PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
27. PERTEMUAN


__ADS_3

Rendra dan Mariam bertolak ke Bandung untuk mencari tahu Nara sumber yang bisa dijadikan bukti bahwa mereka bukanlah saudara sepersusuan, itu yang sangat diharapkan oleh pasangan yang sangat galau ini.


Mereka juga tidak berangkat sendirian karena ada bibi Ijah yang akan mengawal keduanya karena hanya bibi Ijah yang dikenal oleh keluarga mariam sebelumnya.


"Bibi Ijah, siapa yang akan aku tanyakan terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi penting ini.


Apakah aku harus memberitahu sebabnya?" Tanya Mariam.


"Tidak perlu Mariam!" Semakin banyak orang tahu walaupun itu kerabat dekat, maka gosip ini akan tersebar luas dan itu sangat tidak baik untuk masa depan kalian, sayang." Ucap bibi Ijah.


"Iya Nikita, jika kita mengunjungi keluarga Abi di Bandung, jangan perlihatkan kepada mereka bahwa kita memiliki misi tersendiri untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan untuk kepentingan kita.


Nama baik keluarga besar kita akan terancam oleh kasus ini. Makanya ayah Hendra sangat hati-hati dalam mengungkapkan kasus ini karena berhubungan dengan kejahatan ibunya.


Rumah sakit milik kita akan terancam ditutup jika kasus ini merebak ke khalayak luas walaupun itu terjadi sudah 27 tahun yang lalu." Timpal dokter Rendra bijak.


"Kalau bukan karena Allah, rasanya aku tidak ingin mau tahu dengan keadaan yang menyakitkan ini bang Rendra." Ucap Mariam lirih.


"Sabar sayang!" Insya Allah semua ini akan berakhir." Ucap Rendra.


"Semua adalah bagian dari takdir neng Mariam. Kalau dipikir-pikir memang terdengar menyakitkan ulah dari mendiang nyonya Alya, tapi mungkin dengan cara ini, kalian dipertemukan.


Tuan Rendra bisa menjadi seorang dokter hebat yang dibutuhkan oleh masyarakat.


Dan kamu di didik dengan baik oleh Abi dan ummi untuk lebih mengenal ilmu Allah dan mengamalkan ilmu itu untuk kepentingan orang banyak. Jadi kita cukup ambil hikmahnya saja." Ujar bibi Ijah dengan bijak.


"Terimakasih bibi Ijah untuk nasehat terbaiknya. Kami tetap berharap Allah tidak akan memisahkan kami dengan memberi informasi yang tidak kaki inginkan." Ucap Mariam.


Bibi Ijah mengarahkan alamat rumah orangtuanya Abi yang ada ditengah kota Bandung.


Ketika mobil itu terpakir, keluarlah seorang pemuda tampan yang sangat mengenal Mariam.

__ADS_1


"Teteh Mariam!" Sapa Acep yang merasa menjadi sepupunya Mariam.


Mariam tersenyum manis sambil memberikan salam kepada Acep dengan menggunakan bahasa Sunda keduanya terlibat obrolan serius.


"Silahkan masuk!" Ucap mang Acep kepada keluarga itu.


Acep memanggil ibunya karena kedatangan Mariam dengan suaminya beserta anak mereka Daffa.


Ambu Lilis keluar menemui keluarga kecil itu. Ambu Lilis berhenti sesaat ketika melihat wajah dokter Rendra yang sangat mirip dengan abangnya ketika masih muda.


"Akang Abdullah?" Ambu Lilis menangis histeris melihat tampang Rendra yang mengingatkan dirinya pada Abang kandungnya itu.


Semua yang ada di situ nampak heran dengan aksi Ambu Lilis kecuali Rendra dan Mariam yang sudah mulai paham bahwa mereka berdua adalah korban pertukaran bayi.


"Ambu, ini suaminya Mariam, anaknya paman Abdullah. " Ujar Acep agar ibunya tidak salah paham dengan dokter Rendra.


"Kamu Mariam?" Kau malah bukan putri kandung abangku. Makanya di saat kamu menikah aku tidak mau hadir." Ucap Ambu Lilis sinis.


"Biarkan saja mang Acep, justru aku ingin tahu kebenarannya. Tidak apa Ambu Lilis, tolong katakan yang sebenarnya yang Ambu tahu tentang keluarga aku. Tidak masalah aku ini putri siapa, yang jelas aku ingin kebenarannya.


"Apakah kamu sudah siap untuk tidak pingsan dan jantungan serta tidak mengambil semua harta warisan yang ditinggalkan oleh abangku.


Entah di mana putra kandungnya berada kini, hingga ia mencarinya seperti orang gila sampai jatuh sakit.


Abangku yang malang mendapatkan dua istri yang tidak berguna." Ucap Ambu Lilis yang sudah membuka tabir kehidupan dari pernikahan abangnya.


"Abi memiliki dua istri?" Bagaimana ceritanya Ambu Lilis. Selama ini Abi tidak pernah mengungkapkan kebenaran ini." Tanya Mariam penasaran.


"Ambu, tolong jangan ceritakan sekarang. Teteh baru sampai Bandung. Lagian teteh Mariam tidak mengambil apapun yang menjadi warisan kakek dan nenek. Malah semuanya dikasih untuk Ambu." Ucap putranya mang Acep.


"Aku juga tidak ingin mengambil rumah besar ini kecuali aku menemukan ponakan kandungku, anak dari abangku Abdullah. Mariam adalah anak pembawa sial. Ibunya meninggal setelah mengetahui bayi yang ia bawa pulang itu bukan bayinya makanya dia tidak menyusui bayi itu karena tidak ingin putranya akan menikahi putri yang telah tertukar dengan putranya."

__ADS_1


"Alhamdulillah, Allahuakbar!"


Mariam dan dokter Rendra langsung sujud syukur mendengar ucapan Ambu Lilis tanpa mereka banyak bertanya.


Suami istri ini saling berpelukan setelah mengucapkan banyak syukur atas peristiwa yang masih menjadi tabir antara mereka.


Bibi Ijah jatuh lunglai saking merasakan kegembiraan yang sama yang dirasakan oleh pasangan ini. Beruntunglah, bayi mereka di gendong oleh istrinya mang Acep, teteh Cici jadi bayi itu aman dalam dekapan seseorang.


"Ada apa kalian berdua?" Mengapa kalian tiba-tiba bersujud , bersyukur dan berpelukan. Mau pamer kemesraan di hadapan orang?" Kelakuan kalian sudah kaya artis yang lagi cari sensasi." Ucap Ambu Lilis yang belum mengerti permasalahan yang mereka hadapi.


Mariam mendekati bibinya itu yang jarang ia temui karena abinya tidak mau mengunjungi Bandung setelah usianya sepuluh tahun.


Abinya sengaja memutuskan hubungannya dengan bibirnya karena Ambu Lilis selalu saja memperlakukan Mariam sangat kasar. Hanya mang Acep yang sering mengunjungi mereka dan saat itu mang Acep sempat naksir kepada Mariam.


Tapi Mariam yang hanya menganggapnya saudara sepupu tidak ingin memberikan hatinya pada mang Acep hingga mang Acep menemukan calon istrinya dan menikah lebih dulu daripada Mariam.


"Bibi Lilis, terimakasih sudah mengungkapkan kebenaran yang selama ini Mariam dan suami Mariam ingin tahu kebenaran itu." Ucap Mariam seraya mencium telapak tangan bibirnya sambil berlinang air mata.


"Apa maksudmu anak bodoh?"


"Sebelum bibi mengungkapkan kebenaran ini, aku dan bang Rendra sudah mengetahui bahwa kami ini sudah tertukar sejak bayi.


Kami juga mengetahui secara tidak sengaja saat kami mengunjungi Istambul dan bertemu dengan ibu kandung Mariam.


Tapi saat itu kami dipisahkan secara sepihak karena hubungan kami di anggap saudara sepersusuan dan itu sangat menyakitkan. Itulah sebabnya kami ingin mencari tahu kebenarannya sampai kami menemui bibi di sini. " Ucap Mariam haru.


"Apakah kecurigaan bibi benar bahwa suamimu ini adalah putra kandung abangku, Mariam?" Tanya Ambu Lilis menatap lagi wajah keponakannya Rendra yang sangat mirip dengan abangnya ketika masih muda.


"Iya bibi, bang Rendra adalah keponakan kandungmu yang selama ini kamu menantikan dirinya datang menemuimu di sini." Ucap Mariam sambil memberikan tangan suaminya pada tangan bibinya.


"Rendra..!" Ponakanmu....!" Tangis bibi Lilis pecah setelah mengetahui kebenaran dari cerita pelik pertukaran bayi ini.

__ADS_1


Tapi di hati Mariam masih terasa ganjil dengan pernikahan abinya yang memiliki dua istri.


__ADS_2