PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
36. Menegangkan


__ADS_3

Seminggu kemudian, setelah melakukan pemeriksaan rutin pada kandungannya, dokter Widya menentukan penjadwalan operasi sesar pada Sindy yang akan di lakukan pada pukul delapan malam.


"Apakah kamu sudah siap Sindy?" nanti malam kita akan melakukan operasi sesar pada persalinanmu." Ucap Dokter Widya.


"Iya mama!" Insya Allah, Sindy sudah sangat siap. Ternyata hamil kembar itu tidak gampang. Dua kali lipat membawa beban seperti kehamilan normal. Bagaimana rasanya melahirkan secara normal?" Harus dua kali mengejan melahirkan satu persatu bayinya. Ya Allah menjadi seorang ibu tidak gampang ya." Ucap Sindy sedih.


"Sayang, kamu tidak boleh merasa sedih lagi. Kasihan bayi kembar kamu, mereka akan tumbuh dengan wajah murung." Ucap nyonya Andara yang sedang menemani putrinya.


"Sekarang kita ke kamar inap VVIP milikmu Sindy. Kamu sudah boleh menginap sekarang sambil menantikan giliran kamu di sesar." Ucap dokter Widya.


"Berarti aku masih boleh makan, mama?"


"Silahkan sayang!" Supaya tenagamu cukup kuat pasca melahirkan." Ucap dokter Widya.


"Nanti dua suster yang akan mengantarkan kamu di ruang operasi. Mbak Andara tolong temani Sindy selama operasi berlangsung." Ucap dokter Widya.


"Terimakasih mbak Widya!"


Dokter Widya meninggalkan ruang inap VVIP milik Sindy.


"Reno, andai saja kamu tidak melakukan kebodohan, mungkin saat ini kita sudah bersama menantikan kehadiran putra kembar kita." Gumam Sindy membatin.


Ucapan Sindy mengundang dua anaknya meliukkan tubuh mereka di dalam sana hingga membuat Sindy kesakitan.


"Auhhhggt!" Aduh, Ade tendangnya pelan-pelan." Ucap Sindy sambil meringis.


"Apakah mereka sedang menendang perutmu Sindy?" Tanya nyonya Andara.


"Iya bunda, dikira perut ibunya lapangan apa, saling tendang begitu." Sungut Sindy membuat bunda Andara terkekeh.


"Sindy mau makan apa?" Biar bunda belikan."


"Sindy hanya pingin makan kue dan roti bunda." Ucap Sindy.


"Bunda tinggal sebentar ya sayang." Nyonya Andara pamit pada putrinya untuk ke kantin rumah sakit.


"Ok bunda!"


Ketika nyonya Andara keluar, bunyi ponsel Sindy berdering berkali-kali. Sindy mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Ini nomor siapa?" Tanya Sindy ragu untuk menerima panggilan itu.


Sindy mematikan ponselnya lalu kembali berdzikir. Tidak lama ponsel itu berbunyi lagi dan ternyata ada pesan masuk ke ponselnya.


"Sindy, tolong angkat teleponnya sayang. Ini aku, Reno!"


Degg....


"Mana mungkin dia bisa menghubungi aku?" Bukankah dia sedang berada di dalam penjara?" Gumam Sindy membatin.


Reno menghubungi lagi Sindy. Ibu hamil ini sangat bingung untuk menerimanya. Satu tendangan lagi yang didapatkan Sindy oleh putranya yang nakal dalam perutnya seakan menyuruhnya untuk menerima panggilan itu.


"Kalian pingin dengar suara ayah kalian?" Goda Sindy pada baby kembarnya. Jawaban yang didapatkan Sindy berupa tendangan seakan setuju untuk menerima panggilan telepon ayah mereka.


"Ok, jangan tendang mami lagi ya!" Mami akan terima telepon dari ayah kalian." Ucap Sindy.


"Hallo, assalamualaikum!" Sapa Sindy dengan suara datar.


"Ada apa?"


"Waalaikumuslam Sindy!" Apa kabar sayang!" Bagaimana dengan kehamilanmu, kapan kamu akan melahirkan?" Tanya Reno dengan suara parau.


"Apa pedulimu?" Bukankah kamu tidak menginginkan kehadiran mereka?" Tanya Sindy dengan nada ketus.


"Sindy, itu bukan keinginanku, ibuku yang telah mengunciku di kamar saat aku ingin datang ke pernikahan kita."


Deggg....


Sindy tersentak mengetahui bahwa Reno sangat ingin menikah dengannya, namun ia tidak bisa datang karena ibunya.


"Sindy!" Apakah kamu sudah melahirkan sayang?" Apa jenis kelamin anak kita?" Tanya Reno penasaran.


"Sebentar lagi aku akan menjalani operasi sesar, jenis kelamin bayimu adalah laki-laki berdasarkan USG tiga dimensi." Ujar Sindy datar.


"Sindy, aku mohon maaf telah menghancurkan hidupmu. Aku dengar kamu melahirkan putra kita di Istambul Turki. Apakah benar?" Semoga kalian selalu sehat. Aku sangat merindukanmu Sindy.


Jika dikasih kesempatan, aku ingin menikahimu lagi dan merawat anak kita." Ucap Reno sambil terisak.


"Anak-anakmu akan diadopsi oleh keluarga lain. Aku akan segera pulang pasca melahirkan mereka." Ujar Sindy.


"Mereka?" Maksudmu, bayi kita kembar?" Dan mengapa mereka harus diadopsi oleh keluarga lain?" Tanya Reno penasaran.

__ADS_1


"Karena bayi kembar ini hasil pemerkosaan. Apakah kamu kira aku akan bangga merawat bayi kembar hasil pemerkosaan kamu dan kedua temanmu itu?" Teriak Sindy histeris.


"Sindy, aku mohon jangan biarkan bayi kembar kita diadopsi oleh keluarga lain. Kamu akan menyesal setelah melihat mereka tumbuh besar." Ucap Reno dengan penuh pengharapan.


"Jika kamu mau menikahi aku, mungkin semua ini tidak akan terjadi bren**k." Ucap Sindy kesal.


Ponsel di matikan secara sepihak oleh Sindy." Mengapa semua kemelut ini harus terjadi kepadaku?" Sindy kembali menangis mengenang malapetaka yang telah mengambil semua miliknya.


Bukan hanya harga dirinya yang terluka, tapi ia juga harus kehilangan kasih sayang utuh dari kedua orangtuanya.


Cek... lek!"


Nyonya Andara membawakan pesanan putrinya. Sindy buru-buru mengusap air matanya agar tidak dicurigai oleh bunda Andara.


"Sayang, kamu makan dulu ya."


Bunda Andara meletakkan kue di pangkuan putrinya. Sindy memberikan senyum yang dipaksakan kepada ibunya. Ia mengunyah setiap gigitan kue dan roti itu.


"Sayang, makanlah banyak. Mungkin beberapa jam lagi kalian berdua akan terpisah dengan mami. Mungkin mami tidak akan lagi memberikan kalian makanan." Ucap Sindy menahan kesedihannya.


*


*


Berapa jam kemudian, Sindy di jemput oleh dua dokter yang akan mendorong brangkar miliknya ke ruang operasi.


"Selamat malam nona Sindy!"


Kamu akan mengantar anda ke ruang operasi." Ucap salah satu suster.


"Baiklah Suster!"


Sindy sudah berada di kamar operasi. Dokter Widya memberikan beberapa nasehat untuk Sindy sebelum di mulai operasi.


"Sayang!" Kamu harus berdoa terlebih dahulu sebelum operasi. Banyak ucapkan istighfar." Ucap dokter Widya.


Ia lalu memberikan suntikan anastesi pada bagian tubuh Widya. Berapa menit kemudian Sindy sudah tertidur karena obat bius sudah bekerja.


Dokter Widya memimpin doa terlebih dahulu sebelum melakukan pembedahan pada bagian perut Sindy untuk mengeluarkan bayi kembarnya.


"Bismillahirrahmanirrahim!"


Sementara di Jakarta. Baik pasangan Mariam dan dokter Rendra yang sedang berzikir untuk keselamatan Sindy, di dalam jeruji besi, Reno sedang khusu melakukan sholat dua rakaat untuk keselamatan Sindy dan putra kembarnya.


"Ya Allah, aku harus terpisah dari bayi kembarku. Apakah aku bisa melihat mereka suatu saat nanti?" Tangis Reno makin menjadi. Ia mulai merasakan keterikatan emosional dengan bayi kembarnya dari kejauhan.


"Maafkan ayah kalian yang bodoh ini sayang. Ayah telah terjerat dalam godaan setan yang terkutuk. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku. Maafkan aku Sindy.


Harusnya aku tidak terpengaruh oleh rayuan teman-temanku untuk menghancurkan hidupmu. Sindy semoga kamu selamat sayang dalam operasi sesar itu." Ucap Reno.


Seorang laki-laki sepuh yang sangat sholeh menghampiri Reno yang sedang menangis di sudut ruang penjara.


"Menangislah anak muda!" Menangislah dengan penuh penyesalan, bertobatlah kepada Allah setiap saat karena pintu Rahmat Allah sangat luas untuk hambaNya yang datang memohon ampun padaNya.


"Apakah Allah akan menerima tobat ku?" Tanya Reno pada kakek tua itu.


"Kasih sayang Allah lebih besar daripada seorang ibu pada anaknya. Jangan ragukan cinta Allah pada kita dan jangan pernah putus asa pada Rahmat Allah.


Makin kamu minder dihadapan Allah, maka setan akan menutup hatimu untuk mengenal ilmu Allah." Ucap kakek tua yang bernama Lukman.


"Kakek, bolehkah aku memanggilmu kakek?"


"Silahkan nak!" Aku juga punya cucu sebesar kamu." Jadi kamu boleh memanggil aku kakek. " Ucap kakek Lukman.


"Sudah berapa tahun kakek berada di sini?"


"Empat puluh tahun." Ucap kakek Lukman.


"Apakah kakek dihukum seumur hidup?"


"Iya!"


"Apa kesalahan kakek?"


"Aku adalah seorang sopir bus, karena tidak mengetahui rem mobil akan blong saat membawa penumpang, akhirnya banyak korban jiwa dalam kecelakaan naas itu. Kadang pemilik bus hanya menerima duitnya saja tapi tidak pernah mau memperbaiki mobil yang menjadi sumber penghasilan mereka.


Orang kecil sepertiku hanya dijadikan tumbal untuk menyelamatkan nama baik pemilik bus itu." Ucap kakek Lukman penuh kesabaran.


"Kenapa hukum dunia selalu tidak adil ya kakek?" Tanya Reno.


"Karena hukum dunia bisa dibeli dan bisa di manipulasi atas orang-orang pemangku kepentingan." Ujar kakek Lukman bijak.

__ADS_1


"Jadi kakek hanya menghabiskan hidup kakek dengan beribadah?"


"Apa yang bisa kita lakukan di sini Reno?" Selain makan dan minum gratis. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan kita dari dosa selain penjara di dunia, tentunya amal ibadah kita yang harus kita perbanyak dengan belajar Alquran, membaca, mengamalkan dan menghafalnya. Walaupun masalah hidup kita belum berakhir. Tapi setidaknya kita sudah merasakan ketenangan dalam menjalani setiap ujian hidup." Ucap kakek Lukman.


"Terimakasih untuk nasehatnya kakek. Tapi kalau kakek berkenan maukah kakek mengajarkan aku bacaan sholat dan membaca Alquran?" Pinta Reno serius.


"Boleh nak, asalkan kamu mau dan bertekad kuat untuk merubah hidupmu." Ucap kakek Lukman.


Keduanya saling curhat sambil menanti azan.


Di rumah sakit Istambul Turki, operasi sesar pada Sindy berjalan dengan lancar. Bayi kembar sindy lahir dengan selamat.


Bobot bayi kembar itu masing-masing 6 kg dan panjang 52 Cm. Bayi itu langsung di azan kan oleh tuan Arkana.


Nyonya Widya dan tuan Arkana sangat bersyukur mendapatkan anugerah besar dari Allah karena mendapatkan cucu angkat dari Sindy. Bayi tampan itu di beri nama Hassan dan Husein seperti nama cucu Rosulullah.


"Selamat nyonya Andara, kamu mendapatkan cucu kembar tampan dan juga sangat sehat. Apakah kamu ingin menggendong mereka?" Tanya dokter Widya dengan wajah berbinar.


"Tidak!" Aku tidak ingin menggendong mereka." Nyonya Andara menolak dengan tegas untuk tidak mau menggendong cucunya.


"Astaghfirullah!" Gumam dokter Widya membatin.


Nyonya Andara merasa tidak siap untuk menggendong cucunya. Apa lagi Sindy belum sadar pasca operasi.


"Mengapa mbak Andara tidak mau menggendong bayinya?" Mereka tidak berdosa lho mbak. Anda yang akan berdosa mengingkari cucu sendiri. Setiap anak yang lahir ke dunia ini untuk bisa memilih rahim ibu yang mana dan bagaimana mereka bisa hadir di dunia ini." Ucap nyonya Widya ketus.


"Aku akan membawa segera membawa pulang Sindy." Ucap nyonya Andara datar.


Tuan Arkana memberi isyarat kepada istrinya untuk tidak berdebat dengan nyonya Andara.


Dokter Widya mengambil beberapa foto cucu kembarnya Hasan dan Husein untuk dikirim ke putrinya Mariam.


Mariam sangat bahagia melihat ponakan kembarnya. Begitu pula dengan dokter Rendra yang sangat bangga pada adiknya Sindy yang sudah bersedia melahirkan bayi kembar itu.


Mariam menghubungi ibu kandungnya itu dan menanyakan keadaan Sindy dan ibu sambungnya nyonya Andara.


"Hallo mama!" Bagaimana kondisi Sindy saat ini?"


"Dia belum sadarkan diri pasca operasi."


"Apakah bunda senang sudah mendapatkan cucu dari putrinya Sindy?"


"Dia sama sekali tidak ingin menggendong cucu kembarnya itu." Ucap nyonya Widya dengan suara tercekat.


"Astaghfirullah!" Kenapa bunda tega sekali. Dia lebih peduli keselamatan Sindy dan tidak memikirkan keadaan cucunya.


"Sindy akan segera dibawa pulang ke Jakarta, Mariam.


"Apa...?" kenapa secepat itu mama?" Kondisi sindy pasti belum pulih. Orang baru di operasi sesar trus naik pesawat, sakitnya itu lho yang Mariam kuatirkan. Mengapa bunda tiba-tiba egois begitu?" Mariam sangat geram dengan ibu sambungnya itu.


"Ya sudah mama, titip cium yang banyak untuk ponakan kembarku yang tampan. Insya Allah, kalau Mariam sudah melahirkan, kami akan berkunjung ke Istanbul untuk melihat baby kembar jagoan ayah Arkana." Ucap Mariam dengan berkaca-kaca.


"Ada apa sayang?" Kenapa kamu menangis?" Tanya dokter Rendra.


Mariam menceritakan apa yang terjadi antara bunda Andara dan cucunya.


"Melihat tingkah bunda Andara, semakin membuat aku bertekad untuk membeli apartemen sendiri.


Dua hari lagi kita bisa menempati apartemen kita sayang." Ucap dokter Rendra sambil mencium perut istrinya.


Mariam hanya bisa mengangguk. Ia juga mulai kurang suka dengan dengan ibu sambungnya yang tidak punya hati sama seperti ayah kandungnya.


"Ya Allah, kenapa keluargaku jadi hancur berantakan begini?" Keluh Mariam membatin.


"Tidak usah memikirkan orang lain, sayang. Kamu harus fokus pada kelahiran bayi kembar kita nanti. Dua bulan lagi mereka akan hadir di dunia menemani Abang Daffa yang sudah ingin bermain bersama mereka." Tutur dokter Rendra menghibur istrinya yang tiba-tiba murung.


*


*


Tiga hari kemudian, Sindy sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Widya. Sindy memang belum menghasilkan ASI, tapi Sindy di larang oleh bundanya untuk menggendong bayinya bahkan tidak di perkenankan untuk melihat bayinya saja.


"Sindy, tugasmu di sini hanya melahirkan mereka bukan untuk menggendong apa lagi menyusui. Kita sudah sepakat dari awal ku hamil, bahwa bayimu akan di adopsi oleh tuan Arkana dan nyonya Widya. Bunda sudah memesan tiket pesawat untuk kita kembali ke Jakarta hari ini juga. Kita akan langsung ke bandara bukan ke rumah mama Widya." Ucap nyonya Andara sangat tegas.


Deggg...


"Tapi, bunda aku belum melihat wajah bayiku." Protes Sindy yang sedang duduk di atas kursi roda.


"Tidak perlu. Itu akan menganggu pikiranmu. Anggap saja mereka tidak ada dan kamu tidak pernah mengandung dan melahirkan mereka." Ucap Nyonya Andara murka.


"Astaghfirullah, ya Allah. Mama Widya rela menceraikan ayah Hendra hanya karena ingin bersama putrinya yang tidak bisa ia temukan. Sekarang mengapa bunda menghukum aku untuk tidak boleh menemui putra kembarku hanya sebentar saja!" Teriak Sindy histeris.

__ADS_1


__ADS_2