PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
39. Ketahuan


__ADS_3

Dokter Rendra segera menemui Sindy dan menyampaikan kabar bahagia ini kepada Sindy.


Cek..lek..


Pintu di buka oleh dokter Rendra lalu menguncinya dengan rapat.


Sindy langsung meminta dokter Rendra menggendongnya seperti koala.


Usia Sindy yang lebih muda sepuluh tahun dari dokter Rendra, membuat gadis ini benar-benar kelihatan manja.


"Sayang aku punya kabar baik untukmu."


"Kabar baik apa mas Rendra?"


"Cium dulu dong!"


Sindy meng*lum bibir Rendra sesaat. Rendra tidak ingin merasakan bibir sensual milik Sindy, hanya sesaat. Ia malah melu**tnya lebih dalam dan menahan tengkuk Sindy agar lidahnya bergerak bebas di tenggorokan Sindy.


Sindy mendorong tubuh dokter Rendra karena sudah kehabisan nafas.


"Sayang!" Sudah nafas aku mau habis." Gerutu Sindy kesal pada kekasihnya.


"Sayang, janji ya setelah mas memberikan kabar bahagia ini, kamu harus melayani mas sampai pagi, janji!" Ucap dokter Rendra dengan wajah berbinar ceria.


"Iya sayang... Cepat katakan!" Aku sudah nggak sabar." Ucap Sindy.


"Mbak Mariam sudah sadar dari komanya." Ucap dokter Rendra dengan sengaja tidak meneruskan inti ceritanya.


"Alhamdulillah, syukurlah mas!" Kalau mbak Mariam sudah sadar." Ucap Sindy terlihat sedih.


"Mengapa sedih sayang, harusnya kamu bahagia karena mbak Mariam mengijinkan kita menikah." Ucap dokter Rendra lalu memeluk Sindy dari belakang.


"Benarkah?" Mbak Mariam meminta mas untuk menikahi aku?" Tanya Mariam antusias.


"Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa menanyakan langsung kepada mbakmu." Ucap dokter Rendra meyakinkan calon istri keduanya ini.


"Kalau begitu, aku ingin tanyakan sendiri kepada mbak Mariam."


Sindy benar-benar ingin membuktikan perkataan calon suaminya ini. Ia mendatangi kamar inap Mariam yang ada di lantai sepuluh.


Sindy membuka pintu kamar itu perlahan-lahan.


"Assalamualaikum mbak Mariam!" Sapa Sindy lembut.


"Waalaikumuslam, masuk sayang!" Ucap Mariam lirih.


"Gimana mbak kabarnya?"


"Seperti yang kamu lihat Sindy."


"Mbak, Sindy mohon maaf, kalau menanyakan hal penting ini..?"


"Meminta mas Rendra menikahi kamu?" Sambung Mariam.


"Iya, mbak Mariam, maaf kalau Sindy lancang!"


"Sindy, apakah kamu tidak ingin membuka hatimu untuk laki-laki lain?" Tanya Mariam.


"Tidak ada yang mau menerima gadis yang bekas di perkosa ramai-ramai seperti saya mbak Mariam.


"Apakah suamiku akan menerima kamu, padahal dia juga tahu kamu korban pemerkosaan." Pancing Mariam.


"Setidaknya mas Rendra bukan lelaki suci. Dia juga punya masalalu yang suram dengan meniduri banyak wanita dan bahkan dua wanita bersamaan dalam satu ranjang. Bukankah itu lebih parah?" Sindy sengaja memanas-manasi Mariam yang sekarang sudah menjadi saingannya.


"Sindy, mas Rendra mu sudah mengakui semuanya padaku seperti yang kamu ceritakan barusan. Tapi, aku tidak mempedulikan masalalu orang lain, karena semua manusia memiliki kesempatan kedua." Ucap Mariam yang juga sedang berbohong karena dia juga belum tahu semua masa lalu suaminya.


"Apakah kamu mencintai suamiku Sindy?"


"Sebesar cinta mbak Mariam padanya."


"Berarti selama ini, kamu sudah diam-diam mencintai suamiku?"


Duaaarrr..


"Mampus aku, kenapa aku bisa keceplosan begini?" Gerutu Sindy yang sudah terpancing ucapan kakaknya.


"Sindy, lebih baik kamu menikah dengan mas Rendra dari pada kalian berzina siang dan malam sampai lupa waktu dan tidak menjaga perasaan aku sama sekali." Ucap Mariam makin membuat jantung Sindy hampir copot.


Deggg...


"Bagaimana mbak Mariam tahu kami bercinta setiap waktu?" Gumam Sindy membatin.


Gadis ini mulai keringat dingin dan duduk dengan gelisah.


"Mariam, aku melihat semuanya adegan panas kalian di ranjang suamiku di ruang kerjanya dan juga adegan kalian di kamarku sendiri di apartemen milikku." Ucap Mariam dengan wajah datar.


Saat aku menjalani operasi sesar dan saat aku koma, kalian tetap melakukan zina tanpa henti.


"Aku curiga, jangan-jangan pemerkosaan itu hanya mengada-ada, tapi kamu sengaja menggoda mereka hingga mereka memperkosa dirimu.

__ADS_1


Duaaarrr....


Kuping Sindy makin panas mendengar ucapan seorang Mariam yang terkenal lembut kini berubah seperti macan yang siap menerkamnya.


Tidak ingin berlama-lama di kamar Mariam, Sindy langsung kabur dari hadapan Mariam.


Ia kembali ke ruang kerja dokter Rendra dengan wajah pucat, tubuh gemetar dan nafasnya tersengal-sengal seakan habis di kejar binatang buas.


"Sindy, ada apa sayang?" Mengapa wajah kamu begitu pucat, apakah ada sesuatu yang terjadi pada Mariam?" Tanya dokter Rendra panik.


Sindy tertawa sinis, lalu menatap wajah tampan Rendra. Alih-alih bertobat Ia lalu me**at bibir Rendra dengan rakus dan Rendra yang memiliki syahwat tinggi menerima ciuman itu dengan membalasnya makin ganas.


Sindy seakan membalas sakit hatinya pada kakaknya Mariam. Ia mengajak Rendra di kasur empuk itu dan memperlihatkan adegan yang lebih heboh dari sebelumnya.


Rendra pun makin menjadi-jadi mengimbangi permainan Sindy yang lebih dari permainan film dewasa.


"Kamu sengaja menjebak aku Mariam, sekarang lihatlah bagaimana aku bisa memuaskan suamimu." Gumam Sindy membatin.


Mariam membuka pintu kamar suaminya di ruang kerjanya dan menyaksikan dua orang itu sedang mencari kenikmatan.


"Mariam!"


Dokter Rendra menjauhi tubuh Sindy dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Rupanya kamu tidak sabar menikahi adikku bang Rendra. Kenapa berhenti tolong lanjutkan saja dengan gadis murahan itu." Ucap Mariam lalu melemparkan ponselnya ke dada suaminya.


Kalian berdua sangat menjijikkan, aku ingin kita bercerai bang Rendra." Ucap Mariam lalu meninggalkan kamar pribadi suaminya.


"Mas Rendra, mbak Mariam sudah menyaksikan percintaan panas kita melalui rekaman CCTV melalui ponselnya." Ucap Sindy.


Dokter Rendra segera membuka video rekaman itu dan sangat syok melihat semua adegan panasnya dengan Sindy, baik di kamar pribadinya di ruang kerjanya maupun di kamar mereka di apartemen miliknya.


Semuanya terekam jelas karena CCTV itu kelihatan sangat dekat.


"Di mana dia menaruh rekaman itu?" Tanya dokter Rendra sambil mencari-cari di sekitarnya.


"Pakailah bajumu sayang dan maaf aku harus bicara dengan Mariam." Ucap dokter Rendra.


Dokter Rendra mencari istrinya Mariam di ruang inapnya namun tidak ditemukan. Ia lalu mencari lagi di ruang bayi.


"Suster apakah istriku mengunjungi bayi kami?" Tanya dokter Rendra.


"Maaf dokter, tadi nyonya Mariam sudah membawa pulang bayi anda." Ucap suster jaga di ruang bayi tersebut.


"Terimakasih Suster!" Dokter Rendra sengaja kelihatan tetap tenang agar tidak dicurigai oleh para staffnya.


"Bunda, apakah baby Daffa sudah mandi?"


"Tadi pagi sudah di bawa pulang oleh bibi Luky. Apakah mereka tidak memberi tahukan kamu?" Tanya nyonya Andara heran.


"Ok, bunda!" Rendra langsung pulang ya."


Rendra mengendarai mobilnya seperti orang gila, ia buru-buru menuju kamar apartemennya dan ternyata tidak ada satu orangpun di apartemen miliknya.


"Mariam, kamu ke mana membawa anak-anakku?" Teriak dokter Rendra seperti orang gila.


Ia lalu kembali ke mobilnya. "


Bagaimana bisa aku menghubungi dirinya, ponselnya saja ada padaku." Gumam dokter Rendra seraya menambahkan kecepatan mobilnya menuju kawasan puncak rumah orangtuanya.


Sementara dokter Rendra menuju puncak, Mariam malah menuju bandara Soetta dengan dua orang pelayannya menuju Istambul Turki.


Semuanya duduk di first class. sambil menggendong bayi Mariam.


"Neng, mengapa kita tiba-tiba berangkat ke Istanbul?" Bukankah neng Mariam baru siuman?" Tanya bibi Ijah dan bibi Luky.


"Nanti saja bibi-bibiku sayang, aku akan menjelaskan kepada kalian setelah tiba di rumah mama Widya.


"Neng Mariam, ya Allah. Apa yang terjadi pada keluarga neng?" Bibi ijah makin bingung." Ucap bibi ijah sedih.


🌷🌷🌷🌷🌷


Setibanya di depan pintu gerbang rumah ibunya, Mariam tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia memencet tombol pintu itu berkali-kali.


Kebetulan nyonya Widya baru pulang dari rumah sakit dan melihat putrinya sedang berdiri di luar pagar rumahnya dengan menggendong satu bayi.


"Mariam!" Panggil nyonya Widya.


"Mama!" Mariam membenamkan wajahnya di dada ibunya.


"Ayo, kita masuk sayang!" ajak mama Widya sambil membuka pintu rumahnya.


"Mama, di mana ayah Arkana?" Tanya Mariam.


"Ayahmu sedang ke luar negeri, urusan bisnis." Ucap mama Widya.


"Kalian makan dulu ya baru ngobrol." Titah Nyonya Widya.


Mereka bertiga menikmati makanan mereka dengan tenang. Makanannya sangat enak, tapi hati tidak mendukung menikmati makanan lezat itu.

__ADS_1


"Mariam ada apa sayang?"


Mariam tidak langsung menjawab pertanyaan mamanya. Ia meminta ijin pada kedua pelayannya agar memberikan waktu mereka berdua untuk ngobrol.


"Bibi Luky dan bibi Ijah. Apakah saya boleh bicara berdua dengan mama Widya?"


"Oh, silahkan neng Mariam!" Bibi Luky dan bibi Ijah masuk kamar dulu ya, temani baby Daffa dan si kembar." Ujar bibi Luky lalu menarik tangan bibi Ijah yang pingin kepo.


Nyonya Widya mengajak putrinya ke perpustakaan miliknya. Keduanya mulai membuka suara.


"Mama!" Mariam mohon mama jangan kaget jika mendengar semua apa yang Mariam ceritakan kepada mama nanti.


Nyonya Widya buru-buru mengangguk karena sangat penasaran.


"Mama, suamiku Rendra selingkuh.


Deggg...


"Sama siapa Mariam?"


"Dengan Sindy mama."


Duaarrr....


"Kenapa bisa terjadi perselingkuhan?"


"Awalnya, Mariam meminta Sindy menggantikan posisi Mariam sebagai asisten pribadinya bang Rendra agar Sindy tidak memikirkan permasalahan yang telah merenggut masa depannya.


"Saat keduanya sudah bekerja seperti biasa. Pulang pergi seperti biasa.


Tapi, Mariam yang tidak sengaja ingin melihat keadaan bang Rendra melalui CCTV rumah sakit. yang Mariam pasang diam-diam di kamar pribadinya bang Rendra yang ada di ruang kerjanya.


Mariam ingin memastikan bahwa bang Rendra sudah meninggalkan tabiat buruknya yang selalu meniduri wanita sebelum menikahi Mariam.


Setiap saat Mariam mengawasi bang Rendra kerja dan hingga akhirnya kami di pisahkan. Itupun Mariam tetap mengawasinya sampai di setiap mobil miliknya, Mariam meletakkan CCTV tersembunyi di tempat yang aman yang tidak diketahui oleh bang Rendra.


Hari itu Mariam sengaja melihat keadaan ruang kerjanya dan di situ Sindy sedang merayu suamiku dengan tubuhnya dan bang Rendra yang sudah lama tidak mendapatkan jatah dari Mariam, tergiur dengan pemandangan itu dan melakukan zina di kamar pribadinya bang Rendra.


Mariam langsung merasakan kontraksi hingga Mariam menghubungi keduanya, tetap saja mereka asyik bercinta.


Akhirnya Mariam berangkat ke rumah sakit di antar sopir. Saat Mariam dinyatakan koma hingga dua Minggu. Ketika Mariam sadar, Mariam meminta bang Rendra untuk menikahi Sindy supaya terbebas dari zina.


Mariam mengira mereka hanya melakukan hubungan itu hanya di rumah sakit, tapi ini berlanjut sampai ke kamar pribadi kami di apartemen milik kami.


Saat itu aku yang tidak kuat lagi menahan geram pada Sindy ingin bicara dengan gadis itu. Sebelum aku memintanya datang, dia yang terlebih dahulu mendatangi aku dan mulai memasang wajah munafiknya.


Aku mulai memancingnya dengan pertanyaan dan dia mulai tersudut. Karena sangat marah padaku, ia malah menantang aku dengan bercinta lagi dengan bang Rendra dengan memperlihatkan adegan hot mereka di depan rekaman CCTV.


Aku pun mendatangi keduanya yang sedang bercinta. Rendra begitu kaget dengan kehadiran aku sedangkan sindy terlihat cuek tanpa rasa bersalah. Aku melemparkan ponsel milikku di depan bang Rendra.


Di saat dia menonton adegan mesumnya dengan Sindy, aku langsung kabur membawa bayi kembarku dan janjian dengan bibi Ijah dan bibi Luky di pintu masuk tol Bintaro.


Kami langsung berangkat ke bandara menuju Istambul Turki.


Di sinilah kami saat ini, mama. Aku memboyong ketiga cucumu dan dua pelayanku." Ucap Mariam.


Jantung nyonya Widya seakan mau berhenti saat mendengar semua cerita putrinya tentang perselingkuhan Rendra dan Sindy.


"Ternyata aku sudah piara ular." Ucap Nyonya Widya yang sangat kecewa dengan tampang lugu Sindy.


"Sudahlah mama!" Aku sudah mengikhlaskan bang Rendra menikahi Sindy dari pada mereka melakukan zina di belakangku." Ucap Mariam terlihat tegar.


"Ya Allah, Mariam kenapa kamu semudah itu menyerahkan kebahagiaanmu pada ular itu?"


Mengapa tidak berjuang untuk mempertahankan Rendra?" Tanya Nyonya Widya.


"Untuk apa mempertahankan sesuatu yang sudah tidak lagi menghargai nilai kesetiaan dan komitmen untuk hijrah ke arah yang lebih baik." Ujar Mariam dingin.


"Terserah padamu sayang, yang jelas lakukan yang menurutmu tetap merasa bahagia."


"Aku punya Allah dan mama Widya yang sangat mencintai aku. Apakah aku boleh tinggal di sini mama sampai perceraian aku dan bang Rendra di proses secara agama?"


"Tempatmu di sisi mama sayang, jangan ke manapun sampai hatimu mantap meninggalkan suamimu." Ucap mama Widya dengan berkaca-kaca.


Keduanya saling berpelukan dan menangis, melepaskan semua kekecewaan yang telah membelit hati.


Dokter Rendra yang tidak bisa menemukan istrinya di puncak Bogor, kembali lagi ke apartemen miliknya dengan wajah lelah memasuki kamar apartemennya.


Sindy yang sedang menunggu sang kekasih tertidur dengan bikini di ruang tamu.


"Sayang, apakah kamu sudah menemukan mereka?" Tanya Sindy.


"Mereka tidak ada di manapun Sindy, mereka telah meninggalkan aku." Ucap dokter Rendra sambil tidur di pangkuan Sindy.


"Istirahatlah sayang!" Besok kamu bisa mencari lagi mereka. Entah di Bandung atau di tempat yang biasa di kunjungi Mariam." Ucap Sindy menghibur kekasihnya.


Rendra tidak ingin lagi bicara apapun tentang kepergian istrinya.


Ia menarik penutup bukit kembar Sindy dengan kasar. Sindy sangat senang mendapatkan perlakuan kasar dari calon suaminya ini.

__ADS_1


__ADS_2