyak tanda merah di kedua paha mulus Sindy.
Setelah peluh keduanya kering, keduanya memilih ngobrol dengan tubuh masih dalam keadaan polos.
Rendra memangku Sindy dan memeluk tubuh padat sindy sambil memainkan dua bukit kembar Sindy dan mengaduk lembah sempit milik Sindy.
"Sayang, aku menyesal telah menolak permintaan kakakmu saat itu. Andai aku saat itu setuju mungkin kita melakukan ini tanpa beban." Ucap Rendra.
"Tapi mas Rendra, aku bukan gadis lagi. Tubuhku pernah di perkosa oleh tiga pemuda. Apakah kamu mau menerima diriku yang kotor ini?" Ucap Sindy dengan wajah sendu.
"Itu tidak masalah bagiku sayang karena aku bukan orang suci sebelum menikah dengan kakakmu Mariam. Bukankah aku sering menceritakan kepadamu setiap petualanganku saat itu." Ucap dokter Rendra.
"Kalau tahu kita ini bukan sedarah, kenapa tidak dari dulu saja kita bercinta." Ucap Sindy malu-malu.
Keduanya terkekeh dan mengulangi lagi percintaan panas mereka.
*
*
Ponsel dokter Rendra berdering kembali. Rendra menerima telepon dari dokter Kartika yang menghubunginya.
"Dokter Rendra, mohon ke ruang operasi sekarang!"
Dokter Rendra buru-buru memakai bajunya di bantu Sindy yang merapikan dasi dan jasnya.
"Aku keluar dulu, kalau kamu lelah tidur saja dan aku akan kembali kalau urusan kakakmu sudah selesai." Ucap dokter Rendra pada Sindy yang sudah tak berdaya di atas kasur milik dokter Rendra.
Dokter Rendra berlari menuju ruang operasi untuk menemui dokter Kartika.
"Ada apa dokter?" Tanya dokter Rendra.
"Istri anda dalam keadaan koma. Dua bayinya sudah kami selamatkan." Ucap dokter Kartika.
Dokter Rendra sangat syok mendengar istrinya tiba-tiba koma.
"Apa yang terjadi dokter, kenapa istri saya bisa koma?" Tanya dokter Rendra.
"Nyonya Mariam mengalami pendarahan, jantungnya tadi sempat berhenti lalu kembali berdetak lagi namun sangat lemah."
"Apakah aku bisa memeriksa keadaannya?" Tanya dokter Rendra.
"Silahkan dokter!" Itu yang ingin saya katakan tadi." Ucap dokter Kartika.
__ADS_1
Dokter Rendra memakai semua atribut sesuai dengan protokoler dalam memasuki ruang operasi.
Ia menghampiri Mariam dan memulai melakukan pemeriksaan EKG jantung.
Ternyata jantung Mariam sangat lemah." Tolong pindahkan istriku di ruang ICU." Ucap dokter Rendra.
"Siap dokter!"
"Tolong kabarkan perkembangannya setiap dua jam sekali kepada saya dan jika terlalu urgent, kabarkan setiap saat." Titah dokter Rendra lalu meninggalkan ruang operasi.
Dokter Rendra menuju ruang bayi melihat keadaan bayi kembarnya.
"Ayah akan mengumandangkan azan kepada kalian sebentar lagi karena ayah harus mandi dulu." Ucap Rendra pada bayi kembarnya.
"Dokter Rendra, berat masing-masing keduanya 2,7kg dan 3,1kg. Panjang tubuh keduanya sama yaitu 52 cm." Ucap suster yang menjaga ruang bayi.
"Terimakasih Suster!" Dokter Rendra mengambil foto bayi kembarnya. Lalu ia meninggalkan kamar bayi menuju ruang kerjanya.
Rendra masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena ia belum sempat mandi junub dan membiarkan Sindy tidur karena masih kelelahan.
Setelah membersihkan tubuhnya ia kembali ke ruang bayi untuk mengumandangkan adzan pada bayi kembarnya. Sebelumnya itu ia kembali mengunci kamar pribadinya karena saat ini Sindy tidur dalam keadaan tubuhnya polos.
Dokter Rendra mengumandangkan azan pada bayi kembarnya secara bergantian.
"Suster, berikan bayiku susu formula dan hati-hati dengan takarannya." Pinta dokter Rendra.
Dokter Rendra menggendong bayinya sebentar. Iapun memberikan nama untuk bayinya Raisya dan Raffi.
"Jangan rewel ya sayang, mami kalian masih sakit. Semoga mami cepat sembuh dan bisa menyusui kalian berdua." Ucap dokter Rendra.
🌷🌷🌷🌷🌷
Dokter Rendra dan Sindy pulang ke apartemen bersama. Rendra sudah menceritakan keadaan istrinya pada Sindy. Keduanya nampak diam dan larut dengan pikiran mereka masing-masing.
Setibanya di apartemen, dokter Rendra menggendong putranya Daffa.
"Tuan dokter bagaimana keadaan neng Mariam?" Tanya bibi Ijah dan bibi Luky.
"Masih belum sadar bibi, jantungnya masih lemah. Tapi aku sudah memberikannya obat." Ucap dokter Rendra.
"Ya Allah kasihan neng Mariam." Ucap bibi Ijah sangat sedih.
"Tuan dokter apa boleh kami menjenguk neng Mariam?" Pinta bibi Luky.
"Silahkan bibi!" Tapi bilang kalau kalian keluargaku agar bisa di ijinkan masuk karena saat ini, Mariam berada di ruang ICU." Ucap dokter Rendra.
"Sebaiknya tuan dokter saja menghubungi mereka supaya kami tidak mendapatkan kesulitan di rumah sakit nanti." Ucap bibi Ijah.
"Baiklah bibi aku akan hubungi dokter jaga di sana. Tapi sebelum pergi tolong tidurkan Daffa dulu ya bibi. Aku mau istirahat. Nanti Sindy yang akan menjaga putraku." Ucap dokter Rendra.
"Terimakasih bibi!" Ujar dokter Rendra.
🌷🌷🌷🌷🌷
Setelah kepergian bibi Luky dan bibi Ijah ke rumah sakit, dokter Rendra menghubungi nyonya Widya untuk menyampaikan keadaan Mariam.
"Maaf mama, Rendra baru bisa mengabarkan mama sekarang. Keadaan Mariam masih koma saat ini." Ucap dokter Rendra.
"Ya Allah, kasihan putriku yang malang." Ujar nyonya Widya sambil terisak.
"Nanti saja mama Widya ke sini karena percuma Mariam masih belum sadar" Ucap dokter Rendra.
"Baiklah Rendra, mama tunggu perkembangan Mariam. Kamu yang sabar ya nak." Ucap nyonya Widya lalu menutup ponselnya.
"Apakah semuanya baik-baik saja, sayang?" Tanya tuan Arkana.
"Tidak sayang, saat ini putriku Mariam sedang koma setelah menjalani operasi sesar." Nyonya Widya memeluk suaminya dan menangis di dada bidang yang masih kelihatan gagah itu.
Dokter Rendra memindahkan putranya Daffa ke kamarnya.
Setelah sudah memastikan bayinya tidur pulas ia pun melepaskan jasnya dan juga dasinya.
Cek lek...
Pintu kamar di buka oleh Sindy. Gadis ini sudah merias dirinya secantik mungkin dengan memakai lengerie hitam yang sangat transparan.
Bagai sudah tersihir oleh pesona Sindy, dokter Rendra tidak bisa menolak tubuh indah Sindy yang di garapnya seharian.
Sindy duduk di sofa sambil menaikkan dua kakinya yang jenjang nan mulus melebarkan kedua pahanya dengan memperlihatkan lagi miliknya.
Tubuh Rendra bergetar hebat menyaksikan pemandangan yang indah itu.
"Sindy!" Ucapnya dengan suara bergetar menahan miliknya sudah membengkak memenuhi ruang segitiga miliknya, seakan ingin terbebas keluar dari tempatnya.
Tanpa berlama-lama menatap milik Sindy, dokter Rendra sudah membenamkan wajahnya di bawah sana dengan membilaskan lidahnya berkali-kali di tempat yang indah itu.
Keduanya kembali mengulangi lagi percintaan mereka tanpa henti. Kebetulan dokter Rendra meminta dua pelayan istrinya itu menunggu di sana sampai pagi dan dia akan menitipkan putranya pada ibu mertuanya nyonya Andara.
Selamat keduanya bebas melakukannya sampai pagi tanpa memikirkan penderitaan Mariam yang saat ini sedang koma di rumah sakit.
"Sayang milikmu masih seperti gadis perawan!" Ucap dokter Rendra sambil mengadukan pinggulnya berkali-kali pada milik Sindy.
__ADS_1
"Bukankah aku melahirkan secara sesar, berarti masih tersegel rapi." Ucap Sindy dengan nada manja.
Sampai mendekati waktu subuh tiba keduanya baru mengakhiri percintaan panas mereka.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Pagi itu Rendra sudah rapi siap berangkat kerja bersama Sindy. Sindy meminta ijin naik taksi karena dia tidak ingin berenang dengan ayahnya tuan Hendra yang masih membencinya.
"Mas turunkan aku di sini, aku mau naik taksi saja. Aku tidak ingin bertemu ayah." Ucap Sindy.
"Baiklah sayang, sampai jumpa di kasur kita!" Ucap dokter Rendra nakal.
Dokter Rendra melanjutkan perjalanannya menuju rumah mertuanya. Ia ingin mengantarkan putranya Daffa ke ibu mertuanya.
"Sayang kamu sama Oma dulu ya!" Ucap dokter Rendra pada bayinya.
"Bagaimana keadaan Mariam Rendra?" Tanya tuan Hendra.
"Belum ada perubahan ayah."
"Nanti ayah akan menjenguknya." Ucap tuan Hendra.
"Baik ayah!" Rendra berangkat dulu mau lihat keadaan Mariam."
Dokter Rendra melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit.
Sementara Sindy mampir ke apotik membeli pil KB untuk dirinya.
"Aku belum mau hamil anak mas Rendra sampai mbak Mariam mengijinkan aku menikah dengan mas Rendra." Ucap Sindy lalu masuk lagi ke dalam taksi yang sedang menunggunya.
"Lanjut pak!" Ucap Sindy sambil melihat ponselnya dan mengirim kata-kata mesra pada sang kekasih dengan kata-kata yang bergairah.
Dokter Rendra tiba lebih dulu di rumah sakit. Ia mampir melihat istrinya dan membersihkan tubuh istrinya lalu menggantikan baju dan pembalut wanita pada istrinya.
Setelah memastikan istrinya sudah bersih, dokter Rendra menyuruh dua pelayannya untuk pulang kembali ke apartemen supaya bisa beristirahat.
"Selamat pagi sayang!" Sapa Sindy lalu mengecup bibir dokter Rendra sangat mesra.
"Pagi sayang!" Balas dokter Rendra.
"Sindy, sebentar lagi ayah akan membesuk Mariam. Pasti dia akan datang ke ruangan ku usai membesuk Mariam.
Kalau kamu tidak ingin bertemu dengan ayah, sebaiknya kamu ke ruangan lain." Ucap dokter Rendra.
"Jam berapa ayah ke sini?" Tanya Sindy.
"Entahlah, ayah tidak mengatakannya kepadaku." Ucap dokter Rendra.
"Baiklah kalau begitu, jika ayah datang aku akan ke kantin atau keluar sebentar. Aku pinjam mobil mas Rendra, ya!"
"Pakai saja sayang, sekarang kamu sudah menjadi istriku, walaupun belum resmi!" Ucap Rendra.
"Terimakasih mas Rendra sayang!" Ucap Sindy lalu mengecup lagi bibir Rendra.
*
*
Dua Minggu sudah Mariam hidup dalam diamnya. Walaupun begitu dokter Rendra begitu telaten mengurus istrinya dengan menggantikan pakaian Mariam setiap hari dan memeriksa keadaan jantungnya.
Di saat dokter Rendra sudah merapikan pakaian Mariam, istrinya menggerakkan tangannya. Dokter Rendra begitu bahagia. Ia kemudian memanggil nama istrinya berulang kali.
"Mariam, apakah kamu bisa mendengarkan aku sayang?" Tanya dokter Rendra lalu mencium pipinya Mariam.
Mariam membuka matanya perlahan -lahan dan melihat wajah tampan suaminya.
"Bang, mana bayi kita?" Tanya Mariam dengan suara lirih.
"Mereka masih di sini, menunggumu sayang. Aku sengaja tidak ingin membawa pulang mereka ke apartemen, karena bisa mengawasi mereka secara langsung kecuali baby Daffa aku titipkan kepada bunda Andara.
Bibi Luky dan bibi Ijah menjaga kamu di sini gantian dengan aku, sayang." Ucap dokter Rendra.
"Bang Rendra, apakah kamu merasa kesepian tanpa aku, sayang?" Tanya Mariam menatap lekat wajah suaminya.
Deggg..
"Aku selalu terhibur dengan anak-anak kita sayang." Ucap dokter Rendra berbohong.
"Sayang, tidak baik sindy tinggal di apartemen milik kita terlalu lama. Kalau kamu ingin melindungi kehormatannya, sebaiknya kamu menikahinya." Pinta Mariam.
Duaaarrr...
"Mengapa kamu bicara begitu sayang?" Bukankah kamu masih bisa melayani aku?" Ucap dokter Rendra.
"Tapi aku ingin kamu menikahi Sindy, sayang." Ucap Mariam.
"Sindy, kamu masih kuat dan masih muda, untuk apa mau di madu?"
"Sindy hanya nyaman bersamamu, dia tidak akan menerima laki-laki lain setelah mengalami pemerkosaan itu.
Nama baik keluarga hanya akan di selamatkan oleh kamu sayang." Ucap Mariam.
__ADS_1
"Apakah kamu sungguh -sungguh dengan ucapan kamu sayang?" Tanya dokter Rendra lagi.
"Lakukan segera bang Rendra, aku ridho kalian menikah." Ucap Mariam dengan senyum yang dipaksakan.