
Mariam mendekati suaminya, setelah keduanya bercinta.
"Sayang, aku ingin kita melakukan bulan madu lagi." Pinta Mariam dengan nada manja.
"Boleh, kalau untuk itu, Abang sangat siap sayang." Jawab dokter Rendra sambil mengusap punggung istrinya.
"Tapi aku maunya kita bulan madu ke Turki." Pinta Nikita setengah memohon.
Rendra mengernyitkan dahinya mendengar negara yang akan menjadi tempat bulan madu mereka." Dari sekian banyak negara, mengapa harus memilih Turki tempat bulan madu kita?" Tanya dokter Rendra yang tidak suka bertemu dengan ibu kandungnya.
"Karena banyak tempat wisata religi yang akan memperluas wawasan ilmu agama kita, sayang." Jawaban yang cukup masuk akal dari Mariam.
"Kalau untuk itu, kenapa nggak langsung umroh saja, kenapa juga harus ke Turki?" Ucap dokter Rendra protes pada istrinya.
"Itu lebih baik, kita pulang umroh terus ke Turki. Kan ada paket umroh yang bisa jalan-jalan ke Turki." Ucap Mariam dengan hati gembira.
"Cukup umroh saja, nggak usah ke Turki. Ambil paket lain seperti ke Masjidil Aqsha atau ke Uni Emirate Arab." Tukas Rendra lalu berusaha bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Mariam merasa sangat kecewa kepada suaminya karena begitu egois. Ia hanya bisa beristighfar dan berdoa agar suaminya akan terketuk hatinya bisa mengabulkan permintaannya.
Sementara di dalam kamar mandi, Rendra juga sangat menyesal karena menolak permintaan istrinya. Ia ingin sekali menyenangkan hati istrinya tapi untuk permintaan bulan madu ke Turki yang merupakan tempat tinggal ibu kandungnya membuatnya sangat kesal.
"Aku mau menikah saja, mama Widya tidak pernah mau datang dan sekarang harus ke Turki, bisa jadi aku akan bertemu dengan ibu yang tidak pernah mengakui aku sebagai putra kandungnya." Ucap Rendra sambil berdiri di bawah pancuran air shower.
Tidak lama berselang, Rendra keluar dengan menggunakan kaos oblong dan celana jins pendek selutut dan duduk di samping istrinya.
"Apakah kamu ingin sekali ke Turki?" Tanyanya sambil menggenggam tangan Mariam.
"Tidak apa bang, kalau Abang merasa keberatan."
"Baiklah kita akan berangkat ke Turki Minggu depan dan semoga sepulangnya kita dari Turki kamu bisa hamil sayang," ucap Rendra sambil tersenyum manis pada suaminya.
"Benarkah?" Insya Allah, aku akan lebih giat lagi berdoa, memohon agar Allah akan mengabulkan permohonan doa kita agar segera diberikan momongan." Mariam memeluk suaminya erat.
"Berarti kita harus bercinta setiap saat?" Rendra menggendong istrinya seperti Kuala.
__ADS_1
"Iya sayang, aku tidak akan menolak asalkan bisa bulan madu ke Turki." Mariam mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
"Kalau bercinta lagi sekarang, boleh nggak?" Rendra menggoda istrinya.
"Emang mas nggak bosan mandi lagi?" Emang nggak capek?" Mariam sengaja menghindari ajakan suaminya secara halus.
"Aku tidak masalah setiap saat mandi dan tidak akan pernah lelah bercinta denganmu." Ujar Rendra makin menyudutkan istrinya.
Karena merasa dikabulkan permintaannya, Mariam mengangguk untuk melakukan lagi percintaan panas mereka.
"Aku hanya becanda sayang, aku tahu kamu sudah lelah, sebaiknya kita istirahat saja, lagian ini sudah terlalu malam." Ucap Rendra lalu membawa istrinya ke tempat tidur.
"Alhamdulillah, terimakasih bang, kamu adalah suami yang sangat pengertian." Mariam mengecup bibir suaminya.
Keduanya berangkat tidur sambil berpelukan, walaupun mata Rendra sendiri sulit terpejam.
"Mariam, sayang, mengapa aku merasa keberangkatan kita ke Turki akan membawa bencana untuk kita. Kenapa firasat ku tidak enak ya...?" Rendra makin gelisah saat memenuhi permintaan istrinya.
Iapun akhirnya tertidur karena lelah memikirkan hal yang begitu menyita pikirannya hari ini.
Keberangkatan bulan madu keduanya yang sudah dijadwalkan oleh Rendra, akhirnya tiba juga. Mariam menyiapkan semua kebutuhan mereka dengan tidak terlalu membawa banyak barang yang di butuhkan.
Mariam sudah mengantongi alamat dan nomor ponsel ibu mertuanya. Ia tidak tahu cara mempertemukan ibu dan anak itu untuk lebih dekat lagi hubungannya, tapi ia akan terus berusaha agar dirinya yang akan bertemu dengan ibu mertuanya walaupun suaminya begitu enggan bertemu dengan ibu kandungnya.
"Sudah siap sayang?" Tanya Rendra ketika panggilan nomor penerbangan mereka siap naik ke pesawat.
"Bismillah!" Semoga membawa berkah." Ucap Meriam.
Keduanya sudah berada di first class dalam pesawat Garuda. Kenyamanan di dalam pesawat tersebut membuat keduanya saling bercerita apa saja hingga keduanya didatangi oleh chef yang menanyakan langsung menu makanan apa yang akan mereka pesan.
Mariam meminta daging stik panggang dan beberapa menu lainnya yang menjadi makanan favorit antara ia dan suaminya.
Sambil menikmati film kesukaan mereka di dalam kabin pesawat yang sudah tersedia di first class di pesawat Garuda Indonesia, Mariam menyuapkan makanan untuk suaminya dan juga dirinya.
Sikap Rendra yang akhir-akhir ini sangat manja pada istrinya, membuat Mariam lebih ekstra melayani suaminya dengan segenap hatinya.
__ADS_1
"Mariam, setelah tiba di Turki, tempat wisata mana yang akan kita tuju?" Tanya Rendra sambil mengunyah makanannya.
"Tentu saja yang paling utama adalah bulan madu kita di atas kasur?" Canda Mariam.
"Kalau yang satu itu tidak butuh jawaban sayang, karena itu tidak perlu ditanyakan lagi." Timpal Rendra.
"Nanti saja sayang kita pikirkan lagi kalau sudah tiba di Turki." Balas Mariam.
"Baiklah, berarti kita tidak perlu bahas lagi acara kunjungan wisata kita, karena kita memang hanya bulan madu bukan berwisata." Ujar Rendra lalu ditanggapi Mariam dengan merotasi bola mata malas mendengar ucapan suaminya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dalam beberapa jam untuk tiba di Istambul Turki, Mariam dan Rendra sudah berada di hotel mewah yang terbaik, yang ada di kota Istanbul.
Dokter Rendra merebahkan lagi tubuhnya dan ingin tidur sesaat karena tubuhnya terasa sangat pegal. Tapi tidak dengan Mariam yang merasa pusing disertai mual. Ia tidak ingin mengatakannya kepada Rendra karena tidak ingin menganggu suaminya.
Ia hanya mengoleskan minyak kayu putih di kening dan perutnya. Tapi mual itu makin menjadi. Terpaksa ia memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.
"Astaga, apakah perjalanan jauh sudah membuatku mabuk kendaraan?" Gumamnya dalam hati.
Baru berhenti beberapa saat Mariam kembali muntah hingga terdengar oleh suaminya dari luar kamar mandi.
"Mariam!" Gumam Rendra yang melihat sekeliling kamar hotel yang ditempatinya tidak ditemukan istrinya.
Rendra lalu mengetuk pintu kamar mandi seraya memutar handle pintu kamar mandi melihat keadaan istrinya yang masih sibuk muntah.
"Sayang, kamu kenapa?" Apakah kamu salah makan atau pusing selama perjalanan jauh?" Tanya Rendra sambil memijit punggung istrinya.
"Entahlah bang, Mariam sangat lemas bang." Ucap Mariam yang hampir limbung tubuhnya.
Rendra menahan tubuh istrinya dan menggendong tubuh itu membawanya ke atas kasur.
"Baiklah, kamu berbaring ya sayang!" Aku akan memeriksa keadaan kamu." Ucap Rendra lalu mengambil stetoskop untuk memeriksa keadaan istrinya.
Rendra yang sengaja membawa peralatan medis miliknya ke manapun ia berpergian.
Rendra meletakkan stetoskop itu ke dada istrinya sambil menekan nadi tangan istrinya, lalu beralih ke perut Mariam.
__ADS_1
"Sayang!" Pekik Rendra saat mendengar sesuatu yang ada dalam rahim istrinya.