PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
19. Kembali ke aktivitas


__ADS_3

Widya membuka pintu kamarnya dan ternyata petugas hotel sedang menunggunya sambil membawa bingkisan untuknya.


"Ada apa pak?"


"Maaf nona, ini ada titipan dari tuan Arkana untuk anda." Bingkisan itu diserahkan oleh petugas hotel tersebut.


Widya menerimanya dengan haru." Terimakasih pak, sebentar!" Widya merogoh kantong celananya, memberikan tip untuk pelayan hotel itu.


Widya menutup lagi pintunya dan membuka bingkisan itu dengan perasaan berdebar.


"Astaga!" Widya tercengang saat melihat isi dalam bingkisan itu ternyata sebuah ponsel mewah di masa itu.


"Tuan Arkana, terimakasih atas hadiahnya yang sangat berharga ini." Gumamnya lirih sambil membuka sepucuk surat dari tuan Arkana.


"Assalamualaikum Widya!"


Selamat ulang tahun!" Jika kamu sudah menerima hadiah ini, berarti aku sudah tidak bisa menjadi milikmu karena jawabanmu yang aku harapkan tidak kunjung terjawab olehmu.


Untuk itu aku ingin memberikan hadiah ini sebagai kenang-kenangan dariku. Semoga kamu menyukai Widya. Maaf aku memberikan hadiah ini tepat di hari ulang tahunmu melalui pihak hotel karena aku tidak bisa menunggu hari ini. Selamat tinggal!" selamat menjalani hari-harimu dengan bahagia. Tolong jangan berbuat konyol lagi, tetap berdoa dan ikhtiar agar putri kecilmu bisa di temukan cepat atau lambat... aaamiin.


Jaga dirimu!" Tunaikan sholat lima waktu dan jangan pernah putus asa dari Rahmat Allah.


"Yang mencintaimu."


Arkarna."


"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh."


Tuan Arkana mengakhiri suratnya.


"Tuan Arkana...hiks...hiks..." Tangisnya pecah mendapatkan perhatian tuan Arkana yang sangat mengharapkan dirinya namun, gadis ini begitu takut mendengar penolakan dari tuan Arkana jika mengetahui ia tidak bisa mengandung lagi.


Widya membaca petunjuk penggunaan cara menggunakan ponsel keluaran terbaru di masa itu. Bukan hanya ponsel saja yang di dapatkannya, tapi kartu perdana sudah dibelikan oleh tuan Arkana dan nomor ponsel tuan Arkana sudah ada di dalam ponsel miliknya.


"Apakah aku harus menghubunginya duluan, untuk mengucapkan rasa terimakasih kepadanya. Ah, kelihatan sangat murahan kalau perempuan yang duluan menghubungi lelaki.

__ADS_1


Lagipula dia sudah tahu nomor ini, berarti kapan saja dia bisa menghubungi aku." Gumamnya lalu membereskan kardus bingkisan itu. Widya berencana akan kembali ke Jakarta karena ingin melanjutkan aktivitasnya sebagai dokter spesialis kandungan.


Keesokan harinya, dengan menggunakan penerbangan pertama, Widya sudah berada di dalam pesawat Garuda Indonesia.


"Ya Allah, aku akan kembali ke kota asalku, Jakarta. Aku ingin memulai hidup baru tanpa berharap ada cinta yang lain dari lelaki manapun karena aku tidak pantas untuk siapapun.


Aku ingin hidup untuk mencari putriku hingga nafas terakhirku. Ya Allah, tolong pertemukan kami dengan cara apapun ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku sebelum aku bertemu dengan putriku entah kapanpun itu." Doanya dalam hati.


Pesawat terus terbang melewati beberapa pulau dan propinsi hingga tiba di Jakarta dalam waktu tempuh satu jam lima belas menit.


Widya memang sudah tinggal di apartemen miliknya setelah bercerai dengan tuan Hendra.


Apartemen mewah yang berada di kawasan Kebayoran Jakarta Selatan ini yang menjadi saksi bisu dalam kesendirian Widya. Widya yang bekerja di salah satu rumah sakit dan itu bukan rumah sakit milik keluarga mantan suaminya.


🌷🌷🌷🌷🌷


Hari berlalu bulan berganti, Widya sibuk dengan aktivitasnya. Ia sebenarnya merindukan tuan Arkana ketika ia sedang off dari tugasnya. Tidak banyak yang ia lakukan di apartemen miliknya kecuali belanja, kuliner dan melakukan perawatan tubuh dan wajahnya agar tetap kelihatan cantik dan bugar.


Setiap kali menolong wanita melahirkan, ia tidak sungkan mengambil foto untuk setiap bayi dengan ibu yang baru melahirkan. Hal ini ia lakukan untuk menghindari penyalahgunaan wewenang rumah sakit itu untuk melakukan tindakan kriminal dalam pertukaran bayi yang pernah di alami oleh dirinya dan itu semua karena otoriter sang ibu mertua, yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan ambisinya memiliki cucu lelaki.


Para suster yang membantunya sedikit heran dengan ulah dokter Widya yang tidak pernah mereka lihat pada dokter spesialis kandungan lain.


"Aku ingin mengenang momen berharga setiap kali menolong bayi dan ibunya saat mereka dipermukaan di bumi Allah." Ujar dokter Widya.


"Apakah anda kangen dengan putra anda?" Mengapa anda memilih bercerai dokter padahal tuan Hendra sangat mencintai anda dan selalu datang ke sini bersama putra anda saat anda berlibur ke Bali." Ucap Suster Ela.


"Apa?" Mas Hendra tiap hari ke sini dengan Rendra."


Suster Ela mengangguk dan merapikan semua peralatan persalinan.


"Terimakasih untuk informasinya suster." Dokter Widya meninggalkan ruang persalinan menuju ruang kerjanya.


Hatinya sangat gundah mengetahui tuan Hendra masih berusaha membujuknya untuk kembali rujuk.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mau rujuk denganmu mas Hendra jika putri kita belum ditemukan. Lagi pula aku sangat benci dengan ibu kandungmu yang begitu kelihatan tenang setelah membuang cucu kandungnya dan menjadikan cucu orang lain sebagai ahli warisnya." Geram Widya.

__ADS_1


Tok...tok...!"


"Masuk!" Teriak dokter Widya dari dalam ruangannya.


Cek...lek..


"Dokter Widya, ada yang mencari anda." Ucap suster Rena.


"Siapa?"


"Dia tidak ingin menyebutkan namanya dokter, apakah aku memintanya untuk menemui anda di sini?"


"Apakah dia seorang lelaki membawa seorang anak laki-laki?" Tanya dokter Widya panik.


"Tidak, orang itu seorang wanita berusia paruh baya dan dia ingin menemui anda karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan anda." Ucap suster Rena.


"Wanita paruh baya..?"


"Apakah itu ibu mertua?" Mau apa dia ke sini..?" Dokter Widya termenung sesaat.


"Dokter Widya, apakah saya boleh menyuruhnya ke ruang kerja anda?" Tanya suster Rena.


"Bilang saja aku tidak ada di tempat karena sedang menangani pasien yang sedang operasi sesar." Ucap dokter Widya lalu mengambil tasnya meninggalkan rumah sakit karena kebetulan jam prakteknya sudah selesai.


Diam-diam dokter muda nan cantik ini kabur menuju tempat parkir dan betapa terkejutnya dokter Widya ketika melihat tuan Arkana sudah berdiri di samping mobilnya dengan seorang wanita paruh baya.


"Tuan Arkana?" Gumam Dokter Widya dengan mengernyitkan dahinya menatap tajam wajah tuan Arkana.


"Assalamualaikum nona Widya!" Sapa tuan Arkana.


"Waalaikumuslam Tuan Arkana, nyonya!" Sapa dokter Widya santun dan malu-malu.


Widya menjabat tangan ibunya tuan Arkana dan menciumnya dengan penuh takzim.


"Kenalkan ini ibuku nona Widya, bolehkah kami mengunjungi rumahmu?" Tanya tuan Arkana.

__ADS_1


"Oh silahkan!" Dengan senang hati Tuan Arkana." Widya membuka pintu mobilnya untuk ibundanya tuan Arkana dan tuan Arkana membuka pintu mobil untuk Widya.


"Anda belum mengetahui apartemen milikku, bagaimana bisa anda yang membawa mobilku tuan Arkana?" Tanya Widya heran.


__ADS_2