PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
26. Penelusuran


__ADS_3

Keluarga kecil Rendra sedang menikmati makanan yang sudah tersaji dengan lezat untuk mereka.


Bibi Ijah dan bibi Luky menemani keduanya makan siang. Raut kebahagiaan nampak jelas diantara mereka karena hampir dua tahun tidak bertemu.


"Andai saja tuan dan nyonya besar ikut, pasti lebih seru makan siang di saung ini." Ucap bibi Ijah yang belum tahu permasalahannya.


"Apa lagi neng Sindy dan tunangannya itu juga ikut, mungkin keluarga ini makin rame ya." Timpal bibi Luky.


"Kami itu bukan dari rumah bibi, tapi kami baru pulang dari Istambul, dari rumah mama Widya." Ucap Mariam.


"Dari Istambul..?" Siapa Mama Widya?" Tanya bibi Luky bingung.


"Bibi, nanti kami akan jelaskan semuanya silsilah keluarga kami. Siap-siap saja bibi Ijah dan bibi Luky akan terkejut mendengarnya.


Ada rahasia besar dibalik pernikahan aku dan Abang Rendra. Tapi, kita harus habiskan dulu makanan ini. Aku tidak mau bahas tentang hal lain karena aku sedang rindu berat dengan masakan kalian berdua." Ucap Mariam yang lebih senang menghabiskan lauk daging gepuk dan tempe goreng dengan sambal bawang kesukaannya.


Bibi Luky dan bibi Ijah saling menatap satu sama lain. Keduanya makin bingung dan penasaran dengan cerita yang masih misterius yang akan disampaikan oleh pasangan suami istri ini.


"Neng, emangnya menyeramkan ceritanya?" Tanya bibi Ijah yang menangkap firasat buruk dari kisah ini. Tapi melihat kemesraan pasangan ini, ia tidak ingin berspekulasi hal-hal yang terdengar menyakitkan.


Rendra hanya diam dan sibuk menikmati makanannya. Tapi setenang apapun dirinya saat ini, namun hatinya mulai terusik dengan hubungan yang tidak lazim antara dirinya dan Mariam yang disebut saudara sepersusuan.


Usai makan siang, keduanya istirahat sebentar dan Mariam menyusui lagi bayinya hingga tertidur.


Mariam menidurkan putranya di dekatnya, karena mereka masih duduk di saung menikmati udara yang masih terasa sejuk walaupun sudah cukup siang.

__ADS_1


"Neng, sebenarnya ada apa sih, bibi Ijah ko jadi nggak tenang gini ya." Tanya wanita paruh baya ini.


"Bibi, apakah bibi tahu sesuatu tentang keluargaku dan kapan kalian bekerja di sini bersama ummi dan Abi?" Tanya Mariam yang memulai melakukan penelusuran kisah masa lalu dua pelayannya ini.


"Bibi Ijah anak dari ibu Eti yang awalnya bekerja di keluarga Abinya neng Mariam tapi bukan di sini namun di Bandung.


Setelah neng umur tiga tahun, bibi Ijah yang baru pulang dari Arab karena tidak mau berpisah dengan anak-anak memilih orangtuanya neng Mariam menetap di sini baru setelah itu bibi Luky juga ikut bekerja di sini.


Setelah usia neng Mariam lima tahun, umminya neng Mariam meninggal. Sejak saat itu Abi tidak ingin menikah lagi, " ucap bibi Ijah.


"Apakah ibunya bibi Ijah masih hidup?" Tanya Mariam yang ingin menemui ibunya bibi Ijah yang bernama Ambu Eti.


"Masih ada neng, tapi sudah rada pikun." Ucap bibi Ijah.


"Tapi, sesekali beliau ingat nggak dengan aktivitasnya, paling tidak apakah beliau masih melakukan sholat lima waktu." Tanya Mariam.


"Bibi Ijah, ini sangat penting untuk hubungan saya dan bang Rendra yang saat ini sedang di tuduh bahwa kami berdua adalah saudara sepersusuan." Ucap Mariam.


"Apa...?" Bagaimana mungkin kalian bisa dikatakan saudara sepersusuan?" Bibi Luky sangat syok mendengar ucapan Mariam.


"Jadi dulu tuan Hendra memiliki istri bernama Widya. Mama Widya melahirkan bayi perempuan, tapi diperintahkan untuk ditukar dengan bayi laki-laki yaitu bang Rendra.


Karena merasa bang Rendra itu bukan bayinya, maka Widya menolak untuk menyusui bang Rendra dan setelah usia bang Rendra tujuh tahun, mama Widya menggugat cerai tuan Hendra dan sibuk mencari putrinya dan hingga akhirnya ia menikah lagi dengan tuan Arkana yang berkebangsaan Turki dan mama Widya ikut menetap di Istambul, kota kelahiran suaminya.


Singkat cerita, tuan Hendra meminta aku menemui mama Widya yang saat itu di klaim sebagai ibu kandung dokter Rendra.

__ADS_1


Untuk mempersatukan ibu dan anak ini kembali, aku meminta pada bang Rendra bulan madu di Istambul. Ketika kami baru tiba disana, tiba-tiba tubuhku sangat lemah dan aku muntah sepanjang malam. Karena dehidrasi, aku di bawah ke rumah sakit dan disitulah aku bertemu dengan mama Widya.


Karena wajah kami yang sama persis kemiripannya, nyonya Widya langsung mengenali aku sebagai putrinya dan pada akhirnya hasil tes DNA mengatakan aku adalah putri kandungnya.


Yang lebih membuat beliau syok saat mengetahui kalau bang Rendra adalah suamiku. Itulah sebabnya aku dan bang Rendra dipisahkan sementara waktu dan hingga akhirnya bang Rendra mengajak aku untuk kabur dari rumah mama Widya dalam keadaan hamil tua.


Aku melahirkan di Singapura dan menetap di sana selama dua bulan dan sekarang kami berada di sini tanpa diketahui oleh kedua orangtua bibi." Ucap Mariam mengakhiri ceritanya.


"Astaghfirullah, neng sudah tahu ceritanya seperti itu, mengapa kalian nekat hidup bersama lagi?" Tanya bibi Luky sangat menyayangkan sikap pasangan ini.


"Bibi, kami yakin bahwa kami berdua bukan saudara sepersusuan. Untuk itu kami ingin tahu siapa saja yang tahu masalalu kehidupan ummi setidaknya tahu aku lahir dan melihat keseharian ummi, apakah ummi menyusui aku atau tidak. Atau mungkin saja ummi juga mengetahui bahwa aku bukan anak kandungnya." Ucap Mariam yang berharap apa yang menjadi kecurigaan keluarganya tidak terbukti.


"Sudah tahu belum tahu kebenarannya, harusnya kalian berdua tahu diri sayang." Timpal bibi Ijah.


"Kalau benar." Bagaimana kalau itu tidak terjadi, bukankah aku juga berdosa telah mengabaikan kewajiban aku sebagai istri yang seharusnya berada di sisi suamiku untuk melayani semua kebutuhannya." Ucap Mariam yang tidak ingin dipisahkan lagi dengan dokter Rendra.


"Iya juga sih neng, serba salah kalau dilihat kasus rumit seperti ini ketika kedua orangtuanya tuan dokter sudah meninggal dunia.


Satu-satunya yang harus kita telusuri para saksi hidup yang saat itu mengukuti perjalanan Abi dan ummi selama neng Mariam baru dilahirkan.


Bibi Ijah akan cari tahu dan mungkin kalian juga bisa ke Bandung, ke rumah besar Abi kamu neng Mariam, oh maaf abinya tuan dokter." Ucap bibi Ijah.


"Benar, siapa tahu ada petunjuk untuk kami di sana. Apakah rumah itu sekarang sudah kosong?" Tanya Mariam.


"Ada saudari Abi yang masih ada di sana." Ucap bibi Ijah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah semoga ada petunjuk untuk kami." Pinta Mariam penuh harap.


__ADS_2