PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
8. Rumah mertua


__ADS_3

Setibanya di mansion milik suaminya, Mariam disambut oleh keluarga suaminya dengan penuh kehangatan.


"Selamat datang sayang, di kediaman Tuan Hendra Kusuma dan Rendra Kusuma!" Apakah kamu bahagia?"


Tanya nyonya Andara seraya cipika cipiki pada Menantunya.


"Assalamualaikum bunda!" Sapa Mariam.


"Waalaikumuslam sayang, Astaghfirullah!" Bunda sampai lupa mengucapkan salam padamu." Nyonya Andara sangat malu sampai lupa mengucapkan salam pada gadis alim ini.


"Tidak apa bunda. Manusia adalah tempatnya lupa dan salah. Makanya kenapa kita saling mengingatkan dan menasehati." Ucap Mariam bijak.


"Beruntung Rendra memilihmu menjadi menantu bunda, coba kalau orang lain, bunda tidak mungkin akan mendengar kata-kata yang menyejukkan hati penuh hikmah darimu sayang." Keduanya berjalan menuju ruang keluarga.


"Mariam, ayah dengar kamu seorang psikolog, sebaiknya kamu bekerja di rumah sakit kita sayang. Mungkin dengan adanya kamu di rumah sakit itu banyak yang membutuhkan nasehat terbaik yang akan kamu berikan kepada para pasien yang mengalami guncangan jiwa akut." Ucap tuan Hendra.


"Insya Allah ayah, Mariam akan melakukannya dengan baik."


"Ayah kami ke kamar dulu." Rendra pamit sambil mengajak istrinya ke kamar mereka.


"Emang belum puas, baru datang sudah mau garap lagi." Canda adiknya Sindy.


"Hussstt Sindy!" Bentak Nyonya Andara yang tidak enak hati pada Mariam yang terkenal Sholehah.


"Apakah kamu tidak bisa menjaga mulutmu itu?" Apakah kamu tidak lihat akhlak Mariam. Godaan dan candaan seperti itu diangggap tabu di telinganya." Protes nyonya Andara pada putrinya.


"Ah, bunda!" Jangan terlalu kaku sama menantu. Lagi pula mbak Mariam itu gadis yang berpendidikan dan dia adalah sarjana psikolog, jadi ia tidak begitu baper dengan perkataan Sindy, bunda." Sindy mengerucutkan bibirnya.


Mariam hanya tersenyum, ia juga sudah mempersiapkan dirinya karena berada lingkungan baru yang selalu bebas berekspresi tanpa ada filter untuk menangkal perkataan santun.


"Tidak apa bunda, Sindy tidak bermaksud meledek dengan kata-kata yang kurang diterima oleh saya yang belum pernah mendengar hal-hal tabu di lingkungan baru." Ucap Mariam.


"Mbak Mariam, semoga betah berada di rumah ini. Mungkin saja bang Rendra sudah sadar dan mau berubah tapi tidak dengan kami keluarganya." Ucap Sindy lalu meninggalkan Mariam dan keluarganya yang hanya mengurut dada.


"Dasar anak ini!" Serampangan sekali sikapnya, nggak tahu tempat asal ngomong aja." Geram nyonya Andara pada putrinya.


"Bunda, aku ke kamar dulu ya, mungkin bang Rendra butuh sesuatu." Mariam bergegas bangkit menuju anak tangga ke lantai dua, di mana suaminya sedang menanti.


Ini pertama kalinya, Mariam menginjak rumah suaminya. Ia memperhatikan sekitarnya. Lantai dua lebih banyak ruang kamar tidur dibandingkan dengan lantai satu untuk keluarga inti.


Mariam membuka pintu itu dan mendapati suaminya sedang berbaring.


"Sayang, mengapa kamu lama sekali duduk di bawah?" Aku sangat merindukanmu." Rendra memeluk istrinya dan mencium leher jenjang istrinya yang putih mulus itu.


Jilbab panjang istrinya di letakkan di sofa. Baju Muslim yang dikenakan Mariam ditanggalkan kembali oleh Rendra.


"Sayang, ini masih sore, apakah tidak bisa menunggu nanti malam saja?" Mariam merasa serba salah karena berada di rumah mertuanya.


"Apakah kamu malu dengan mereka?" Kalau begitu kita tinggal di apartemen saja supaya tidak ada yang mengganggu kita." Rendra menggendong tubuh istrinya dan dibaringkan di atas kasur.


Karena suasana masih pengantin baru, Mariam mengerti suaminya masih menginginkannya kapan saja.


Seperti biasanya, Mariam selalu saja menikmati sentuhan suaminya hingga berkali-kali merasakan pencapaian kenikmatan.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Pagi itu, Mariam menjalankan peran pertamanya sebagai istri dokter Rendra dengan masuk ke dapur dan memasak sendiri untuk suaminya. Mariam menanyakan apa saja makanan favorit suaminya termasuk sarapan pagi kepada Chef yang sudah bekerja di mansion itu hampir 25 tahun.

__ADS_1


Chef memberi tahukan kepada Nikita menu favorit keluarga itu dan mengajarkan cara memasak dan menghidangkannya agar terlihat menarik dan menggiurkan lidah anggota keluarga itu.


Tidak butuh waktu satu jam, Mariam sudah menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga suaminya.


"Assalamualaikum ayah, bunda!" Sapa Mariam sambil menarik kursi untuk kedua mertuanya.


"Sayang, kamu nggak usah repot-repot di dapur, bukankah sudah ada chef di mansion ini kan?" Ucap Nyonya Andara.


"Tidak apa bunda, aku ingin melakukannya dengan baik, apakah tidak boleh?"


"Kami sangat senang sayang atas perhatian kamu untuk kami, tapi kami juga tidak ingin kamu kelelahan dan sulit untuk mengandung. Takutnya gara-gara aktifitas mu itu terganggu, maka kehamilanmu akan rentan dengan keguguran."' Ucap nyonya Andara.


"Assalamualaikum ayah, bunda!" Dokter Rendra menarik bangkunya dan melihat istrinya sedang melayani keluarganya.


"Mimpi apa, Abang gue bisa bertemu dengan mbak Mariam?" Sudah gitu mbak Mariam mau lagi sama cowok setengah keren ini.


Sindy mulai lagi dengan banyolannya.


"Sindy, hati-hati dengan ucapan kamu sayang. Kalau seandainya berbalik dengan kamu, bukankah kamu pergi kuliah hari ini?"


"Bunda, aku lagi malas kuliah hari ini. Aku ingin bermain dengan mbak Mariam, boleh tidak bang Rendra.


"Boleh!" Asalkan kamu tidak meracuni otaknya yang masih suci ini." Pinta dokter Rendra pada adiknya.


"Bilang aja takut."


"Aku sih tidak ngaruh dengan ucapan kamu karena istriku sangat mempercayai aku. Iyakan sayang, Ujar Rendra.


"Abang sayang, aku tuh kepingin belajar agama pada kakak ipar, jadi tidak usah setakut itu. Emang kakak ipar tidak makan sekolah hingga bisa terpengaruh dengan perilaku aku?" Gerutu Sindy.


"Alhamdulillah terimakasih ya Allah akhirnya putriku mau belajar mengaji pada Mariam." Ucap tuan Hendra.


"Tolong jangan bicara di saat kita sedang makan!" Setan akan menggoda kita di depan makanan yang kita makan. Apa lagi saat ini Kita baru mulai pagi dengan bacaan taauz." Ucap Mariam pada keluarga barunya.


Semua terdiam tanpa bicara lagi hingga makanan mereka ludes tak tersisa.


Mariam mengantarkan suaminya sampai mobil lalu kembali lagi ke kamarnya karena ingin melakukan sholat Dhuha.


Sindy yang tadi menunggu Mariam sholat Dhuha terlihat bosan dan itu sangat membuatnya tidak nyaman.


"Hai, sini!" Bosan ya? Tanya Mariam melihat Sindy sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Mbak Mariam selalu melakukan sholat Dhuha setiap hari?" Tanya Sindy.


"Karena aku sedang berterimakasih kepada Robby ku karena mendapatkan kenikmatan iman Islam." Ucap Mariam.


"Ya Allah, Sholehah banget sih mbak Mariam."


Semoga kehadiran mbak Mariam di tengah keluarga kami, bisa menambah keimanan untuk keluarga kami yang begitu buta dengan agama mbak.


Deggg....


"Pantasan mereka selalu lupa akan salam walaupun itu hal yang sangat penting. Ya Allah, terimakasih sampai saat ini aku di karuniai pada keluarga yang tidak memperlihatkan sisi religinya.


Mungkin kehadiran aku bisa menuntun mereka perlahan-lahan menuju surgaMu ya Allah." Ucap Mariam.


"Mbak Mariam anak tunggal ya?"

__ADS_1


"Iya."


"Kenapa mbak Mariam mau sama Abang Rendra?" Bukankah orang seperti mbak Mariam itu selalu mendapatkan para ulama hebat." Seloroh Sindy.


"Setiap gadis memiliki impiannya masing-masing. Awalnya mbak juga bercita-cita ingin memiliki suami yang ilmu agamanya lebih hebat dari pada mbak, tapi sejalannya waktu, Allah selalu punya cara untuk menentukan jodoh hambaNya dengan orang yang berbeda supaya ia tidak masuk surga sendiri." Ucap Mariam.


"Tapi, nanti mbak Mariam jangan kaget ya, tiba-tiba jalan sama mas Rendra tahu-tahu ada cewek cantik nyamperin bang Rendra." Ucap Sindy.


"Tanpa kamu ceritakan padaku, mbak sudah tahu siapa abangmu yang tampan itu. Justru mbak jatuh cinta pada kekurangannya." Ucap Mariam yang tidak ingin mendengar lagi masa kelam suaminya, Rendra.


"Apakah kamu punya pacar Sindy?"


"Bukan pacar tapi tunangan mbak Mariam."


"Kalau begitu, kenapa tidak segera menikah?"


"Aku sebenarnya ingin menikah, tapi aku saat ini sedang menyusun tesis S2." Ucap Sindy yang belum mau berkeluarga.


"Pendidikan itu bisa sambil jalan dengan kita berumahtangga, Sindy. Daripada kita salah langkah dalam menjalin hubungan, mendingan kita halalkan hubungan kita, jadi kalau kita mau lakukan apapun sudah tenang tanpa beban.


Mau cium ok, mau bercinta boleh, mau hamil apa lagi. Semuanya serba halal tanpa beban." Ucap Mariam.


"Reno juga belum siap untuk menikah, mbak. Karena dia menunggu ayahnya memberikan ia perusahaan untuk ia kelola sendiri, syaratnya harus dapat S2."


"Bukankah keluarga kalian orang mampu?" Mengapa mempersulit keadaan kalau pada akhirnya apa yang dimiliki orang tua menjadi milik kalian. Kalau bisa mintalah pada ayah Hendra supaya diadakan pertemuan keluarga untuk membahas pernikahan kalian. Tunangan itu hanya sifatnya mengikat bukan mensahkan sebuah hubungan." Ujar Mariam yang tidak ingin adik iparnya terjerat manisnya dosa.


"Baiklah mbak Mariam, terimakasih untuk nasehatnya. Nanti Sindy akan bicarakan dengan ayah dan bunda." Ucap Sindy.


"Ayuk, kita turun ke bawah. Mbak mau lihat keadaan mansion ini." Pinta Mariam.


"Bunda punya kebun bunga dan buah di belakang rumah, ayo mbak kita lihat." Ajak Sindy pada kakak iparnya.


Mariam dengan senang hati menyambut ajakan adik iparnya. Kebetulan Maria sangat hobi dengan tanaman. Kebetulan yang mengasyikkan.


Ketika keduanya menuruni anak tangga, bunda Andara memanggil keduanya untuk menyicipi kue dan roti yang baru di buat chef Yana.


"Wah, enak sekali bunda." Ucap Mariam yang baru mencoba kue olahan baru yang belum pernah di makannya.


"Mariam, tugasmu di sini hanya melayani suamimu. Jangan memaksakan diri dengan hal-hal yang akan menganggu kamu yang sebentar lagi akan hamil.


Rumah ini sangat merindukan suara tangis bayi, jadi bunda harap kamu segera hamil, sayang.


Jika kamu ingin bekerja, kerjalah di rumah sakit kita, karena rumah sakit kita masih kekurangan tenaga medis." Ucap dokter Rendra.


"Insya Allah bunda, saya akan mengikuti saran bunda. Terimakasih sudah meringankan tugas saya sebagai menantu di rumah ini." Ujar Mariam santun.


"Jika ada masalah, diskusikan bersama-sama Mariam, jangan di pendam di hati, apa lagi harus curhat pada siapa saja tentang keluarga suamimu." Ujar bunda Andara.


Mariam hanya mengangguk lalu mengambil air putih untuk ia teguk.


"Bunda, Sindy mau ajak mbak Mariam melihat taman bunga dan kebun buah milik bunda. Boleh ya bunda?" Pinta Sindy yang sudah kenyang dengar nasehat ibunya walaupun itu untuk menantunya.


"Ya sudah silahkan sayang!" Tapi jangan ngajak bercocok tanam ya." Titah bunda Andara.


"Siap bos!" Sindy menarik tangan kakak iparnya yang masih bengong dihadapan bundanya.


Keduanya berjalan cepat menuju taman bunga.

__ADS_1


Mariam melihat hamparan beranekaragam bunga yang ditanam oleh ibu mertuanya.


Ia sangat mengenal semua jenis tanaman baik itu bunga lokal maupun bunga luar negeri.


__ADS_2