
Biarkan aku memanjakanmu, bang Rendra" pinta Mariam yang sama sekali tidak lagi merasa tertekan seperti sebelumnya.
Gadis itu membalik posisi tubuhnya, ia mendorong tubuh Rendra lembut, hingga punggung suaminya yang berotot itu menempel pada kasur secara perlahan, Mariam mulai menjelajahi bagian dada dan perut dokter Rendra dengan lidahnya.
Saat wajah Mariam tepat dibawah perut bagian bawah suaminya, ia menatap kotak yang tersusun rapi dengan urat-urat besar yang mengarah pada area sensitif milik suaminya.
Saat Mariam menyadari bahwa lawan mainnya ini bukan laki-laki yang mudah ditaklukkan dengan mudah, mungkin Mariam sedikit repot kali ini karena biasanya dirinyalah yang selalu menikmati setiap sentuhan dari suaminya selama tiga tahun lebih usia pernikahan mereka dulu, walaupun pada akhirnya mereka harus bercerai dan sekarang kembali bersatu.
Sebagai rasa terima kasihnya dan menebus rasa berdosanya selama ini pada suaminya, Mariam kini berusaha keras untuk membahagiakan sang suami dengan servis yang sempurna.
Mariam mulai melakukan dengan sentuhan lembut pada bagian tubuh yang paling Rendra suka dengan sepenuh hatinya. Laki-laki tampan ini pun mulai mengerang nikmat setiap sentuhan yang diberikan oleh istrinya.
"Kamu makin pintar sayang," puji dokter Rendra sambil membelai rambut Mariam yang berwarna coklat kehitaman, panjang dan sedikit bergelombang.
Mariam tersenyum mendengar pujian dari suaminya. Sebenarnya bukan hanya sentuhan Mariam saja yang hampir membuat dokter Rendra menggila, namun karena hati keduanya kini mulai menyatu tanpa ada lagi penolakan dari istrinya yang dulu sempat membuatnya gila karena sulit menaklukkan hati wanitanya.
"Eehm.."
Mariam mengeluarkan suara erotis yang manis sambil memainkan milik suaminya yang sudah tegak sempurna, di saat yang sama, mata dokter Rendra terus menatap tajam ke arah Mariam yang sedang berusaha memberikan sentuhan terbaiknya.
Semakin lama gerakan dari mulut Mariam semakin energik berirama, setelah dalam waktu yang lumayan lama, dokter Rendra mengeluarkan suara manjanya sembari meluncurkan lahar kental miliknya.
"Kamu sangat luar biasa istriku," puji dokter Rendra lalu menarik tubuh istrinya dan kembali memagut bibir sensual yang sudah membawanya terbang ke angkasa seperti pesawat yang mereka tumpangi saat membawa mereka menjelajah wilayah yang sedang menempuh jarak yang sangat jauh melewati beberapa negara untuk mencapai tujuan kota romantis sedunia, yaitu kota Paris Perancis.
"Aku tidak salah memilihmu sayang, kamu cantik bahkan sangat cantik, jenius, manja dan hebat juga dalam urusan ranjang," puji dokter Rendra sekali lagi sambil tersenyum puas menatap sayu pada wajah istrinya yang mirip artis luar negeri Gigi Hadi yang saat ini lagi melejit namanya di dunia film Hollywood.
"Mau lagi sayang?," tanya Mariam yang ingin menggoda, padahal ia tahu ini bukan bagian akhir yang diinginkan oleh suaminya.
"Jangan tanyakan itu sayang, itu sangat kejam bagiku," jawab dokter Rendra sambil menatap Mariam penuh harap dengan tatapan matanya yang sudah mulai berat dikuasai oleh gelora birahinya.
Saat itu Mariam tersenyum manja untuk membuat dokter Rendra makin penasaran akan dirinya dan membuat suaminya ini makin terbuai dalam asmara yang memabukkan yang tercipta olehnya.
Bagi dokter Rendra ini adalah kesekian kalinya ia menikmati tubuh yang sama dengan status yang berbeda karena keduanya kembali rujuk setelah enam bulan berpisah karena keegoisan keduanya.
Kali ini ia menikmati lagi milik istrinya yang masih terasa ketat dan menjepit seperti pertama kali dokter Rendra menjamah tubuh ini, entah apa yang dipakai wanita ini pada bagian int*mnya, yang membuat dokter Rendra makin terbakar dalam lautan kenikmatan yang tak bertepi.
Penyatuan tubuh ini yang dirindukannya yang mengobati jiwanya, satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya kembali merasa berharga, yang sebelumnya hampir membuatnya putus asa dan sakit hati, ketika dokter Rendra yang sulit ia obati hati wanitanya karena kebodohannya.
Sementara bagi Mariam inilah usahanya untuk memberikan kepuasan untuk sang suami tercinta. Dua hal indah yang ingin dilaluinya dan kini dirinya melakukan lagi dengan penuh kebanggaan.
__ADS_1
Mariam mengerang bersama dengan air mata yang menetes haru, ia pun terus mend**h, gelisah sambil menahan perih yang luar biasa padahal segelnya sudah pernah dibuka oleh lelaki yang sama yang telah merasakan mahkota sucinya setelah tiga tahun pernikahan mereka.
Sementara dokter Rendra yang tanpa puas dengan sensasi rasa yang sama yang pernah dirasakannya pertama kali yang memasuki gawang kegadisan istrinya, saat dirinya baru pertama kali menemukan Mariam yang sedang memohon padanya untuk melakukan operasi pada jantung ayahnya beberapa tahun yang lalu.
Bergerak dan menghentakkan dengan cepat, ia terlihat ingin menikmati rasa yang sama ini untuk pertama kalinya di pernikahan mereka.
Tiga puluh menit mengadu pinggul, hingga lahar milik suaminya kembali menyembur ke dalam rahim sucinya, lalu disusul dengan suara des*han yang manja dan terengah-engah.
"Ssst uuuhhhmmm!" Mariam berdesis, suara desisan demi desisan yang terlontar dari mulutnya, kemudian ia memeluk tubuh suaminya yang sudah dipenuhi peluh.
"Luar biasa kamu sayang! luar biasa sekali, ini seperti mimpi bagiku sayang," ucap dokter Rendra mengagumi istrinya.
"Apakah itu benar?" Tanya Mariam penasaran.
"Iya sayang dan saya sangat bahagia," tutur dokter Rendra yang memutuskan untuk duduk sambil memperhatikan lagi wajah cantik istrinya yang makin bersinar setelah menggapai surga dunia yang telah diberikan sang istri pada tubuhnya.
"Aku milikmu selamanya milikmu cintaku, oh suamiku," ucap Mariam meracau setelah mencapai puncak kenikmatan yang telah direguk dari benda pusaka dari tubuh milik suaminya.
Keduanya tersenyum puas dan bernafas lega setelah melakukan ritual ibadah yang meleburkan dosa atas ridhho Illahi.
"Sempurna!" Gumamnya seraya meletakkan tubuh yang telah diselimuti peluh disisi kanan.
Mariam
Tidak jauh dari dokter Rendra dengan mata berkaca-kaca Mariam terus menatap laki-laki dengan tubuh kekar yang sekarang sudah sah menjadi suaminya lagi, sambil tersenyum. dokter Rendra pun juga tersenyum menatap wajah istrinya yang tidak pernah membuatnya bosan menatap.
"Apakah kamu baik-baik saja sayang?" Tanya dokter Rendra sambil menatap kedua manik hitam Mariam dengan kelopak mata yang sayu.
"Iya sayang"
"Bolehkah aku melihat sesuatu dari milikmu?" Tanya dokter Rendra
"Tentu saja apapun itu," jawab Mariam
"Perlihatkan lagi milikmu aku ingin menatapnya, sampai mataku lelah.
"Hari ini aku telah menyerahkan diriku sepenuhnya padamu sayang, kau boleh melihatnya atau melakukan apapun atas diriku karena aku tidak akan lagi menghalangimu untuk melakukannya." Ucap Mariam lalu membuka lagi kedua kakinya untuk memperlihatkan bagian sensitifnya kepada suaminya.
Dokter Rendra kembali menatap bagian bawah perut istrinya, kemudian di usap dengan jarinya, kali ini dokter Rendra menyapu bagian bawah perut istrinya dengan lidahnya, menyusuri gundukan kecil bulat yang tidak di tumbuhi bulu apapun.
__ADS_1
dokter Rendra kembali menjelajahi lidahnya, menelusuri sampai bagian dalam yang tersembunyi dengan lidahnya. Mariam kembali mend*s*h, merasakan sensasi yang luar biasa dari lidah suaminya pada bagian sensitifnya, hingga membuatnya terpekik menahan nikmat yang sudah menjalari tubuhnya seperti sengatan listrik.
Ia kemudian mengeluarkan suara lenguhan itu kembali terdengar memacu adrenalin dokter Rendra untuk lebih memberikan servis terbaiknya untuk memuaskan kembali tubuh istrinya.
dokter Rendra makin menjadi menggila mendengar teriakkan erotis sang istri dengan liukan tubuh istrinya yang menggodanya untuk melakukan lebih dalam mengusai tubuh mulus itu. Mariam menggeliat diiringi erangan dan lenguhan dengan nafas yang sudah tidak beraturan.
"Ahhkk!" Bang Rendra...aku menyerah sayang." Adu Mariam yang tidak mampu lagi mempertahankan gejolak jiwanya, hingga tubuhnya bergetar hebat menjambak rambut suaminya karena merasakan kenikmatan tiada tara.
"Cukup sayang, aku sudah tidak kuat," pinta Mariam lirih dengan nafas yang tersengal-sengal setelah mendapatkan serangan dari mulut suami pada bagian bawah perutnya.
Dokter Rendra, kemudian bangkit dari perut istrinya dan memeluk tubuh itu lagi kemudian membalikkan tubuh istrinya dan mengarahkan senjata laras panjangnya ke dalam tubuh Mariam.
Hentakan demi hentakan berpacu bersama peluh yang kembali mengeluarkan aroma tubuh istrinya. Harum semerbak yang berasal dari aroma tubuh Mariam membuatnya makin terangsang, hingga akhirnya semburan itu berhasil menembak jauh lahar miliknya dalam rahim Mariam.
Dokter Rendra kemudian menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Mariam kemudian memeluk tubuh polos itu merapat masuk dalam pelukannya, keduanya kemudian tidur karena lelah setelah satu jam mereka bergumul.
Waktu subuh mulai menyapa penghuni bumi, dari jauh terdengar sayup-sayup kumandang adzan menggema berasal dari ponsel mereka, Mariam bangkit membersihkan dirinya kemudian berwudhu membasuh setiap anggota dalam rukun wudhu. Dia tidak lupa membangunkan suaminya, dokter Rendra yang belum bisa menahan rasa ngantuknya kembali tidur.
Mariam mengguncang tubuh suaminya kembali, dokter Rendra akhirnya bangkit melangkahkan kakinya ke kamar mandi dengan langkah sedikit gontai.
Mariam sudah menyiapkan perlengkapan sholat untuk suaminya kemudian mereka melakukan ibadah sholat subuh berjamaah pertama kali sebagai suami istri. Usai sholat subuh Mariam menyalami suaminya, dokter Rendra mengecup pucuk kepala istrinya.
"Sayang nanti setelah sarapan pagi di hotel kita cek out ya," ucap dokter Rendra kepada istrinya yang sedang merapikan kembali peralatan sholat mereka.
Dokter Rendra memilih untuk tidur lagi karena hari masih gelap. Mariam juga ikut menemani suaminya.
Alarm pun berbunyi. Mariam bangkit membangunkan suaminya untuk melakukan aktivitas lain. Dokter Rendra segera mengerjapkan matanya karena ponselnya juga ikut menggema nama panggilan alarm dengan sebutan Mariam.
Waktu sekarang menunjukkan pukul tujuh pagi.
Mariam tersenyum mendengar alarm dengan sebutan namanya.
Sekarang ia baru mengerti bahwa dokter Rendra sangat mencintainya.
"Sayang kita sholat dhuhur nanti berjamaah yuk!" Bisik Mariam lirih diikuti anggukan suaminya.
Mariam mencium punggung tangan suaminya, dokter Rendra mengecup kening istrinya.
Senyum keduanya terukir indah menyambut pagi di kota romantis itu.
__ADS_1
Wajah cantik Mariam seakan menyatu dengan fajar pagi yang makin menanjak terang menapaki pagi hari.
Keduanya keluar dan duduk di teras hotel melihat taman indah yang terhampar luas di area hotel tersebut.