
Kehamilan Mariam sudah memasuki tujuh bulan. Kerinduannya kepada Rendra tidak bisa dipungkiri saat ini. Ia sadar ini adalah salah. Kerinduannya pada mantan suaminya itu adalah suatu hal yang sudah menjadi haram diantara mereka. Namun hatinya tidak bisa dibohongi bahwa saat ini ia sangat merindukan Rendra.
Tidak hanya Mariam yang merasakan kerinduan itu sendiri, Rendra juga merasakan hal yang sama. Keterikatan emosional yang begitu kuat membuat Rendra ingin mengunjungi Mariam di Turki.
Tidak banyak orang terdekat Rendra dan Mariam yang mengetahui keduanya adalah saudara sepersusuan karena ceritanya sedikit rumit dan menyakitkan. Hanya keluarga inti saja yang mengetahui keadaan Rendra dan Mariam. Jika orang lain tahu maka akan berdampak buruk pada Rendra dan rumah sakit itu sendiri.
Walaupun begitu, Rendra ingin menyelidiki kebenaran antara dirinya dan Mariam adalah benar saudara sepersusuan. Walaupun jauh dalam lubuk hatinya, ia menolak kalau kebenaran itu nyata adanya.
Pagi itu, setelah mengetahui kedua orangtuanya berangkat kerja, Mariam nekat menghubungi Rendra karena ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
Sekitar jam sembilan pagi waktu Istambul, Mariam menghubungi Rendra yang saat ini pasti sudah menunaikan ibadah sholat subuh.
Di Jakarta, Rendra baru saja pulang dari mesjid dan ingin merebahkan lagi tubuhnya sesaat karena ia juga baru pulang dari rumah sakit usai melakukan operasi jantung pada pasien.
Bunyi ponsel Rendra terus berdering. Rendra yang baru saja ingin masuk ke alam mimpinya akhirnya tersentak mendengar bunyi ponselnya.
Dengan perasaan malas, iapun beringsut mengambil ponselnya. Ketika melihat siapa yang menghubunginya, Rendra langsung duduk sempurna dan menerima panggilan dari Mariam dengan antusias.
"Assalamualaikum bang Rendra!" Ucap Mariam gugup.
"Waalaikumuslam Mariam!" Jawab Rendra lebih gugup lagi.
Keduanya saling menanyakan kabar masing-masing dan terutama kehamilan Mariam.
"Mariam, apakah aku boleh melakukan video call denganmu?" Aku hanya ingin melihat perutmu saja. Pingin tahu perkembangan anak kita, bolehkah?" Tanya Rendra dengan sedikit menghiba.
Mariam terdiam," Baiklah!" Tapi jangan lama-lama." Ujar Mariam sedikit keberatan.
__ADS_1
"Yes!" Rendra mengepalkan satu tangannya dengan wajah berbinar.
Saat sambungannya sudah online, Mariam berdiri sedikit menjauh dari ponselnya yang ia letakkan di atas nakasnya.
Mata Rendra berkaca-kaca melihat perut Mariam yang sudah cukup membesar.
"Apakah kamu sudah mengetahui jenis kelaminnya melalui USG?"
"Iya, dua hari yang lalu, aku dan mama sudah melihat keadaannya dan jenis kelaminnya laki-laki." Ucap Mariam.
"Apakah perkembangan putraku sangat baik, Mariam?"
"Alhamdulillah bang, ia tumbuh dengan baik sesuai dengan usia kandunganku dan tidak ada keluhan apapun." Ujar Mariam.
"Dua bulan lagi dia melahirkan, bolehkah aku menunggumu melahirkan Mariam?" Tanya Rendra hati-hati.
"Maaf bang Rendra, kalau mengenai itu, tolong tanyakan langsung pada mama karena aku tidak bisa memutuskannya." Ucap Mariam lembut.
"Insya Allah, mama akan mengerti karena kamu adalah ayahnya. Tapi persiapkan hatimu jika kamu merasa kecewa, kalau mama melarangmu nanti."
"Tidak apa Mariam, ada banyak cara untuk bisa bertemu dengan kalian berdua nanti. Aku ingin kita bisa lebih dekat saat kamu melahirkan. Dalam dua bulan ini, aku akan mengunjungi rumahmu di puncak, siapa tahu aku menemukan petunjuk dari almarhum kedua orangtua kandungku dan bisa bertanya langsung kepada pelayanmu, agar kita bisa mendapatkan kejelasan status kita.
Pembatalan pernikahan kita belum sah, jika kita belum dapatkan bukti secara akurat. Itu kata pengacaraku. Aku sudah banyak konsultasi dengannya mengenai kasus kita. Aku mohon sayang, bersabarlah, aku yakin ibu kandungku bisa merasakan bahwa kamu juga bukan anak kandungnya dengan begitu dia juga tidak menyusuimu sama seperti mama Widya." Jelas Rendra.
"Jadi selama ini, Abang belum sempat ke puncak mencari tahu sesuatu yang bisa dijadikan bukti bahwa kita ini bukanlah saudara sepersusuan?" Mariam merasa kecewa pada dokter Rendra yang dianggapnya sangat lamban menanggapi kemelut pernikahan mereka yang terancam bubar.
"Maaf sayang, kalau kita terlalu berupaya mencari tahu kasus kita pada keluarga atau kerabat dekat jauh yang ada di puncak, justru akan tersebar rumor yang sangat mengganggu mental kita nantinya dan itu juga berdampak tidak baik pada putra kita. Aku mohon pengertiannya Mariam. Rumah sakit milikmu yang saat ini aku kelola, akan kena imbasnya jika banyak orang lain tahu tentang kasus kita berdua." Lanjut Rendra memberi pengertian kepada istrinya.
__ADS_1
"Kamu benar bang!" Maafkan keluarga kandungku terutama nenekku yang telah menghancurkan masa depan kita. " Ucap Mariam sangat malu pada suaminya Rendra.
"Mariam, aku tidak menyesal dengan apa yang terjadi pada keluarga kita, tapi yang tidak aku inginkan adalah aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa kita berdua benar-benar saudara sepersusuan." Ucap Rendra dengan suara serak.
"Bang, aku sangat merindukanmu." Ucap Mariam jujur.
"Aku apa lagi sayang, kejadian ini sangat membuatku muak di saat cinta kita sedang bersemi dan sejalannya waktu, kebahagiaan kita direnggut dengan terpaksa karena kisah masa lalu yang telah dirahasiakan oleh mama Widya dan nenek Aliya." Ucap Rendra.
"Tolong segera menyediki kebenaran ini bang, jika Abang ingin berkumpul lagi dengan kami berdua." Pinta Mariam dengan rengekan manjanya membuat Rendra sudah mulai terpengaruh bahkan terkesan tergoda mendengar suara istrinya itu.
"Mariam, boleh aku pamit?" nanti kita bisa bicarakan lagi setelah aku mengunjungi rumah keluarga kita di puncak." Dokter Rendra berusaha pamit secepatnya pada Mariam karena takut mendengar hasutan setan yang sudah memenuhi kepalanya dan itu mempengaruhi si junior di bawah sana.
"Iya bang, terimakasih sudah ngobrol dengan kami berdua. Jangan pernah tinggalkan sholat tahajud karena dengan cara itu Allah akan memberikan kita petunjuk. Aku yakin bang, kita berdua bukan saudara sepersusuan." Ucap Mariam tegas.
"Aaamiin!" Ujar Rendra.
"Assalamualaikum!"
Mariam melambaikan tangannya usai mengakhiri obrolannya dengan Rendra. Keduanya tidak bisa melakukan hal yang lebih mesra mengingat ketidak jelasan kasus yang saat ini mereka hadapi.
Usai berpamitan dengan Rendra, Mariam kembali menangis karena hatinya belum puas berbincang dengan ayah dari calon bayinya tersebut.
"Ya Allah, apa yang mesti aku lakukan saat ini. Ya Allah jangan Engkau menguji kali sesakit ini. Tolong tunjukkan kebenaran ini secepatnya ya Allah agar kami bisa bersatu lagi dalam ikatan pernikahan yang Engkau ridhoi... aamiin!" Pinta Mariam dengan tangisan yang terdengar masih sesenggukan.
Cek...lek
Pintu kamar Mariam dibuka oleh ibunya ketika mendengar Isak tangis Mariam dari luar kamar. Mariam tersentak melihat ibunya tiba-tiba pulang, apa lagi membuka pintu kamarnya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mariam!"
"Maka!"