
Tuan Hendra sudah berada di kamar hotelnya yang telah di booking oleh putranya Rendra. Kedatangannya bersama nyonya Andara dengan membawa sejuta pertanyaan untuk mantan istrinya Widya.
Nyonya Widya mengundang mantan suaminya itu ke rumahnya untuk membahas hal penting bersama Rendra namun tidak dengan Mariam yang saat ini sedang mengalami ngidam parah.
Dokter Widya meminta asistennya untuk menemani Widya jika gadis itu butuh sesuatu.
Nyonya Widya juga meminta suaminya untuk tidak berangkat kerja hari itu karena dia ingin suaminya menemaninya menerima tamu dari Indonesia.
Suaminya tuan Arkana yang sudah mengetahui cerita kisah pedih istrinya bersedia menemani istrinya hari itu.
Kedatangan keluarga tuan Hendra disambut hangat oleh tuan Arkana dan istrinya Widya.
Basa-basi yang tidak begitu penting tetap dilakukan oleh kedua keluarga itu sebagai formalitas semata.
"Terimakasih mas Hendra dan mbak Andara, sudah mau datang memenuhi permintaanku." Ucap wanita paruh baya ini yang masih kelihatan awet muda dan sangat cantik di usianya saat ini.
Tuan Hendra mengagumi kecantikan istrinya yang tidak pudar walaupun waktu telah menelan usianya.
"Apa yang ingin mama bicarakan dengan kami?" Tanya Rendra yang sudah tidak sabar.
"Mas Hendra dan Rendra, maaf aku telah meninggalkan kalian tanpa ada penjelasan saat itu.
Aku harus mengakui ini, sebelum semuanya terlambat." Ucap nyonya Widya dengan suara parau.
"Sayang, ceritakan dengan tenang!" Tuan Arkana memberi kekuatan pada istrinya.
"Apa yang akan aku ceritakan nanti, tolong jangan di sela dan tolong dengarkan aku tanpa menghujatku karena ini semua bukan kehendak ku." Lanjut nyonya Widya.
"Apa yang ingin kamu katakan Widya?" Tuan Hendra nampak gusar namun di cegah oleh istrinya Andara.
Nyonya Widya mengatur nafasnya sebelum ia menceritakan tentang masa lalunya yang telah menghancurkan pernikahan pertamanya.
"Saat aku melahirkan di malam itu, aku sempat melihat jenis kelamin bayiku yaitu perempuan. Tapi, sepuluh menit kemudian ketika bayiku sedang diurus oleh dua orang suster, mereka membawa lagi seorang bayi yang aku kira itu adalah bayiku.
Saat hendak menyusuinya, perasaan aku tidak enak karena bayi yang di tidurkan di sampingku itu bukanlah bayiku.
Karena penasaran, aku membuka kain bedong yang menutupi tubuhnya dan ternyata bayi itu adalah seorang laki-laki dan itu adalah kamu Rendra.
Karena merasa memberikan bayi yang salah, aku pun memanggil lagi suster agar membawa bayiku sendiri. Putri kecilku.
__ADS_1
Tapi, di saat itu ibu mertuaku masuk ke kamarku dan mengatakan bayiku telah meninggal dan mereka menggantikannya dengan Rendra sebagai bayiku.
Flash Back
"Mami!"
"Widya, kamu tidak perlu sedih, karena bayimu yang sudah meninggal itu, aku gantikan dengan bayi sehat dan dia seorang bayi tampan yang akan meneruskan bisnis rumah sakit kita ini." Ucap Nyonya Alya sinis.
"Mami, mana mungkin bayiku meninggal, dia terlihat sehat dan ia sempat menyusu kepadaku sebelum tali pusarnya dipotong." Ucap Widya.
"Kamu sudah masuk di keluarga besar Kusuma Sastrowiyoto, dan keluarga ini tidak akan menerima pewaris pertama seorang perempuan. Jika kamu ingin pernikahanmu langgeng dengan Hendra, maka terimalah bayi itu sebagai anakmu." Ucap nyonya Alya tegas.
"Tidak, aku tidak akan menyusui anak ini, sampai mami mengembalikan lagi putriku." Pinta Widya dengan air mata berderai.
"Kau hanya seorang gadis yatim piatu yang masuk ke keluarga ini dengan cinta yang dimiliki oleh putraku Hendra padamu, jadi apa pun aturan dalam keluarga ini, kamu harus mengikutinya atau tinggalkan putraku." Ucap nyonya Alya sinis.
"Mami, di mana putriku?" Kembalikan ia kepadaku. Dia adalah darah dagingku, anak dari suamiku. Bagaimana nanti kalau mas Hendra menanyakan anak kami yang tidak mirip sedikitpun dengannya.
"Mami jangan pisahkan aku dan putriku, aku rela meninggalkan mas Hendra tapi aku harus mendapatkan putriku lagi!" Teriak Widya histeris.
"Nyonya, anda akan mengalami pendarahan hebat, kalau anda terus teriak seperti ini." Ucap suster menenangkan Widya.
"Baiklah Nyonya, kami akan mengembalikan bayi ini ke ruang bayi." Ucap Suster lalu mengangkat tubuh Rendra dan menidurkan bayi malang itu di ruang bayi.
"Kasihan sekali kamu sayang, karena keserakahan keluarga ini, kamu dipisahkan dari orangtuamu." Ucap suster.
🌷🌷🌷🌷🌷
"Mulai saat itu, aku tidak ingin merawat Rendra dan aku sibuk mencari tahu putriku. Satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran putriku adalah dokter Riyanti yang mengetahui di mana putriku karena dia yang membantu persalinanku saat itu."
"Karena setelah persalinan ku, dokter Riyanti menghilang begitu saja. Aku saat itu memeriksa semua dokumen bayi yang lahir hari itu di jam yang sama, tidak ada bayi yang meninggal."
"Saat aku sudah sehat aku berusaha menelusuri tempat persembunyian dokter Riyanti."
"Namun pencarian itu berhasil setelah usia Rendra sudah memasuki enam tahun."
Aku bertemu dengan dokter Riyanti yang sudah berada di kampungnya di Jogja dengan membuka sebuah klinik kecil berkat dari uang penutup mulut dari mami Alya.
Aku memaksanya untuk menjawab di mana keberadaan putriku. Ia hanya mengatakan bayi Rendra dan bayiku di tukar atas perintah nyonya Alya yang menginginkan pewaris laki-laki bukan seorang perempuan.
__ADS_1
"Aku tanya siapa keluarga yang telah membawa putriku yang malang, iapun enggan memberitahuku dan itu membuatku sangat frustrasi.
Sejak saat itu aku memutuskan untuk menggugat cerai suamiku dan meninggalkan Rendra yang masih berusia tujuh tahun karena aku sangat kecewa dengan keluarga besar mas Hendra terutama ibunya yang tidak punya hati menukar cucu kandungnya sendiri demi mendapatkan pewaris tahta bisnis." Tangis nyonya Widya pecah
Di saat yang sama, Mariam mendengar semua cerita itu dan ia menatap tajam wajah ibu kandungnya yang telah mengorbankan kebahagiaannya demi dirinya.
"Mama!"
"Mariam!"
"Kenapa kamu di sini sayang?" Bukankah kamu sedang sakit?"
"Mama, berarti aku dan bang Rendra adalah saudara sepersusuan?" Jika mama tidak menyusui bang Rendra saat masih bayi berarti aku yang telah menyusu pada ummi ku?" Ucap Mariam lalu kembali pingsan.
"Mariam!" Teriak Rendra ingin menangkap tubuh istrinya namun di cegah oleh tuan Arkana.
"Rendra pernikahan kalian batal demi hukum dan jauhi Mariam!" Ucap tuan Arkana.
"Tidak!" Kami masih suami istri. Tolong jangan pisahkan kami!" Teriak dokter Rendra histeris saat dua orang pelayan milik tuan Arkana mencekal lengan suami dari Mariam ini untuk mendekati Mariam.
Tuan Hendra juga sangat syok mengetahui kebenaran dari mantan istrinya selama 27 tahun yang dirahasiakan Widya selama ini.
Rasa marah dan kecewa kepada ibu kandungnya yang saat ini sudah meninggal dunia.
"Kita telah di permainkan takdir Widya. Putriku datang sendiri ke rumahku yang menjadi menantuku...hiks..hiks!" Tangis tuan Hendra pecah.
Mariam di bawa ke kamar tamu dan ditangani langsung oleh ibu kandungnya. Sementara tuan Hendra membawa pulang putranya ke hotel.
"Biarkan Mariam tinggal di sini hingga kondisinya membaik." Ucap Tuan Arkana pada istrinya.
"Terimakasih sayang, sudah mau menerima putriku. Aku sangat bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan kami dengan cara yang sangat indah walaupun bertahun-tahun harus berpisah dan aku menangisinya setiap saat.
Merindukannya setiap waktu dan tidak sekalipun berhenti berdoa, berdzikir dan beristighfar.
"Aku ingat dengan cerita kisah imam besar kita Ahmad Bin Hambal yang bertemu dengan seorang tukang roti di daerah Basrah.
Karena istighfar tukang roti yang sangat ingin bertemu dengan imam besar itu hingga Allah sendiri yang memberangkatkan imam besar itu ke Basrah hanya untuk memenuhi permintaan tukang roti tadi.
Itulah keyakinanku sayang yang tidak pernah putus asa atas Rahmat Allah." Ucap nyonya Widya sambil menunggui putrinya.
__ADS_1