PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
41. Amarah


__ADS_3

Tanpa mempedulikan permintaan Mariam, dokter Rendra membawa Mariam ke apartemen milik mereka.


"Aku tidak mau menginjak lagi kamar apartemen itu." Ucap Mariam.


"Duduk!" Titah dokter Rendra.


"Tidak!" Aku mau pulang!"


"Kalau sejak awal kamu ragu kepadaku, mengapa kamu mau menerima aku Mariam?"


Aku memang lelaki bejat, aku tidur dengan banyak wanita, harusnya kamu menolak menikah denganku. Jangan ketika kita sudah berumah tangga, kamu memasang kamera di manapun hanya untuk mengawasi gerak-gerik aku.


Sekarang kamu tidak akan lagi berurusan dengan lelaki bejat ini karena sudah meniduri adikmu yang pelacur itu." Ucap dokter Rendra.


Kami memang sama-sama manusia hina yang tidak sederajat denganmu yang maha suci.


Jika kamu tidak menolak melayani aku saat kamu masih hamil, mungkin hatiku tidak akan takluk pada tubuh Sindy.


Mariam sangat malu akan perbuatannya pada mantan suaminya yang telah memata-matai perbuatan suaminya.


"Itu sebabnya kamu mengabulkan perceraian kita?" Tanya Mariam.


"Untuk apa mempertahankan pernikahan dengan banyak kepalsuan di dalamnya Mariam.


Aku tidak sebaik pria alim yang ada di dalam impiamu. Jadi sekarang kamu bisa mendapatkan lelaki terhormat yang hampir mendekati seorang malaikat." Ucap dokter Rendra.


"Maafkan aku bang Rendra. Terimakasih atas pengakuanmu. Kalau begitu aku pamit dulu." Ucap Mariam lalu bangkit dari duduknya.


Ia berjalan menuju pintu utama. Dokter seakan tidak rela berpisah dengan istrinya. Ia kemudian menarik jilbab Mariam sehingga leher dan rambut Mariam terlihat jelas oleh dokter Rendra.


Dokter Rendra menarik pinggang Mariam agar lebih dekat dengannya lalu memagut bibir Mariam.


Mariam berusaha menolak dan menjauhkan wajahnya dari wajah dokter Rendra.


"Lepaskan!" Kita sudah bercerai bang Rendra, ingat itu!" Kita sudah haram bersentuhan.


"Siapa bilang kita haram bersentuhan?" Bukankah kita masih talak satu?" Itu berarti kita berdua bisa rujuk sebelum melewati masa Iddah. Apakah kamu tidak tahu itu?" Tanya Rendra dengan terus mendesak istrinya hingga jatuh ke sofa.


Dokter merangkul tubuh itu dan menggendong tubuh Mariam membawa masuk ke dalam kamar mereka.


"Jangan bang!" Aku tidak mau!" Tolak Mariam.


"Tidak! aku harus bercinta denganmu, agar perceraian ini gagal.

__ADS_1


Sekuat apapun Mariam berontak, milik Rendra sudah memasuki miliknya. Sirna sudah harapan Mariam untuk bisa bercerai dari Rendra.


Dokter Rendra memeluk tubuh istrinya kembali dan meminta maaf kepada Maryam karena telah mengecewakan Mariam.


"Sindy akan menikah dengan Reno. Aku sudah membebaskan Reno dan dua temannya. Reno tidak sepenuhnya bersalah karena perbuatan itu berdasarkan suka sama suka bukan perkosaan seperti yang dituduhkan Sindy kepada Reno dan kedua temannya." Ucap dokter Rendra.


"Mengapa kamu tidak menikahi Sindy?" Padahal kamu sudah menidurinya berkali-kali." Tanya Mariam.


"Aku tidak mencintainya, aku lebih mencintaimu." Apakah kamu masih mencintaiku?" Tanya Rendra yang masih memeluk Mariam dengan erat.


Mariam tidak ingin menjawab. Dia juga bingung menjawab pertanyaan suaminya.


"Entahlah, apakah aku mencintaimu atau tidak." Ucap Mariam.


"Kalau kamu benar-benar tidak mencintaiku, silahkan pergi dari sini." Ucap dokter Rendra.


"Bren*sek!" Kenapa dia terus mempermainkan perasaanku!" Umpat Mariam dalam hati.


"Katanya suruh keluar dari sini, kenapa tubuhku masih di kekap seperti ini." Gumam Mariam lagi.


"Kenapa tidak mau pergi dari sini?" Tanya dokter Rendra.


"Bagaimana bisa pergi kalau kamu memeluk aku seperti ini?"


Satu langkah saja kamu beranjak dari kamar ini. Aku akan menjatuhkan talak tiga kepadamu!" Ancam dokter Rendra tidak main-main lagi saat ini.


Nyali Mariam menjadi ciut. Ia merasa sangat serba salah pada sikap Rendra.


"Kenapa aku jadi payah seperti ini. Bukankah aku sudah bertekad meninggalkannya. Ya Allah apa yang mesti aku lakukan?" Ucap Mariam sambil memakai lagi hijabnya.


Dokter Rendra memperhatikan istrinya. Ingin rasanya dia mengikat tubuh Mariam di tempat tidur, tapi ia tidak ingin menyiksa wanita yang sangat ia cintai. Kesalahan Mariam hanya satu, yaitu meragukan cinta dan kesetiaannya.


"Mengapa tidak mau pergi?" Apakah kamu sangat mencintaiku, hmm?" Dokter Rendra meraih dagu istrinya.


"Mariam, jawab pertanyaan aku sayang, apakah kamu mau menerima lelaki bejat seperti aku?"Walaupun aku telah meniduri adikmu Sindy berkali-kali?" Apakah kamu rela menikah dengannya?" Tanya dokter Rendra lagi sambil melihat bola mata indah milik istrinya.


Mariam hanya bisa menangis. Ia tidak sanggup menolak cinta lelaki yang telah memberikannya tiga anak.


"Aku mencintaimu bang Rendra, aku sangat mencintaimu bang Rendra." Ucap Mariam sambil menangis.


"Tapi aku tidak mau lagi dikhianati oleh kamu. Aku begitu takut melihat kamu kembali ke jalan yang salah." Teriak Mariam.


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih sayangkuh. Aku berjanji tidak akan lagi mengkhianatimu, beri aku kesempatan kedua." Pinta dokter Rendra.

__ADS_1


"Bagaimana kalau bang Rendra kembali berselingkuh?"


"Kita akan mengakhiri hubungan ini, untuk selamanya" Janji dokter Rendra.


Dokter Rendra melu*at bibir istrinya dengan lembut. Percintaan panas kembali terjadi. Keduanya akhirnya kembali rujuk


Sementara keluarga Mariam sedang bingung mencari Mariam ke manapun.


"Mobilnya masih ada tapi kenapa orangnya hilang?" Tanya nyonya Widya.


Tuan Arkana yang sempat melihat dokter Rendra membawa pergi Mariam, sengaja tidak mau memberi tahu istrinya.


Ia ingin Mariam dan Rendra tetap melanjutkan pernikahan mereka sampai akhir masa.


"Ayah, kenapa diam saja?" Orang lagi sibuk cari Mariam kenapa tidak ikut mencari putrinya." Nyonya Widya merajuk pada suaminya.


"Sayang, saat ini putrimu sedang bulan madu lagi dengan suaminya. Mungkin sebentar lagi kita akan memiliki banyak cucu." Ucap tuan Arkana lalu masuk ke mobilnya.


"Apa..?" Maksud ayah saat ini Mariam dan Rendra sedang rujuk?" Tanya Nyonya Widya.


"Sayang, kita ini pernah muda, jadi kita sudah melewati yang namanya cemburu, marah, kecewa, sakit hati dan tersinggung. Itu sudah biasa. Kadang perempuan itu selalu mengucapkan setiap perkataan tidak sesuai dengan hati nuraninya.


Di tanya, apakah kamu masih mencintai suamimu?"


Pasti jawabnya tidak, padahal hatinya sedang menangis dan mengatakan aku sangat mencintai suamiku.


Ditanya apakah kamu merindukan suamimu?" Pasti jawabnya, hatiku sudah mati dan tidak ingin memikirkannya lagi, tapi di lubuk hatinya ia ingin berteriak, suamiku aku sangat merindukan kamu."


Tuan Arkana mengulangi lagi kisah percintaannya dengan istrinya Widya. Yang selalu menolak tidak tapi hatinya sangat menginginkannya.


"Ayah bisa aja jawabnya, kan belum tentu setiap hati wanita itu seperti itu." Timpal nyonya Widya.


"Sayang, kita lihat saja nanti, jika putrimu balik sendirian, berati dia memang sudah tidak mencintai suaminya. Tapi kalau dia balik di antar oleh suaminya berarti cinta mereka kembali bersatu alias rujuk." Ucap Tuan Arkana.


"Bukankah Rendra juga mencintai Sindy, buktinya mereka bisa berselingkuh." Ucap Nyonya Widya.


"Setiap perselingkuhan yang terjadi tidak selamanya berdasarkan cinta, tapi karena butuh. Rendra tidak bisa mendapatkan keinginannya dari istrinya dan Sindy menawarkan apa yang dibutuhkan Rendra sehingga perselingkuhan itu terjadi.


"Ah, ayah bisa saja membela kaum ayah. Sindy pintar menggoda lelaki dan Rendra bekas lelaki nakal. Bukankah keduanya sangat cocok jadi pasangan."


"Dengar sayang!" Sebejat-bejatnya lelaki di dunia ini, jauh dalam hatinya, ia ingin mendapatkan gadis perawan dan sangat sholeh karena pada akhirnya mereka akan jenuh dengan sendirinya pada wanita murahan walaupun wanita itu sangat cantik. "


"Tapi, apakah putriku Mariam semudah itu memaafkan kesalahannya Rendra?"

__ADS_1


"Kalau perempuan diselingkuhi suaminya, dia mudah memaafkan dan melupakan perselingkuhan suaminya karena cintanya sangat besar untuk suaminya, tapi tidak pada kami laki-laki sulit sekali memaafkan perempuan yang selingkuh dari suaminya karena itu menyangkut harga diri kami sebagai lelaki." Ucap Tuan Arkana.


__ADS_2