
Tuan Hendra melarang istrinya mengunjungi putri mereka Sindy yang saat ini berada di Istambul Turki.
"Ayah, sebentar lagi Sindy akan melahirkan. Sepertinya ia harus menjalani operasi sesar karena posisi bayinya sungsang, yang membuat ia harus melahirkan dengan cara sesar." Ucap nyonya Andara.
"Apakah kamu ingin menyambut cucumu dari hasil zinah itu?" Bukankah saat ini Mariam juga butuh perhatian kamu?" Ucap tuan Hendra.
"Mas, Mariam masih dua bulan lagi melahirkan bayinya, tapi tidak dengan putri kita, dia akan sangat merasa kesepian jika kita tidak mendampinginya." Ucapan nyonya Andara masih terlihat lembut pada suaminya.
"Itu adalah hukuman yang pantas ia terima karena tidak bisa menjaga dirinya." Ujar tuan Hendra.
"Ayah, putriku bukan wanita murahan. Tidak ada wanita normal dan sehat yang mau menyerahkan dirinya untuk diperkosa.
Jangan terlalu keras kepala dan mengesampingkan egomu demi harga dirimu. Jika kamu tidak mengijinkan aku mengunjungi putri kita Sindy, maka aku siap kita bercerai." Ancam nyonya Andara yang tidak sabar lagi menghadapi suaminya yang terus menghina putrinya sendiri.
Deggg.....
Tuan Hendra tidak menyangka, istrinya tega mengucapkan kata perpisahan demi bisa bertemu dengan putri mereka Sindy.
"Apa..?" Hanya gara-gara anak laknat itu, kamu ingin kita berpisah?" Tanya tuan Hendra gusar.
"Sekarang aku baru mengerti, mengapa mbak Widya rela berpisah dengan mas dan memilih diam hanya ingin menemukan putrinya.
Jika dia buka mulut saat itu tentang perbuatan ibu mas Hendra, mungkin reputasi keluarga ini akan hancur." Ucap nyonya Andara sengit.
Keributan yang terdengar hingga di kamar Mariam dan Rendra, membuat pasangan ini sulit untuk memejamkan mata. Keduanya harus mendengar semua pertengkaran yang saling mencela satu sama lain membuat hati Mariam terasa sangat sakit.
"Sayang, ayo kita pergi dari sini!" Aku tidak betah berada di sini hanya mendengar pertengkaran mereka." Ucap dokter Rendra yang sudah menggendong bayinya keluar dari kamarnya.
"Kita mau ke mana bang?" Ini sudah malam." Ucap Mariam.
"Kita menginap di hotel sayang." Ucap Dokter Rendra.
"Ya Allah mas, mengapa keluarga kita jadi seperti ini?"
Mariam menuruti kata-kata suaminya dan masuk ke mobil tanpa banyak protes.
"Neng Mariam dan tuan Rendra mau ke mana?" Tanya satpam rumah.
"Kami mau ke puncak!" Ujar dokter Rendra singkat.
"Hati-hati Tuan Rendra!" Ucap satpam Rasyid.
Mobil mereka sudah meluncur ke hotel, tempat mereka bulan madu dulu.
"Bang Rendra, aku kasihan sama ayah kalau bunda benar-benar meninggalkan ayah." Ucap Mariam.
"Ayah Hendra terlalu keras kepala sayang. Aku ingin melihat apakah ayah sanggup berpisah dengan dengan bunda Andara.
Dulu mama Widya yang meninggalkan dia dan sekarang perkara anak juga, bunda Andara ikut meninggalkan dirinya." Ucap tuan Rendra.
"Ya Allah, aku kira setelah ujian yang kita lewati kemarin sudah berakhir dengan bukti yang telah kita dapatkan dari Ambu Lilis.
Tapi, ujian ini belum bisa berakhir karena kondisi Sindy yang tidak kita duga akan berakhir seperti ini." Ucap Mariam sedih.
"Semuanya akan baik-baik saja, jika keluarga kita legowo dalam menyikapi setiap masalah.
Kita punya Allah yang akan memberikan kita petunjuk setiap ujian yang Dia berikan kepada kita." Ucap dokter Rendra bijak.
"Alhamdulillah, suamiku sekarang sudah lebih bijak dalam menyikapi setiap masalah. Sekarang aku lebih tenang menjalani hari-hariku sebagai nyonya Rendra." Ucap Mariam.
"Sayang sebaiknya kita beli rumah sendiri atau membeli apartemen sendiri." Ucap Rendra serius.
"Bang Rendra, aku tidak tega meninggalkan orangtuaku. Kasihan ayah." Ucap Mariam.
"Iya, aku lupa kalau ayah Hendra adalah ayah kandungmu."
"Bang, keluarga kita saat ini sedang kacau, jangan lagi menambah masalah yang tidak penting." Ucap Mariam.
"Kalau tidak, kita menyewa apartemen saja sayang, aku tidak mau pulang kerja mendapati keluargaku bertengkar tiap saat.
Aku ingin tenang dan aku tidak ingin kehamilan kamu bermasalah dengan ini semua." Ucap dokter Rendra.
"Baiklah sayang, aku menuruti saja apa katamu. Aku ingin bibi Ijah datang membantuku kalau kita benar-benar tinggal di apartemen. Mengurus tiga bayi bukan perkara yang mudah.
Belum lagi kita berdua bekerja, anak-anak butuh perhatian kita juga selama pertumbuhan mereka." Ucap Mariam.
"Iya sayang!" Lakukan yang kamu mau. Aku hanya menyetujuinya saja asalkan keluarga kita tenang, aman dan damai. Tapi untuk sementara waktu, kita menginap di hotel selama seminggu sambil mencari apartemen yang sesuai dengan kemauan kita." Ucap tuan Rendra.
Mariam hanya mengangguk sambil memejamkan matanya karena hari sudah semakin larut.
"Semoga mimpi indah sayang." Dokter Rendra mengecup bibir dan perut istrinya.
Ia juga mencium putranya Daffa dan ikut tidur di sebelah putranya.
*
__ADS_1
Dua hari kemudian nyonya Andara berangkat ke Istanbul Turki untuk menemani putrinya Sindy melahirkan. Lagi pula Sindy akan melahirkan secara sesar dan perlu persetujuan wali dari anaknya agar proses operasi sesar bisa berjalan lancar.
Tuan Hendra yang masih keras kepala memilih diam di rumahnya. Ia sudah mengetahui kalau saat ini Rendra tidak ingin tinggal bersamanya karena pertengkaran antara dirinya dan istrinya Andara.
"Semua orang telah meninggalkan aku, putriku Mariam juga telah meninggalkan aku. Beginilah nasib lelaki manula seperti aku tidak akan diharapkan lagi oleh istri dan anak-anakku." Ucap tuan Hendra lirih.
Sementara keluarga dari Reno menjual aset mereka yang tersisa dan memilih pulang kampung menempati rumah warisan orang tuanya tuan Aldi yang selama ini selalu terawat oleh penjaga istana orangtuanya Tuan Aldi.
"Ayah, mama tidak sanggup hidup di kampung dengan serba keterbatasan." Ucap nyonya nada.
"Jika kamu dulu tidak terlalu angkuh mempertahankan putramu Reno dan membiarkan ia bertanggungjawab atas kehamilan Sindy, mungkin hidup kita tidak sepahit ini mama." Ucap tuan Aldi saat berada di dalam kereta ekspres antara Jakarta -Solo.
"Penyesalan tidak ada gunanya ayah, toh semuanya sudah terlanjur. Putra kita Reno sudah menjalani hukumannya dan aset kita habis tak tersisa. Lalu apa lagi yang kita harapkan di dunia ini ayah." Keluh nyonya nada yang belum siap menjadi orang miskin baru.
"Sayang, mungkin ini teguran dari Allah, mungkin selama ini kita sudah mengabaikan kewajiban kita sebagai hambaNya yang hanya menikmati kemewahan tanpa mengingatnya.
Padahal kita tahu bahwa semua kenikmatan yang ia berikan berasal dari Allah SWT.
Usia kita sudah cukup tua untuk mempersiapkan diri mencari bekal pahala untuk menghadap Allah suatu hari nanti." Ucap tuan Aldi penuh tawadhu.
Nyonya Nada hanya diam terpaku melihat pemandangan di luar kereta yang sedang berjalan kencang.
"Aku akan bertemu dengan para tetangga kampung yang akan menghinaku karena kemiskinan ku." Gumam nyonya Nada membatin.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Nyonya Andara menumpang taksi dari bandara menuju kediaman Tuan Arkana dan nyonya Widya.
Karena sudah pernah mengunjungi rumahnya nyonya Widya, membuat ibu satu anak ini tidak bingung mencari alamat nyonya Widya.
"Itu pak rumahnya." Ucap nyonya Andara pada sopir taksi untuk berhenti tepat di depan gerbang pintu utama nyonya Widya.
Nyonya Andara menekan bel pintu beberapa kali. Seorang pelayan keluar menghampiri nyonya Andara.
"Assalamualaikum!" Sapa nyonya Andara pada pelayan itu.
"Ini saudara dari nyonya Widya?" Tanya pelayan itu.
"Siapa Latifa?" Tanya nyonya Widya dari dalam rumah.
Tidak lama nyonya Widya ikut keluar melihat tamu siapa yang datang malam-malam begini.
Betapa kagetnya nyonya Widya melihat nyonya Andara sudah berdiri di teras rumahnya.
"Apakah Sindy ada mbak Widya?" Tanya nyonya Andara.
"Kebetulan sekali, kita harus buat kejutan untuknya karena anak itu sudah lama tidak pernah tersenyum apa lagi tertawa." Ucap nyonya Widya.
"Ya Allah, putriku, betapa malang nasibmu nak." Gumam nyonya Andara membatin.
"Sindy, mama punya kejutan untuk kamu sayang." Ucap nyonya Widya menghampiri Sindy yang sedang membaca buku agama tentang fiqih milik nyonya Widya.
"Kejutan apa mama?" Tanya Sindy sambil menatap wajah cantik nyonya Widya yang menahan senyumnya.
"Silahkan masuk!" Nyonya Widya membuka pintu kamar Sindy mempersilakan nyonya Andara masuk ke kamar Sindy.
"Assalamualaikum Sindy!"
"Bundaaa!" Sindy bangkit dari duduknya langsung bersimpuh di kaki bundanya dengan Isak tangis penuh kebahagiaan.
Nyonya Andara memeluk putrinya Sindy sambil terisak. Begitu pula Sindy yang sangat terharu begitu melihat bundanya yang datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Ya Allah bunda, kenapa nggak beri kabar kepada kami, kalau bunda mau datang ke Istanbul?" Tanya Sindy.
"Sayang, nanti saja bunda cerita. Yang penting bunda sudah bisa melihat keadaan kamu saat ini." Ucap nyonya Andara.
"Nyonya Andara mau tidur bersama Sindy atau di kamar lain?" Tanya pelayan.
"Di sini saja, karena aku ingin tidur bersama putriku." Ucap nyonya Andara.
Nyonya Widya meninggalkan ibu dan anak ini untuk melepaskan kerinduan mereka.
"Bunda sendiri ke sini?" Mengapa ayah nggak ikut?" Tanya Sindy penasaran.
"Mbak kamu sedang hamil. Kalau tidak ada suaminya maka ayahmu yang menjaganya. Jadi tidak mungkin kami berdua mengunjungi kamu secara bersamaan." Ucap nyonya Andara berbohong.
"Oh iya, Sindy lupa mbak Mariam sedang hamil juga saat ini. Apakah jenis kelaminnya sudah kelihatan?" Tanya Sindy.
"Jenis kelaminnya laki-laki dan perempuan sayang." Ucap nyonya Andara.
"Alhamdulillah, pasti mama Widya sangat bahagia menantikan kelahiran cucu keduanya." Ucap Sindy pura-pura bahagia.
"Kapan perkiraan kamu melahirkan secara sesar Sindy?"
"Insya Allah, seminggu lagi bunda.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah membelikan barang-barang untuk kebutuhan bayimu?"
"Mama Widya sudah menyiapkan semuanya di kamar bayi." Ucap Sindy.
"Maafkan bunda sayang!" Kurang perhatian sama kamu."
"Tidak apa bunda, yang penting dia terbaik dari bunda yang Sindy harapkan." Ucap Sindy lalu memeluk lagi ibu kandungnya.
"Terimakasih bunda, sudah mau menemani Sindy melahirkan anak kembar Sindy." Ucap Sindy haru.
Tok..tok...Cek lek...
Nyonya Widya menawarkan nyonya Andara makan malam.
"Mbak Andara kita makan malam dulu." Pinta nyonya Widya kepada ibu sambung putrinya Mariam.
"Baik mbak Widya, kami akan segera keluar." Ucap nyonya Andara pada nyonya Widya.
Setelah beberapa saat menunggu mereka sudah menikmati makan malam bersama. Sindu kelihatan lebih lahap makannya setelah bertemu dengan ibu kandungnya.
Mereka saling bercerita satu sama lain, hingga membahas tentang hasil tes DNA milik Sindy.
Nyonya Widya menceritakan semuanya kepada ibundanya Sindy bahwa anak yang dikandung Sindy saat ini adalah anak kandungnya Reno.
Nyonya Andara terlihat biasa saja setelah mendengar siapa ayah dari cucu kembarnya.
"Mau tes berapa kali pun percuma juga karena Reno lebih memilih mendekam di penjara dari pada menikahi putrinya." Ucap nyonya Andara membatin.
Tidak lama kemudian datang seorang pemuda nan gagah bertamu ke rumah tuan Arkana.
Siapa lagi kalau bukan dokter Affan.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumuslam!"
Tuan Arkana menyambut kedatangan tamunya.
"Bisa bertemu dengan nona Sindy, tuan Arkana?"
"Sindy sedang kedatangan tamu dari Jakarta." Ucap tuan Arkana membuat Dokter Affan kelihatan kecewa.
"Apakah tamunya adalah ayah dari bayi kembarnya?" Tanya dokter Affan dengan suara lirih.
"Apakah kamu ingin berkenalan dengannya anak muda?" Tuan Arkana sedang mengerjai tamunya ini.
Dokter Affan hanya tertunduk sedih. Nyonya Andara dan putrinya keluar menemui tamu yang sedang mencari putrinya.
"Siapa dia tuan Arkana?" Tanya nyonya Andara heran.
"Ini dokter Affan, dia adalah rekan kerja saya mbak Andara. Dia sedang jatuh cinta pada putrimu Sindy." Ucap nyonya Widya sambil senyum-senyum.
Nyonya Andara menatap wajah cantik putrinya." Apakah kamu menyukai pemuda itu?" Tanya nyonya Andara dengan menggunakan bahasa Indonesia.
"Aku belum siap menerima laki-laki lain dalam hidupku bunda." Ucap Sindy.
"Kalau begitu katakan kepadanya bahwa kamu tidak menyukainya supaya dia tidak berharap banyak padamu Sindy." Ucap nyonya Andara tegas.
"Aku tidak tega mengatakannya bunda." Ucap Sindy.
"Mbak Andara, tolong pikirkan lagi perkataannya Sindy. Dia belum siap bukan berarti tidak menyukai dokter Affan.
Sindy, tidak semua lelaki mau menerima kita apa adanya. Jangan terlalu angkuh sayang, kalau pada akhirnya kamu akan menyesal telah mengabaikan cinta sejati yang ditawarkan dokter Affan kepadamu." Ucap nyonya Widya.
Mama Widya hanya menceritakan tentangku hanya sekedarnya saja, bagaimana kalau dia tahu yang sebenarnya, bukankah kita juga sudah menipunya?"
"Sindy sayang, dalam Islam, jika Allah sudah menutupi aibmu, apakah kamu ingin mengumbarnya lagi?" Kalau lelaki itu serius ingin menerima kamu sebagai istrinya, dia tidak akan peduli dengan masa lalumu.
Jadi hal baik jangan ditunda terlalu lama. Kalau kita siap tinggalkan semua mimpi buruk masa lalu itu. " Ucap Nyonya Widya.
"Jika putraku sudah lahir, aku akan mempertimbangkannya kembali mama Widya." Ucap Sindy.
"Semoga Allah memberikan kamu petunjuk yang terbaik untuk masa depan kamu Sindy." Ucap nyonya Widya.
Nyonya Andara mengerti apa yang disampaikan oleh nyonya Widya ada banyak benarnya, hanya saja ia tidak ingin putrinya menerima lelaki yang bernama Affan itu hanya terpaksa.
Setelah tuan Arkana ngobrol banyak dengan dokter Affan, pria tampan ini akhirnya pamit pulang kepada semuanya.
"Permisi Tuan Arkana, nyonya, Sindy." Ucap dokter Affan.
Sindy mengajak ibunya kembali ke kamar mereka, sedangkan nyonya Widya mengajak suaminya masuk ke kamar mereka untuk istirahat.
"Sindy, apakah kamu masih mencintai Reno?" Tanya nyonya Andara pada putrinya yang kembali murung.
Degg...
__ADS_1