
Nyonya Widya dan suaminya baru pulang dari luar kota setelah menghadiri seminar yang berhubungan dengan dunia kedokteran.
Rasa penat yang melanda tubuh keduanya membuat mereka tidak memikirkan kondisi Mariam. Mereka merasa Mariam baik-baik saja dibawah pengawasan para pelayan yang bekerja dirumahnya.
"Apakah Mariam baik-baik saja selama aku pergi Rahel?" Tanya nyonya Widya ketika sudah berada di rumahnya.
"Maaf Nyonya, dua hari ini nona Mariam sedang berada di rumah sakit. Kemarin pamit pada saya mau belanja keperluan untuk bayinya, tapi ketika malam tiba dia mengirim pesan bahwa kondisinya kurang baik dan langsung menuju rumah sakit.
Dia melarang kami untuk mengunjunginya di rumah sakit, jadi saya memutuskan untuk menunggu nyonya yang akan mengunjungi nona Mariam ke rumah sakit." Ujar Rahel.
"Nona Mariam dirawat?" Di mana rumah sakitnya?" Mengapa aku tidak dikabari olehnya?" Tanya Nyonya Widya panik.
"Katanya di rumah sakit nyonya bekerja dan dia sendiri meminta saya untuk tidak perlu menghubungi anda nyonya agar anda tidak kuatir keadaan dirinya.
"Mana mungkin bisa begitu, yang namanya anak pasti sangat kuatir Rahel, apa lagi saat ini dia sudah hamil tua. Bisa saja merasakan kontraksi setiap saat." Ujar Nyonya Widya kesal pada pelayannya.
"Mama, sebaiknya kamu ke rumah sakit atau hubungi rumah sakit. Tanyakan kondisi Mariam daripada kamu marah-marah nggak jelas begitu." Timpal tuan Arkana.
Nyonya Widya langsung menghubungi rumah sakit tempatnya bekerja, namun sayang sekali jawaban yang ia dapatkan membuat dirinya sangat syok.
"Apa kata mereka sayang?" Tanya tuan Arkana panik ketika melihat wajah tegang istrinya.
"Kata mereka, Mariam tidak pernah mengunjungi rumah sakit mereka apa lagi meminta di rawat di rumah sakit itu. Jika Mariam dirawat di RS itu, mereka akan segera mengabarkan aku." Ucap Nyonya Widya.
"Kalau begitu, biarkan anak buahku saja yang menghubungi setiap rumah sakit, mungkin Mariam tidak bisa mengunjungi rumah sakit tempat kamu bekerja karena keburu sakit yang ia rasakan." Ucap tuan Arkana yang cukup masuk akal.
Nyonya Widy menghubungi ponsel Mariam dan berkali-kali tidak ada sambungan.
"Ya Allah, di mana putriku. Semoga dia baik-baik saja saat ini." Tangis nyoya Widya pecah saat kehilangan komunikasi dengan putrinya.
__ADS_1
"Sabar dulu sayang!" Jangan panik seperti itu!" Pinta tuan Arkana.
"Dari kemarin-kemarin, Mariam meminta ijin dariku untuk kembali ke Indonesia. Jika dia pulang, pasti dia akan menemui Rendra." Ucap nyonya Widya.
"Kalau begitu sebaiknya kita hubungi tuan Hendra agar mencegah Rendra dan Mariam bertemu." Ucap tuan Arkana.
"Tolong kamu saja yang hubungi tuan Hendra, sayang!"
Tuan Arkana menghubungi tuan Hendra. Jawaban yang didapatkan tuan Arkana bahwa Rendra saat ini sedang keluar kota. Itu berarti, Rendra sedang tidak ada di tempat.
Tuan Arkana memberi tahukan keadaan Mariam yang minggat dari rumah tanpa ada petunjuk darinya. Namun tuan Hendra enggan menanggapi kabar itu karena dia yakin putrinya tidak akan menemui Rendra.
"Tuan Arkana, saya akan mengabari anda kalau kami sudah menemukan Mariam." Ucap tuan Hendra.
"Semoga Mariam baik-baik saja, kami kuatir dia akan melahirkan kapan saja, tanpa di temani oleh orang-orang terdekatnya.
"Putriku seorang gadis yang sangat cerdas, dia tahu apa yang akan dia lakukan. Mungkin dia akan menghubungi kita kalau keadaan sudah terdesak.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Dua bulan kemudian, Mariam yang menetap di Singapura bersama Rendra akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat sehat dan tampan.
Keduanya sangat bahagia mendapatkan anugerah terindah dari Allah.
"Apakah kita langsung pulang ke Indonesia sayang?" usia baby sudah hampir dua bulan.
"Baiklah!" Kita akan langsung ke puncak mencari tahu kebenaran tentang hubungan kita." Ucap Rendra.
Semoga kita bisa mendapatkan petunjuk dari Allah sayang. Aku yakin Allah maha baik. Kita bukan saudara sepersusuan. Jika mama Widya saja mengetahui bahwa kamu bukan anak kandungnya, berarti tidak menutupi kemungkinan, ummi juga merasakan hal yang sama bahwa aku bukanlah putri kandungnya.
__ADS_1
Mungkin ummi juga merahasiakan keberadaan aku karena tidak ingin membuat Abi kecewa. Bukan apa-apa saat ummi merahasiakan tentangku karena jika ummi jujur maka kecurigaan akan tumbuh diantara Abi dan keluarga Abi. Mereka mengira ummi telah selingkuh." Itu yang saya curiga pada ummi yang memiliki alasan tersendiri tidak ingin mengungkapkan kebenaran ini." Ucap Mariam.
"Mariam, apakah kamu tidak takut jika ada kebenaran sebaliknya bahwa kita adalah saudara sepersusuan. Apakah kita akan memilih perpisahan setelah mendapatkan kenyataan yang berbanding terbalik dengan harapan kita?" Tanya Rendra kemudian.
"Aku mohon sayang, jangan mengatakan hal yang mengerikan itu. Apakah kamu rela kita akan berpisah dan memperebutkan anak ini?" Tanya Mariam dengan bibir cemberut.
"Kalau berpisah saja mungkin aku bisa terima Mariam, yang aku kuatirkan kamu akan menerima laki-laki lain yang akan dijodohkan oleh mama Widya agar aku tidak bisa lagi menganggu dirimu." Ucap Rendra.
"Tidak sayang, kalau bisa buat aku hamil lagi agar aku dan kamu tidak akan terpisahkan. Jika kecurigaan itu benar adanya, maka anak kita akan terlahir cacat." Ucap Mariam lalu menanggalkan bajunya.
Melihat tubuh istrinya yang sudah bersih dari darah nifas, dokter Rendra tidak kuat menahan hasratnya. Mariam melihat bayi sesaat yang sedang tidur pulas.
Setelah itu, Rendra dan Mariam kembali memadu kasih. Menyalurkan hasrat mereka yang sempat tertunda selama masa nifas.
Tubuh Mariam yang makin se*si pasca melahirkan membuat hasrat birahi Rendra makin menggebu.
Ciuman panas keduanya tidak terelakkan dengan berguling di sana sini di atas kasur king size itu.
Apartemen yang cukup luas yang mereka sewa di negara Singapura itu terasa sangat nyaman untuk dihuni tiga orang tepat di pinggir pantai yang menyajikan pemandangan indah.
Mariam melenguh saat sang suami sudah berada di bagian bawah perutnya. Mulut Rendra bersatu dengan bibir bawah milik istrinya sedangkan dua tangannya aktif meremas belahan dadanya secara perlahan.
Tidak kuat menahan miliknya yang sudah membengkak dibawah sana, Rendra kemudian memasukkan miliknya ke dalam milik sang istri yang sudah berkedut mengharapkan milik sang suami bersarang pada ruang sempitnya.
"Hati-hati sayang!" Pinta Mariam agak takut karena baru melahirkan putranya.
"Oh, Rendra menggeram merasakan betapa sempit milik istrinya padahal sudah melahirkan putranya.
"Sayang, ini sangat sempit dan nikmat." Ucap Rendra yang menikmati cengkraman kuat membuat milik istrinya pada miliknya.
__ADS_1
Mariam yang tidak sabaran memaksa suaminya untuk cepat menyelesaikan hasrat yang sudah membakar birahinya sedari tadi.
"Bang, ayo sayang!" Rengek manja Mariam.