PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
30. Reuni keluarga


__ADS_3

Mariam meminta mama Widya dan ayah tirinya mengunjungi rumah mereka di puncak. Nyonya Widya menyanggupinya karena mereka masih berada di wilayah puncak.


"Mama Widya, sini kumpul-kumpul di rumah Mariam. Mama belum tahu keadaannya yang tidak kalah dengan villa-villa yang ada di puncak." Ucap Mariam.


"Benarkah kami boleh mengunjungi rumahmu di puncak sayang?" Tanya nyonya Widya antusias.


"Tentu saja boleh mama. Ayah Hendra dan bunda Andara sudah ada di sini. Kita lagi masak-masak. Pasti mama kangen sama masakan kampung bukan?" Mariam menggoda ibunya agar tergiur dengan apa yang ini sedang ia ucapkan setiap menu masakan Sunda yang digemari ibu kandungnya itu.


"Ok, kami siap meluncur sayang. Di tunggu ya." Ucap mama Widya senang.


"Ada apa sayang?" Tanya tuan Arkana yang melihat istrinya terlihat happy hari ini.


"Mariam meminta kita untuk mengunjungi rumah orang tua Rendra di puncak Bogor." Ucap nyonya Widya pada suaminya.


"Wah, kalau begitu tunggu apa sayang. Katanya di belakang rumahnya ada sungai, aku ingin sekali mandi di sungai." Ucap tuan Arkana.


"Ada juga tempat pemancingnya. Ayah bisa mancing juga di sana. Alat pemancingnya sudah di siapkan Mariam."


"Apakah kita akan pesta ikan?"


"Mungkin saja begitu."


Tuan Arkana dan nyonya Widya langsung berangkat ke rumah Mariam. Perjalanan waktu tempuh hanya dua menit dari villa mereka tempati dengan kediaman rumah orangtua angkatnya Mariam.


Keluarga besar itu nampak sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka. Nyonya Andara membantu putrinya menyiapkan masakan. Sedangkan bibi Luky dan bibi Ijah sedang menggoreng ikan dan ayam.


Dokter Rendra dan ayah angkatnya sedang memancing.


"Oh iya bunda, aku ko nggak lihat Sindy ya. Kenapa dia nggak ikut?" Tanya Mariam yang sangat merindukan adiknya itu.


"Dia sedang menyiapkan tesisnya, makanya dia nggak mau ikut Mariam."


"Sayang sekali dia nggak ikut, padahal aku sangat merindukannya." Ucap Mariam sedih.


"Lain kali saja Mariam, mungkin dia akan mau kalau momennya tepat." Ucap nyonya Andara.


Tidak lama kemudian, mobil milik nyonya Widya sudah memasuki pekarangan rumah Mariam.


Mariam dan nyonya Andara menyambut nyonya Widya. Rupanya nyonya Andara tampak akur dengan ibu kandungnya Mariam.

__ADS_1


"Selamat datang mama!" Mariam mencium punggung tangan ibunya dan ayah tirinya, tuan Arkana.


"Mana cucuku Daffa?" Tanya tuan Arkana yang tidak sabar menemui cucunya itu.


"Nih kebetulan baby Daffa baru bangun." Ujar bibi Luky sambil menggendong baby Daffa yang sedang menangis.


Bayi tembem ini sedang mencari ibunya." Eh, anak mama sudah bangun." Mariam mengambil putranya dan membawa masuk lagi baby Daffa untuk disusui.


Sementara, nyonya Andara mengajak nyonya Widya ke dapur untuk membantu menyiapkan makan siang.


Bibi Ijah meminta sopir mengantar tuan Arkana ke tempat pemancingan di belakang rumah menemui tuan Hendra dan Rendra yang sedang memancing saat ini.


Keluarga itu tampak sangat harmonis bergabung dalam sebuah pertemuan tanpa ada rasa sungkan diantara mereka.


Tuan Hendra yang mengetahui istri pertamanya datang mengunjungi tempat Mariam sangat antusias.


Cinta lama yang belum tuntas masih terasa dihatinya untuk ibu kandungnya Mariam. Pasalnya perceraian antara dia dan Widya hanya terpaksa saat itu, karena Widya yang mati-matian ingin berpisah darinya tanpa penjelasan.


Ingin rasanya dia balik ke rumah dan melihat mantan istrinya itu, namun merasa segan karena ada istrinya Andara sedang bersama dengan Widya saat ini.


"Sial!" Kapan aku punya waktu untuk bisa berduaan dengan Widya. Mumpung orangnya masih ada di Jakarta." Gumamnya dalam hati.


"Sayang!" Ajak nak Rendra dan tuan Arkana pulang. Makanan sudah siap. Kita makan di saung sayang." Ucap nyonya Andara.


"Sepuluh menit lagi kami sudah tiba di saung sayang." Ujar tuan Hendra pada istrinya.


"Aku baru mendapatkan dua ekor ikan tuan Hendra!" Ucap tuan Arkana yang kelihatan kecewa.


"Nanti sore bisa mancing lagi ayah." Ucap dokter Rendra pada tuan Arkana.


Tiga lelaki ini menghampiri istri-istri mereka yang sudah menunggu mereka di saung.


Nyonya Andara sudah mengambil nasi untuk suaminya diikuti nyonya Widya dan Mariam yang melayani suami mereka. Tuan Hendra masih sibuk mencuri-curi pandang pada nyonya Widya.


Beruntunglah semuanya tidak sadar dengan perilaku tuan Hendra yang saat ini sedang rindu berat pada nyonya Widya.


"Silahkan dicoba masakan sundanya tuan Arkana!" Ucap nyonya Andara pada tuan Arkana yang sedang mencoba sayur asam.


"Ini sangat segar dan nikmat, siapa yang memasaknya?" Tanya tuan Arkana penasaran.

__ADS_1


"Itu pasti istriku." Ucap dokter Rendra.


"Wah hebat kamu Hendra, bisa mengetahui kalau sayur asamnya di masak oleh istrimu Mariam." Ucap Nyonya Widya.


"Jelas aja hebat, Mariam lahir dan besar di sini dan sayur asam adalah kesukaannya." Timpal bibi Luky sambil menyiapkan buah pisang dan mangga Arum manis untuk tamunya.


"Mariam, ayah belum menanyakan sesuatu yang mengganjal perasaan ayah selama ini pada kamu nak.


Bagaimana caranya kamu bisa kabur bersama dengan dokter Rendra dan di mana kamu melahirkan cucuku itu?" Tanya tuan Arkana.


Mariam dan suaminya saling berpandangan dan tidak menyangka tuan Arkana mengulik lagi pelarian mereka tanpa ada kabar untuk keluarga.


"Maaf ayah Arkana dan ayah Hendra sebenarnya ini bukan kesalahan Mariam. Saat itu aku sengaja mengikuti Mariam ketika Mariam ingin pergi belanja untuk keperluan bayinya.


Di saat itulah aku mengajaknya kabur karena tidak kuat berpisah dengan Mariam." Ucap dokter Rendra.


"Terus, di mana Mariam melahirkan bayinya?" Tanya nyonya Andara.


"Di Singapura bunda." Jawab Mariam dengan suara lirih.


"Astaghfirullah, kalian tega memperlakukan orangtuamu hingga kalang kabut mencari kalian di manapun namun tidak mendapatkan informasi apa-apa kecuali, maskapai penerbangan yang mengatakan keduanya sudah berada di Indonesia." Ujar nyonya Widya kesal pada ulah putrinya.


Ponsel nyonya Andara dan tuan Hendra berdering bersamaan. Keduanya meninggalkan meja makan karena kebetulan sudah selesai.


"Nyonya ada telepon," Ucap bibi Luky sambil menyerahkan dua ponsel itu pada suami istri ini.


"Ini telepon dari rumah." Ucap nyonya Andara sedikit kuatir.


"Hallo nyonya Andara, ini bibi Lia." Ucap bibi Lia dengan sangat panik.


"Iya bibi ada apa?" Tanya nyonya Andara buru-buru.


"Maaf nyonya, nona Sindy saat ini di bawa ke rumah sakit.


"Lho ada apa bibi?" Tanya nyonya Andara.


"Maaf tuan, nyonya." Kali menemukan nona sindy tergeletak di kamar mandi dan sepertinya, nona Sindy berusaha bunuh diri nyonya karena pergelangan tangannya mengeluarkan banyak darah.


"Apa..?" Tidak mungkin!" Tangis nyonya Andara langsung pecah dan semua keluarga menghentikan menikmati makanan mereka yang belum habis mendengar teriakan nyonya Andara.

__ADS_1


__ADS_2