
Rendra mengisap benda kenyal coklat yang terdapat di ujung bukit kembar Sindy.
Begitu pula dengan bagian bawah perut Sindy yang memancingnya untuk mendapatkan biji kenyal diantara belahan paha Sindy.
Tidak puas dengan di sofa, Rendra menggendong tubuh Sindy dan menghempaskan tubuh mulus itu di atas ranjang empuk itu.
Rendra kelihatan marah dan kecewa kepada Sindy dan Mariam yang telah menjebak dirinya.
Amarah Rendra di lampiaskan pada tubuh Sindy. Bukit kembar Sindy di remas dengan kasar. Bibir Sindy di pagut dengan kuat.
Rendra mengambil tali kabel cash ponselnya mengikat kedua tangan dan kaki Sindy dengan di rentangkan begitu lebar.
Rendra kembali menyiksa tubuh Sindy dengan mengigit milik Sindy.
Sindy mulai paham bahwa saat ini Rendra sedang marah kepadanya dan juga kepada Mariam.
"Sindy, ceritakan bagaimana kamu di perkosa oleh tiga lelaki itu?" Apakah kamu juga menyenangkan milik mereka dengan mulutmu, hmm?" Rambut Sindy ditarik ke belakang.
Sindy hanya merasakan sakit yang luar biasa pada rambutnya yang di jenggut dengan kasar oleh Rendra.
"Ceritakan Sindy atau aku akan membawa tiga lelaki itu untuk memperkosamu lagi di depanku!" Teriak Rendra di depan wajah Sindy.
"Kalian kakak adik sama-sama bre*sek. Yang satu menjebakku dengan CCTV dan kamu menjebak aku dengan tubuhmu." Ucap Rendra dengan mata menyalang.
"Sindy apakah kamu tidak mendengarkan aku?" Ceritakan kepadaku bagaimana...?"
"Iya mas Rendra!" Tolong jangan pukul lagi Sindy. Aku akan menceritakan semuanya pada mas." Ucap Sindy terbata-bata.
"Cepat ceritakan!"
"Mereka memaksaku melayani mereka."
"Bagaimana awalnya itu terjadi?"
"Saat itu, aku dan Reno sedang menonton film dewasa. Saat melihat adegan yang mendebarkan yang permainannya bertiga, tiga lelaki dan satu perempuan.
Entah kenapa, aku berujar pada Reno," enak kali ya Reno kalau main bertiga begitu."
Ternyata Reno membuktikan fantasiku, dia menghubungi dua orang teman akrabnya dengan. membawa minuman keras.
"Awalnya aku tidak tahu kalau mereka memiliki niat jahat padaku. Setelah dua temannya datang mereka minum bersama dan mengajak aku nonton lagi adegan yang sama.
__ADS_1
Di saat itulah mereka memaksaku untuk melakukan adegan itu." Ucap Sindy ketakutan.
"Berarti semua itu di lakukan suka sama suka bukan?" tanya Rendra dengan bentakan.
"Iya mas!" Ucap Sindy.
"Astaghfirullah!" Aku sudah menjebloskan mereka dengan tuduhan palsu." Gumam Rendra membatin.
"Kamu tahu, kehidupan orangtuanya Reno saat ini?" Mereka bangkrut. Mereka pulang kampung dan tinggal di rumah warisan ayahnya Reno di Solo. Mereka kembali menjadi petani kecil. Masa depan Reno hancur. Semua itu gara-gara akal bulusmu yang telah menipu kami.
"Aku dan ayah Hendra menghabiskan uang kami untuk menyewa pengacara dengan bayaran mahal agar bisa menjatuhkan hukuman berat kepada mereka. Semua itu gara-gara fantasi liarmu." Ucap dokter Rendra lalu menghancurkan semua isi kamarnya.
Sindy makin tersudut, hatinya sangat sedih karena sudah menghancurkan hidup orang lain.
"Sekarang kamu juga telah menghancurkan rumah tanggaku dan sengaja memancing Mariam untuk menyaksikan percintaan panas kita.
"Kamu benar-benar wanita iblis." Ucap dokter Rendra lalu kembali menyiksa tubuh Sindy.
"Aku yang akan memperkosamu Sindy dengan cara lebih brutal." Ucap dokter Rendra dengan memasuki tubuh Sindy dengan kasar.
"Besok keluar dari apartemen ku, dan kembali ke mansion ayah!"
Sindy bangkit dan keluar dari kamar Rendra menuju kamarnya.
"Siapa suruh kamu keluar," Ucap Rendra dengan menarik lengan Sindy dan mendorong tubuh itu ke kasur.
"Bukankah mas Rendra barusan mengusir aku?" Tanya Sindy hati-hati.
"Layani aku sampai pagi lalu kamu boleh pergi dari apartemenku." Ucap Rendra.
Seperti permintaan Rendra, sindy melakukannya sebaik mungkin dan tidak mengijinkan dirinya istirahat walau sejenak pun.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Tiga bulan kemudian, dokter Rendra mencabut tuntutannya pada Reno dan kedua temannya. Mereka di bebaskan dari penjara setelah mendekam dua tahun di penjara.
"Silahkan keluar, anda bebas saudara Reno!" Ucap sipir penjara.
"Bukankah hukuman aku masih lama pak?" Tanya Reno tidak percaya.
"Tuan Rendra Kusuma telah mencabut tuntutannya pada kalian bertiga. Ini ada titipan dari tuan Rendra." Ucap kepala sipir itu.
__ADS_1
Reno membuka kotak titipan itu dan melihat ada banyak uang di dalamnya.
"Lakukan apapun dengan uang itu!" Tulis dokter Rendra pada secarik kertas untuk Reno. Di dalamnya ada foto bayi kembar milik Reno.
Reno menangis melihat bayinya yang sangat tampan dan sangat mirip dengannya. Foto itu terakhir di kirim oleh nyonya Widya sebelum istrinya melahirkan.
"Ya Allah putraku sangat tampan. Ayah akan menjemput kalian sayang dan menikahi ibu kalian." Ucap Reno.
Reno langsung bersujud syukur karena bukan hanya bebas dari penjara lebih cepat tapi ia juga mendapatkan bantuan dari dokter Rendra.
Reno langsung memesan tiket kereta, membeli baju dan membuka rekening untuk menabung uang yang diberikan oleh dokter Rendra sekitar lima ratus juta.
Iapun membelikan baju untuk kedua orangtuanya.
"Aku harus hidup hemat dan merintis usaha apa saja supaya aku bisa berhasil. Dengan begitu aku akan menjemput putra kembarku. Aku sangat merindukan kalian sayang." Ucap Reno lalu menatap wajah bayi kembarnya di selembar foto itu.
Sekitar beberapa jam Reno sudah tiba di solo dan mendatangi kedua orangtuanya.
Sementara di Jakarta, dokter Rendra menyetujui gugatan cerai istrinya.
Sidang perceraian pertama di hadiri masing-masing pengacara dan sidang pemutusan perceraian baru Mariam hadir di pengadilan itu.
Mariam masuk ke ruang pengadilan dengan berpakaian muslim lebih modis. Wajahnya makin cantik karena perawatan kecantikan yang dilakukan tiap Minggu bersama mamanya.
Dokter Rendra melirik sekilas wajah istrinya dan ia kembali menatap wajah hakim agung yang akan memutuskan perceraian mereka.
Setelah dibacakan segala macam putusan perceraian dengan hak-hak keduanya. Ketiga anaknya di jatuhkan pada Mariam. Mariam sangat bahagia dan ia pun keluar dari ruang pengadilan negeri Jakarta Selatan dengan menarik nafas lega.
Dokter Rendra berjalan melewati Mariam tanpa tegur sapa pada ibu dari ketiga anaknya itu. Ia hanya mencium ketiga buah hatinya dan menggendong sebentar ketiganya.
"Mengapa dia begitu dingin padaku hingga tidak ada penyesalan sama sekali di wajahnya." Gumam Mariam lirih.
Begitu pula nyonya Widya, bibi Ijah dan bibi Luky menatap gaya dokter Rendra yang sangat cool.
Mariam berjalan menuju mobilnya. Ketika hendak membuka pintu mobilnya, dokter Rendra menarik tubuh Mariam dan membawa masuk ke dalam mobilnya.
"Lepaskan aku!" Mariam menampar wajah mantan suaminya itu.
Rendra menjalankan mobilnya meninggalkan area gedung pengadilan.
"Apa yang kamu lakukan?" Turunkan aku di sini bang Rendra!" Teriak Mariam.
__ADS_1