
Keduanya keluar dan duduk di teras hotel melihat taman indah yang terhampar luas di area hotel tersebut.
Dokter Rendra memangku Mariam sambil memeluk pinggang istrinya. Bibirnya tidak berhenti mengecup ceruk leher jenjang milik istrinya.
"Emang belum bosan semalam suntuk melakukannya?" Tanya Mariam yang merasa terangsang lagi, apa yang dilakukan suaminya saat ini.
"Mana ada orang bosan dengan percintaan panas?" Balas dokter Rendra
"Nanti saja kalau sudah sarapan karena saat ini aku sangat lapar." Ujar Mariam
"Astaga!" Harusnya kita bawa makanan ringan yang banyak agar tidak kelaparan seperti ini." Ujar dokter Rendra.
"Sudahlah, nanti saja kita beli kue dan roti di sekitar hotel ini, Tanggung sebentar lagi mau sarapan." Ujar Mariam
Keduanya menunggu tibanya waktu sarapan pagi untuk mengisi kembali energi mereka sebelum melakukan aktivitas selanjutnya.
Entah apa yang akan mereka lakukan nanti setelah sarapan pagi karena pasangan ini sepertinya lebih betah berada di dalam kamar dari pada mencuci mata untuk menikmati kota Paris Perancis.
"Sayang, nanti kalau habis sarapan kita mau ke mana?" Tanya dokter dengan membuka obrolan pagi.
"Nanti saja kita pikirkan lagi sayang, karena banyak sekali tempat wisata yang ingin aku kunjungi denganmu hari ini." Jawab Mariam
Hampir satu bulan Mariam dan dokter Rendra berada di kota Paris Perancis. Kerinduan Mariam kepada ketiga buah hatinya tidak terelakkan sampai saat ini.
Rasa jenuhnya mulai datang menghinggapi hatinya. Dokter Rendra yang tidak ingin cepat pulang ke Indonesia sebelum istrinya dinyatakan hamil oleh dokter.
Mereka kini sudah berpindah ke hotel lainnya sesuai dengan tempat wisata yang akan mereka kunjungi.
Tapi keindahan kota Paris tidak membuat kerinduan mariam kepada ketiga putranya.
Dokter Rendra yang sudah menyelesaikan tugasnya, segera menemui istrinya yang duduk melamun di balkon kamar hotelnya.
Dengan cepat dokter Rendra menempelkan bibirnya yang hangat kepada Mariam. Mendapat kecupan dengan tiba-tiba mata Mariam terbelalak dan ia sangat suka setiap kejutan yang diberikan dokter Rendra mampu membuatnya bertahan walaupun kebahagiaannya belum terasa sempurna sampai saat ini.
Mariam kembali diam usai mendapat kecupan dari suaminya lalu dia mulai membuka suara menyampaikan perasaan yang menyesakan dadanya pada suaminya tapi kata-katanya seakan tercekat di kerongkongannya. Dokter Rendra yang menatap wajah teduh istrinya lalu berusaha menghibur ratunya.
__ADS_1
"Sayang, tolong jangan melamun lagi, aku tidak ingin melihatmu bersedih. Tidak lama lagi kita akan bertemu dengan putra kita." Ujar dokter Rendra
Kini Mariam sudah tidak sabaran ingin menemui putranya membuat sang suami sedikit kesulitan menenangkannya.
"Bang Rendra Saat ini aku sangat merindukan anak kita , aku sangat ingin memeluk mereka" ucap Mariam dengan wajah sendu.
"Sayang tidak semudah apa yang kita inginkan, kau tahu sendiri kan posisi kita saat ini sedang berada di luar negeri. Kita akan segera bertemu dengannya. Bukan hanya kamu yang merindukannya, aku juga sayang.
"Apa maksudmu bang Rendra aku tidak paham, apa salahnya jika kita secepatnya pulang ke tanah air.
"Sayang, dengar!"
Kita sudah sepakat, kalau kita akan pulang jika kamu dinyatakan hamil oleh dokter. Aku tidak sabar ingin mendapatkan lagi anak darimu sayang. Memberikan adik untuk ketiga kakaknya. Mereka harus punya teman untuk bisa ia ajak main bersama selain dengan kita orangtuanya.
"Jadi kalau aku belum hamil, terus kita nggak pulang-pulang?" Gerutu Mariam kesal.
"Doakan semoga kamu cepat hamil, dengan begitu kita akan segera kembali ke tanah air." Ucap dokter Rendra menghibur istrinya.
"Ya sudah, kalau Bang Rendra seperti itu, Mariam manut saja deh maunya bang Rendra." Ujar Mariam yang tidak ingin lagi berdebat dengan suaminya.
"Ya sudah, kalau bang Rendra seperti itu, Mariam manut saja deh maunya bang Rendra." Ujar Mariam yang tidak ingin lagi berdebat dengan suaminya.
Kemudian dokter Rendra meneruskan tarian kecil dibibirnya untuk mengusai bibir Mariam keduanya melepas dan menyatukan kembali dengan nikmatnya, suara deru nafas memburu pun kembali terekam pada rongga telinga sepasang anak manusia tersebut.
Tersenyum, saling menatap dan kembali memagut bibir, itulah aktivitas mereka siang ini hingga puas. Sepertinya dokter Rendra adalah tipe pria yang suka menikmati aroma nafas dan hangatnya saliva hingga beberapa menit kemudian mengadu bibir mereka yang masih tampak betah dan tidak akan pernah jenuh walau hati keduanya masih terenggut kerinduan pada sosok ketiga putranya yang telah menyatukan dua orang asing ini yang awalnya saling bermusuhan.
Takdir telah mempermainkan kehidupan keduanya hingga akhirnya drama kehidupan ini harus diperankan, tidak perduli peran apa yang akan mereka mainkan, yang mereka tahu hanyalah sebagai pemeran yang harus lakukan semua adegan drama kenyataan tanpa ada kata protes ataupun berusaha melarikan diri dari kenyataan.
Setelah puas menikmati kemesraan mereka siang ini, dokter Rendra mengajak istrinya untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di setiap kota yang ada di Perancis.
"Sayang, kita harus bersiap secepatnya, karena sebentar lagi kita akan dijemput oleh salah satu staffku yang bekerja di perusahaan ku di negara ini," pinta dokter Rendra.
Tanpa banyak komentar Mariam mengganti bajunya dengan menggunakan dress panjang dan mantel bulu berwarna hitam. Dalam sekejap Mariam sudah siap dengan jilbab yang cukup modis dengan menggunakan sepatu boot coklat dan yang dipadu dengan tas selempang kulit berwarna senada dengan sepatunya. Keduanya keluar dari kamar hotel menuju mobil yang sudah menunggu mereka di depan hotel yang siap mengantar mereka ke tempat wisata.
Tempat wisata selanjutnya yang akan mereka kunjungi adalah Verdon Gorge Canyon.
__ADS_1
Verdon Gorge Canyon merupakan tempat wisata alam di Perancis yang menawarkan keindahan sungai, tebing batu kapur, ngarai, yang dibalut dalam keseruan wisata yang beragam.
Verdon Gorge lokasinya berada di bagian selatan Perancis. Dikenal juga dengan nama Gorges Du Verdon, yakni sebuah sungai elok yang memiliki panjang 25 kilometer, serta kedalamannya bisa mencapai 700 meter.
Mariam menikmati destinasi wisata yang indah, yang merupakan pemandangan panorama alam terbuka yang memanjakan mata mereka.
"Bang Rendra, ini sangat indah sayang. Aku sangat suka." Ucap Mariam lalu mengambil beberapa foto keren dengan berselfi bersama suami tercinta.
Puas menikmati alam wisatanya kini Mariam dan dokter Rendra berburu kuliner. Permasalahan yang selalu mereka hadapi adalah mencari kuliner yang halal. Walaupun ada yang menjual makanan halal, namun lokasi tempuhnya cukup jauh dari tempat wisata yang mereka kunjungi.
Mariam yang sudah tahu ini bakal terjadi, ia sengaja membawa sendiri makanan berupa roti yang mudah untuk mengganjal perut mereka.
Dokter Rendra sangat senang dengan istrinya yang selalu mempersiapkan sesuatu untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak terduga yang terjadi pada mereka yang saat ini sedang mencari restoran halal namun mereka sudah keburu lapar.
"Kamu sangat keren sayang, bisa mempersiapkan makanan untuk bisa kita makan sebelum sampai pada restoran halal." Ucap dokter Rendra memuji istrinya.
"Dari pada nahan lapar, mending bawa sendiri makanan ringan sayang. Roti yang lebih kuat bertahan di perut dari pada kue." Imbuh Mariam.
Setelah cukup jauh menempuh perjalanan hanya untuk mencari restoran halal. Akhirnya pasangan ini tiba juga di restoran yang menyajikan makanan halal, cukup sulit mendapatkan restoran dengan lebel halal di negara tersebut namun karena hukum agamanya sudah mengharamkan suatu jenis makanan, maka mereka hanya bisa bersabar mencarinya walaupun jaraknya lumayan jauh.
Salah satu menu makanan yang terkenal di tempat ini adalah Fine Dining berbahan dasar daging sapi atau daging domba yang ditambah dengan kuah khas yang menggoda selera. Restoran pilihan para pelancong muslim ini menyajikan makanannya dengan suasana kontemporer dan juga hangat.
Dokter Rendra dan Mariam langsung memesan makanan untuk mereka karena perut mereka sudah menagih untuk segera di isi.
"Ternyata suka dukanya menjadi wisatawan muslim seperti kita ya Bang Rendra." Ujar Mariam yang sudah mulai mengeluh masalah makanan.
"Iya sayang, mungkin bukan hanya kita yang paling menderita jika berwisata di tempat indah dan romantis tapi sulit menemukan makanan halal." Ujar dokter Rendra
Mariam baru menyadari ketika melihat didalam restoran itu banyak sekali muslim dari berbagai negara yang sedang menikmati makanan halal sama seperti mereka.
Sebelum meninggalkan kota Paris Perancis, Mariam dan dokter Rendra melakukan makan malam romantis.
Dokter Rendra membelit pinggang Mariam dan Mariam mengalungkan tangannya pada leher dokter Rendra jarak wajah mereka begitu dekat dengan deru nafas yang sulit terkendali karena saling merasa gugup.
Liukan tubuh keduanya mengikuti alunan musik dengan pikiran yang sibuk untuk bisa ditelusuri. Dokter Rendra ingin mengatakan perasaannya secara langsung pada Mariam malam ini, betapa hatinya sudah tidak bisa lagi membendung cintanya pada Mariam saat pertama kali melihat wajah Mariam di malam pertama mereka bertemu di Aula rumah sakit
__ADS_1
"Aku mencintaimu!!"
"Aku mencintaimu!!"