
Tiba saatnya hari perpisahan antara Widya dan tuan Arkana. Widya mengantar tuan Arkana ke airport. Keduanya hanya diam dalam perjalanan menuju airport. Tuan Arkana yang mengharapkan jawaban dari gadis ini atas pinangannya belum juga terucap. Tuan Arkana merasa sangat kecewa dengan sikap Widya yang tidak jelas menurutnya.
Jika tidak mau atau menolak pinangannya, tinggal katakan saja, iya atau tidak. Dua kata yang cukup mudah untuk diucapkan oleh Widya yang diharapkan tuan Arkana.
"Tuan Arkana!"
"Widya!"
Keduanya serempak ingin bicara dan akhirnya tersenyum dan salah tingkah satu sama lain.
"Silahkan tuan bicara duluan!"
"Tidak, kamu dulu yang bicara duluan!" Ucap tuan Arkana.
Keduanya sama-sama meminta salah satu dari mereka bicara duluan.
"Kamu wanita, jadi seorang lelaki terhormat selalu memuliakan seorang wanita. Silahkan nona Widya, bicaralah!" Aku akan mendengarkan Anda." Ucap tuan Arkana.
"Terimakasih tuan Arkana, anda sangat baik padaku." Ujar Widya malu-malu.
Tuan Arkana tersenyum lalu mengangguk seraya mempersilahkan Widya bicara.
"Sebentar lagi tuan akan berangkat. Ini ada surat dari isi hatiku sebagai jawaban dari pinanganmu padaku tuan.
Tapi aku harap, tuan tidak membuka surat ini disini dan langsung membacanya. Jika tuan sudah berada di dalam pesawat, tuan boleh membacanya." Ucap Widya yang melihat jam tangannya menunjukkan waktu satu jam lagi keberangkatan pesawat menuju Istambul Turki.
"Apakah ini suatu bentuk penolakan hingga membuat kamu begitu takut untuk menyatakan secara langsung kepada aku?" Tanya tuan Arkana sedih.
"Ini adalah penjelasan dariku yang harus anda ketahui. Aku mohon tuan harus menghargainya demi hubungan kita. Tidak semua hubungan harus berakhir dengan pernikahan bukan?" Mungkin kita bisa menjadi sahabat untuk selamanya."
Degggg....
__ADS_1
"Berarti surat ini isinya hanya lah penolakannya bukan jawaban untuk menerima aku sebagai suaminya." Gumam tuan Arkana sedih dalam diamnya.
"Tuan!" Pesawat anda sudah datang. Selamat jalan semoga anda selamat sampai tujuan. Tolong kabari aku kalau sudah tiba di Istambul Turki." Ucap Widya kepada tuan Arkana yang masih terbuai dalam lamunannya.
"Tuan Arkana!"
"Tuan Arkana!"
Panggil Widya beberapa kali untuk menyadarkan lelaki ini dari lamunannya.
"Oh iya, Widya!" Terimakasih sudah menemani liburan ku selama berada di Bali yang sangat indah ini. Kalau begitu aku berangkat dulu. Jaga dirimu dan kembali lah ke Jakarta secepatnya!" Pinta tuan Arkana kepada Widya yang belum berniat untuk kembali ke Jakarta.
"Insya Allah, besok atau lusa aku akan kembali ke Jakarta." Jawab Widya.
Keduanya saling berjabatan tangan karena hanya itu yang bisa mereka lakukan. Tuan Arkana yang sangat menjaga dirinya untuk tidak menyentuh Widya sebelum sah menjadi istrinya.
Tuan Arkana berjalan menuju pintu masuk pesawat yang akan ia tuju. Widya menunggu sesaat setelah tuan Arkana menghilang dari pandangannya.
Setelah kepergian tuan Arkana, Widya kembali menaiki taksi menuju hotel. Air matanya tumpah ruah merasakan kehilangan yang amat mendalam sosok lelaki santun yang begitu terjaga akhlaknya.
Setelah mendapatkan nomor tempat duduknya, tuan Arkana mengambil surat milik Widya untuknya. Ia sangat penasaran dengan isi surat tersebut.
"Bismillah!" Sebutnya saat memulai membaca surat dari wanita idamannya.
"Assalamualaikum Tuan Arkana yang Sholeh....
Sebelum aku mengupas panjang lebar tentang diriku, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, bahwa aku sangat mengagumi sosok lelaki sepertimu.
Bahkan aku ingin mengatakan kamu adalah lelaki pertama yang menyentuh hatiku dengan keindahan kebesaran Allah. Jarang sekali ada lelaki seperti itu yang memperkenalkan ilmu Allah pada wanita yang baru ia kenal seperti halnya mantan suamiku yang tidak begitu memahami Islam sedalam kamu, itulah yang membuat aku kagum pada anda karena cintamu pada Allah dari pada na*su dunia.
Tapi kekagumanku tidak bisa berlanjut sebagaimana harapanmu yang ingin memiliki diriku. Kadang saatnya aku merasa ingin dimiliki seutuhnya oleh seseorang tapi mengingat keadaan diriku, aku harus cukup tahu diri bahwa aku bukan siapa-siapa yang harus anda perjuangkan.
__ADS_1
Tuan Arkana, aku yakin cintamu sangat besar padaku dan kegelisahan kamu menunggu jawaban dariku yang membuatmu seakan sesak karena tidak kunjung mendapatkan jawaban entah terima atau menolak.
Ada hal yang harus kamu ketahui tuan Arkana. Aku memang sudah memiliki seorang putri yang saat ini masih dalam pencarianku. Tapi, aku tidak bisa lagi mampu mengandung setelah kelahiran putriku itu karena rahimku sudah di angkat karena suatu penyakit yang tidak bisa membuat rahimku bertahan dalam bagian tubuhku.
Bagaimana mungkin aku begitu egois kepadamu, untuk menerima pinanganmu sedangkan aku tidak mampu memberikan keturunan untukmu.
Itulah mengapa, ibu mertuaku tega menukarkan putriku dengan seorang bayi lelaki untuk menjadi penerus ahli waris mereka.
Aku pun harus cukup tahu diri posisiku di keluarga mantan suamiku. Untuk itu aku rela berpisah dengannya agar ia memiliki anak lelaki dari wanita lain.
Maafkan aku tuan Arkana, hidupku memang sangat menyedihkan sebelumnya, tapi setelah bertemu denganmu, aku melihat kembali dunia dengan pikiran terbuka ketika kamu memperkenalkan keagungan Allah dan murka Allah kepada hambaNya yang mudah putus asa dari rahmat-Nya dengan cara bunuh diri.
Itulah yang membuat aku mulai perlahan menerima kenyataan hidupku bahwa tidak semua apa yang kita impikan di dunia ini sesuai dengan kemauan kita.
Karena Allah lah yang berhak mengatur segala sesuatu di dunia ini. Tidak ada daun yang gugur dari dahannya kecuali mendapatkan izin Allah, begitu pula apa yang kita miliki dalam hidup ini termasuk bagian tubuhku harus kita relakan jika Allah sudah berkehendak.
Terimakasih duhai lelaki Sholeh, kamu adalah titisan malaikat yang Allah kirimkan kepadaku untuk menyadarkan kebodohanku tentang karunia-Nya.
Selamat jalan, selamat berpisah, semoga Allah senantiasa memberikanmu kebahagiaan dengan keberkahan rahmat-Nya, aaamiin... Pilihlah wanita yang pantas anda miliki tuan Arkana karena kamu adalah lelaki baik dan patut mendapatkan wanita Sholehah dan mampu memberikan kamu keturunan.
Terimakasih sudah mengunjungi Indonesia dan mengagumi bagian ciptaan Allah yang maha dahsyat di salah satu bumi Pertiwi ini yaitu pulau Dewata Bali.
Salam untuk keluarga besar anda.
Sahabatmu Widyawati."
Widya mengakhiri tulisannya dan surat itu dilipat lagi oleh tuan Arkana dengan berurai air mata.
"Widya, hanya karena kamu tidak bisa memberikan aku keturunan, kamu tega menolakku?" Mengapa kamu tidak menanyakan pendapatku dan memilih menulis surat seperti ini.
Aku tidak peduli Widya dengan keadaanmu karena aku mencintaimu tanpa syarat apapun dan tidak berharap keturunan darimu." Gumam tuan Arkana membatin.
__ADS_1
Di kamar resort, Widya masih duduk termenung di depan kaca jendela yang berdinding bening itu menghadap ke arah laut.
Bel kamarnya berbunyi berkali-kali. Widya begitu enggan untuk membukanya.