
"Sekarang kamu bisa lega karena telah bertemu dengan putrimu lagi, tapi apakah kamu bisa menjelaskan kerumitan masalah ini padanya?" Tanya tuan Arkana.
Duaaarrr...
"Ya Allah, aku tidak memikirkan, apa yang harus aku katakan kepadanya. Bagaimana mungkin dia datang dengan Rendra untuk bulan madu tapi malah mendengar cerita pelik ini di saat dia sedang hamil muda.
Tapi, dia sudah mendengar cerita sebenarnya antara dia dan Rendra tertukar saat bayi." Ucap Nyonya Widya.
"Ingat sayang!" Bukan tertukar tapi sengaja ditukar, kamu harus bisa bedakan itu." Ucap Tuan Arkana meralat perkataan istrinya.
"Maaf sayang!"
Mariam mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan oleh mamanya dan juga ayah tirinya. Tapi ia enggan membuka matanya, apalagi menanggapi ucapan ibunya.
Hatinya sangat sakit mengetahui kebenaran antara ia dan suaminya tenyata saudara sepersusuan.
"Sebaiknya kita keluar sayang, biarkan Mariam tidur." Tuan Arkana mengajak istrinya ke kamar mereka.
Sepeninggalnya kedua orangtuanya dari kamarnya, Mariam membenamkan wajahnya di dalam bantal. Menumpahkan air matanya yang sempat tertampung di kelopak matanya.
Rasanya sangat sulit menerima kenyataan ini ditengah dirinya sedang mengandung anaknya Rendra.
"Ya Allah, saat aku bermunajat kepadamu, meminta petunjuk siapa jodohku, aku di perlihatkan olehmu jodohku adalah bang Rendra. Apakah aku salah menyimpulkan mimpiku hingga tiga kali dia yang selalu datang padaku.
Hatiku lebih condong kepadanya walaupun aku tahu awalnya dia adalah lelaki breng**k yang jauh dari agamaMu.
"Ya Allah, aku tidak bisa menyelesaikan ujian ini kecuali Engkau yang akan memberikan petunjuk kepadaku." Pinta Mariam dalam doanya.
"Abi, Ummi, kalau saja kalian belum meninggal dunia mungkin, aku akan menanyakan langsung pada kalian, apakah ummi pernah menyusuiku selama aku bayi?" ....hiks...hiks.
Bagaimana dengan nasib pernikahan aku ummi?" Sekarang bang Rendra di pulangkan ke Jakarta bersama dengan ayahku, ayah kandungku. Sementara ibu kandungku bersama denganku di rumahnya." Mariam bermonolog.
__ADS_1
Di hotel, Rendra merasa sangat syok, malu, marah dan sangat sedih.
Wanita yang dinikahinya, yang dipilihnya menjadi istrinya, untuk menuntunnya ke jalan yang benar, justru dipermainkan oleh takdir karena keserakahan seorang nenek tua yang selama ini sangat mencintainya.
Ia sangat malu pada Mariam, yang menjalani hidup sederhana, di singkirkan dari orangtua kandungnya hanya karena ia lahir sebagai seorang perempuan.
"Apa artinya warisan kekayaan, jika kebahagiaan sudah direnggut darimu sejak kamu hadir di dunia ini Mariam.
Aku yang menggantikan tempatmu, bahkan aku menolak ayahku sendiri yang saat itu sedang bertahan hidup demi menunggu pertolongan dariku sebagai dokter.
Tapi, apa yang aku lakukan?" Aku malah memikirkan kesenanganku ketika menatap wajah cantik Mariam yang akan melakukan apa saja asal bisa menyembuhkan ayahnya.
Tapi, Mariam mempertahankan iman dan kehormatannya demi ketakutan akan azab Tuhannya.
Sedangkan ayahku mati sia-sia karena aku terlalu lama mengabaikan dirinya. Maafkan aku ayah.
Pantas saja, hatiku merasakan sangat sakit melihatmu meninggal malam itu. Aku merasakan ada suatu ikatan antara kita berdua, tapi aku tidak tahu hubungan kita ini apa.
"Mariam, apakah kita tidak akan bertemu lagi?" Tapi aku juga malu bertemu denganmu. Aku mengambil semua milikmu.
Orangtuamu, kasih sayang mereka, rumah, beberapa rumah sakit yang hampir ada setiap kota besar di negara ini. Sedangkan kamu seorang anak petani ladang teh dan sayuran yang ada di desamu. Aku juga pernah melecehkanmu, tapi pada akhirnya aku jatuh cinta padamu Mariam." Rendra bermonolog di kamar hotelnya.
Bunyi bel kamarnya berdering, Rendra bangkit dengan langkah gontai melihat siapa yang datang.
Iapun membuka pintu kamarnya dan ternyata itu adalah ayahnya, tuan Rendra.
"Rendra, ayah sudah pesan tiket pesawat untuk kita pulang bersama ke Jakarta. Sekarang bersiaplah karena tiga jam lagi pesawat kita berangkat." Ucap tuan Hendra.
"Tuan bukan ayahku dan tuan adalah ayah kandung dari Mariam." Ujar Rendra membuat tuan Hendra tersentak.
"Mungkin secara biologis, aku bukan ayah kandungmu, tapi secara hukum, kamu tetap anakku Rendra." Ucap tuan Hendra bijak.
__ADS_1
"Apakah kita tidak bertemu lagi dengan Mariam?" Apakah pernikahan ku harus segera dibatalkan demi hukum?" Ini sangat menyakitkan, ayah. Aku harus mengetahui kenyataan aku dan Mariam adalah saudara sepersusuan." Tangis Rendra kembali pecah.
"Hukum Islam sudah mengatur segala sesuatunya secara baik dan benar dan wajib kita ikuti karena itu adalah bentuk ketakwaan kita kepada Allah. Ayah juga sudah curiga ketika melihat wajah Mariam yang sama persis seperti wajah Widya.
Yang ayah sesalkan, saat ayah meminta Widya hadir dalam pernikahan kalian, justru Widya menolaknya tanpa memberi kesempatan aku untuk menjelaskannya tentang Mariam.
Tapi, sekarang nasib sudah terlanjur menjadi bubur, kita bisa apa Rendra. Ayah harap kamu bisa melupakan Mariam dan mencoba mencari wanita lain untuk menggantikan putri ayah di hatimu." Ucap tuan Hendra dengan berat hati.
Tuan Hendra tidak tega melihat putra angkatnya terpuruk menghadapi kenyataan pahit ini. Tapi sebagai muslim, ia harus menyadarkan Rendra atas kesalahan yang mereka perbuat walaupun pada awalnya mereka tidak tahu.
"Semoga banyak keluarga lain di luar sana, tidak mengalami seperti yang aku alami ayah." Ucap Rendra sambil mengusap air matanya.
"Itulah mengapa perkenalan keluarga itu penting saat meminang. Menanyakan bibit, bebet dan bobot juga sangat penting untuk menghindari tindakan yang salah.
Mungkin kasusmu dengan Mariam adalah saudara sepersusuan, tapi bagaimana dengan pasangan lain yang selalu dihadapkan dengan kenyataan mereka adalah saudara kandung, kadang seibu dan sebapak. Dan itu sangat menyakitkan." Timpal tuan Rendra.
"Ayah, jika pernikahan kami di batalkan, apakah anakku juga harus di aborsi?" Tanya Rendra kemudian.
Tuan Hendra menarik nafas panjang, lalu menjawab pertanyaan Rendra yang sulit juga ia jawab.
"Anak adalah karunia Allah, biarkan dia tumbuh hingga lahir ke dunia ini. Tugas kita adalah membesarkan dan merawatnya Rendra. Cukuplah Allah yang menjadi penentu hidup kita dosa dan tidaknya merawat anak dari saudara sepersusuan yang telanjur menikah karena tidak tahu asal usulnya." Ucap tuan Rendra.
"Baiklah ayah, tunggu aku sepuluh menit lagi, aku akan segera menemui ayah. Tapi boleh aku bicara dengan Mariam atau mama Widya?" Aku hanya ingin pamit pada mereka." Ucap Rendra.
"Lakukanlah yang menurut hatimu baik nak, tapi jangan hubungi dia berulang kali, jika mereka tidak ingin bicara padamu." Tuan Hendra mengingatkan putranya.
"Baik ayah!" Rendra menekan nomor kontak mama Widya terlebih dahulu sebelum ia bicara dengan Mariam.
"Hallo, assalamualaikum mama!"
"Waalaikumuslam, Rendra!"
__ADS_1