
Sindy mengerjapkan matanya sambil memanggil bundanya Andara.
"Bunda... bunda!" Panggil Sindy lirih.
"Sayang.... Kamu sudah siuman?" Nyonya Andara mencium pipi putrinya.
"Bunda, maafkan Sindy!" Sindy sangat malu bunda...hiks...hiks..
"Sayang, kamu tidak usah kuatir dan tidak perlu takut. Kita bisa mengatasinya sama-sama." Ujar nyonya Andara menguatkan hati putrinya.
"Bagaimana caranya bunda?" Semua orang akan tahu tentangku yang hamil di luar nikah.
Aku sangat membenci Reno bunda. Dia memperkosaku dan kedua temannya ikut memperkosaku." Tangis Sindy pecah menceritakan apa yang terjadi pada dirinya tiga bulan yang lalu di kediaman orangtuanya Reno.
"Dia akan bertanggungjawab atas kamu, sayang karena dia yang menyebabkan kamu diperkosa.
"Bunda, aku ingin mengugurkan kandunganku." Ucap Sindy putus asa.
"Maafkan kami Sindy, calon janin kamu adalah kembar. Jadi kamu tidak akan melakukan aborsi kepadamu. Rumah sakit ini akan segera ditutup jika mengetahui kalian sebagai pemilik rumah sakit ini melakukan pelanggan hukum dengan melakukan aborsi ilegal." Jelas dokter Kartika secara tegas.
Sindy makin menjerit, ia benar-benar merasa sangat terpuruk dengan dirinya yang terasa sangat hina.
"Sindy, ikutlah dengan mama ke Istanbul dan kamu bisa melahirkan anakmu di sana setelah itu kami yang akan mengadopsi anak kembarmu." Ucap nyonya Widya.
"Bukankah, nanti akan jadi masalah untuk kalian berdua jika aku menetap di sana tanpa status pernikahan?" Tanya Sindy sedih.
"Sindy sayang, kami akan memastikan Reno akan menikahimu dan setelah itu kalian boleh bercerai yang penting selamatkan bayi kembar yang tidak berdosa itu." Ucap tuan Arkana.
Sindy menatap wajah ibunya. Nyonya Widya mengangguk pasrah dengan keadaan putrinya.
"Aku tidak ingin menikah dengan Reno bunda, aku sangat membencinya." Pinta Sindy dengan wajah sendu.
"Pernikahan kalian hanya untuk mendapatkan status anakmu Sindy tidak lebih dari itu karena bunda sudah tidak lagi menginginkan ia menjadi menantuku." Ucap nyonya Andara.
"Baiklah kalau itu keputusan kalian. Aku akan mengikuti kalian saja." Ucap Sindy lirih.
Mariam memeluk adik kandungnya itu yang beda ibu. Ia sangat prihatin dengan nasib adiknya yang malang.
__ADS_1
"Kamu bisa mengandalkan aku Sindy, kita ternyata saudara kandung. Kamu sudah tahu cerita tentang aku dan bang Rendra bukan?" Mariam memeluk adiknya Sindy dengan erat.
"Mbak Mariam, maafkan aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik. Aku terlalu bodoh. Andai saja aku tidak ikut ke rumah Reno saat itu, mungkin kejadian ini tidak menimpa diriku." Ucap Sindy penuh penyesalan.
"Sindy, Allah sedang mengujimu. Kamu yang dipilih Allah karena Allah tahu kamu kuat sayang. Semua keluarga mendukung kamu. Jika kamu ingin keadaan ini aman dan menyelamatkan aib ini, ikutlah dengan mama Widya." Ucap Mariam tulus.
"Iya mbak!" Ucap Sindy.
Mariam merasakan mual yang amat sangat. Ia pun segera masuk ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Mama Widya segera membantu putrinya.
"Mariam, ada apa sayang?" Apakah kamu sakit?" Mama Widya menyentuh kening dan leher putrinya dan tidak merasakan demam.
"Tidak tahu bunda, mungkin Mariam hanya masuk angin."
"Biarkan saya memeriksanya, nyonya Andara." Ucap dokter Kartika.
Mariam langsung ditangani oleh dokter Kartika. Setelah beberapa saat di periksa, Dokter Kartika tersenyum menatap wajah kelurga Mariam.
"Selamat kalian akan mendapatkan cucu kembar juga." Ucap dokter Kartika pada semuanya.
"Iya mbak Mariam, saat ini anda sedang hamil tiga Minggu." Ucap dokter Kartika.
"Terimakasih dokter!
mama, bunda, ayah kalian akan memiliki banyak cucu dari kami. Kami akan melahirkan bayi kembar empat orang cucu." Ucap Mariam tersenyum senang.
Sindy mengusap air matanya sambil berkata pada ibunya." Kehamilan mbak Mariam disambut dengan suka cita sedangkan aku, kehamilan aku disambut dengan Isak tangis yang menyakitkan."
Sindy kembali menangis, hatinya sangat hancur saat ini.
Cek.. lek!" Pintu kamar inap VVIP milik Sindy dibuka oleh dokter Rendra.
Ayah dan menantu ini masuk dengan membawa kabar baik untuk Sindy.
"Sindy, kami sudah mencabut laporan kepada Reno karena dia bersedia menikahi kamu, tapi dua temannya akan mendekam di penjara." Ucap dokter Rendra.
__ADS_1
"Kalau begitu nikahkan mereka secepatnya!" Ucap nyonya Andara.
"Dimana Reno mas Hendra?" Tanya nyonya Widya.
Dia akan datang sebentar lagi, saat ini dia sedang berdiskusi dengan kedua orangtuanya untuk pernikahannya. Sekarang dia ada di rumahnya karena orangtuanya baru pulang dari luar negeri." Ucap tuan Hendra dengan wajah datar.
Sindy sangat malu kepada ayahnya yang tidak mau melihat wajahnya sama sekali.
"Aku bersyukur putriku Mariam ditukar oleh ibuku karena dia dibesarkan oleh ayah Rendra dengan agama Islam yang kuat sehingga putriku tumbuh dengan akhlak yang mulia. Tidak seperti gadis ini yang tidak tahu malu.
Dia bahkan telah merendahkan martabat keluarga." Teriak tuan Hendra kepada putri keduanya Sindy.
"Ayah, tidak ada satu wanita pun yang ingin diperkosa oleh lelaki manapun. Anakmu tidak berniat menghancurkan hidupnya dengan menyerahkan tubuhnya pada laki-laki." Ucap nyonya Andara dengan suara tinggi.
"Ayah, cukup ayah!" Malu kalau kedengaran oleh orang lain." Pinta dokter Rendra yang menenangkan ayah mertuanya.
"Mas Hendra, kita juga saat ini mendapatkan lagi cucu dari Mariam dan Rendra. Saat ini Mariam sedang mengandung bayi kembar." Ucap Nyonya Widya.
"Apa, Mariam hamil?" Dokter Rendra menghampiri istrinya lalu memeluk Mariam.
"MasyaAllah, dua ujian datang bersamaan. Ujian kesenangan dan ujian kesedihan." Ucap tuan Hendra lalu meninggalkan ruang inap putrinya.
Tuan Arkana ikut keluar mengikuti langkah tuan Hendra karena ada yang ingin ia sampaikan kepada ayah dari dua putri itu.
Dokter Rendra mengajak istri dan putranya Daffa pulang ke mansion.
Sekarang tinggal nyonya Andara yang menunggu putrinya Sindy yang masih saja menangis.
"Sindy, jangan memasukkan kata-kata ayahmu ke dalam hatimu nak, karena saat ini ayah tidak tahu harus berbuat apa kepadamu. Setiap orang tua siap menerima kesuksesan setiap anaknya, namun tidak semua orangtua siap menanggung malu ketika nama baiknya dicoreng oleh anaknya sendiri." Ucap nyonya Andara memberi pengertian kepada putrinya.
"Bunda, Sindy ingin mati saja bunda, Sindy tidak kuat menanggung beban ini." Ucap Sindy pilu.
"Sindy, dulu bunda Mariam saat mengetahui dirinya hamil tanpa seorang suami, sedangkan dirinya sangat suci dari dosa dan dia masih terkenal seorang gadis perawan yang tidak pernah keluar dari mihrab miliknya.
Tiba-tiba Jibril datang memberitahunya bahwa dia sekarang hamil. Saat itu bunda Mariam sangat terpukul dan juga ingin mati sepertimu, padahal Allah yang menganugerahi dirinya dengan seorang bayi tanpa sentuhan lelaki.
Tapi Alhamdulillah, walaupun seluruh masyarakat menuduh dirinya seorang wanita pezina namun dengan izin Allah, bayinya yang bersaksi bahwa ibunya bukan wanita pezinah.
__ADS_1
"Kamu pun demikian, karena kamu korban perkosaan bukan seorang wanita pezina." Nyonya Andara menghibur putrinya.