
Dokter Rendra mengangkat istrinya sendiri menjadi asisten pribadinya. Hal itu ia lakukan karena ingin selalu dekat dengan sang istri.
Satpam yang pernah menggiring Mariam ketika gadis itu pernah mengacaukan pesta ulang tahun rumah sakit milik dokter Rendra, terkejut melihat Mariam sudah menjadi istri bos mereka.
Para staf rumah sakit sudah mengenal Mariam ketika menghadiri pesta pernikahan dokter Rendra.
Dokter Rendra dan Mariam menikmati kebersamaan mereka setiap saat. Mulai dari berangkat kerja bersama, melakukan sholat Dhuha bersama maupun sholat wajib selalu saja bersama kecuali berada di rumah, Mariam meminta suaminya untuk sholat di masjid bersama ayah mertuanya.
Sedangkan di rumah, Mariam bertindak sebagai imam untuk ibu mertua, adik ipar dan para pelayan wanita untuk sholat di ruang keluarga bersama.
Adanya Mariam di mansion itu, banyak membawa perubahan dalam keluarga dokter Rendra. Setiap habis sholat isya, Mariam mengajar ngaji keluarga suaminya termasuk suaminya.
Tuan Hendra selalu terharu setiap kali mendengar tauziah yang disampaikan oleh Mariam. Ia merasa ada keterikatan emosional antara Mariam dengan dirinya. Sejak pertama kali bertemu Mariam, ia merasa ada sesuatu yang ia telah temukan dalam hidupnya.
Seakan ada misteri yang belum terungkap antara mereka.
Siang itu, Mariam dan Rendra sedang melakukan sholat ashar berjamaah di ruang kerjanya.
Rendra yang sudah siap menjadi imam untuk istrinya mulai percaya diri untuk membaca surah pendek yang ada dalam juz 30 itu.
Usai mengucapkan salam, Mariam mencium tangan suaminya dengan takzim.
"Sayang, kita pulang sekarang ya!" Ucap Rendra usai mencium pucuk kepala istrinya.
"Bukankah mas, masih ada pasien?"
"Aku gantian dengan dokter Danu nanti malam."
"Kenapa mas tidak bilang sebelumnya?"
"Dokter Danu sedang ada urusan mendadak sayang. Istrinya malam ini mau menjalani operasi sesar untuk anak pertama mereka." Dokter Rendra merapikan mukena istrinya lalu mengajak Mariam keluar dari ruang kerjanya.
"Kenapa mas kepingin buru-buru pulang??"
"Karena nanti malam aku tidak tidur denganmu, berarti jatahku hilang. Maunya sekarang karena aku mulai cemburu dengan dokter Danu yang sebentar lagi memiliki momongan."
"Astaghfirullah bang, bukankah anak itu adalah rejeki dari Allah. Seratus kali sehari bercinta, kalau belum dikasih sama Allah, percuma juga sayang."
"Apa salahnya kalau kita ikhtiar sayang. Mungkin kita bercinta untuk kesekian kalinya, siapa tahu kali ini akan berhasil." Imbuh dokter Rendra.
"Baiklah sayang!" Sebagai istri aku tidak boleh banyak protes apa lagi untuk menolak ajakan suami karena malaikat akan melaknatku sampai pagi." Ujar Mariam
"Inilah yang aku suka darimu sayang, setiap kali ada suatu pokok bahasan yang kita bahas, kamu selalu menghubungkan dengan ayat Allah ataupun sabda Rasulullah."
"Apa salahnya kalau kita saling menasehati bang, lagi pula ada banyak hal yang Abang mungkin belum tahu, harus aku katakan walaupun itu hanya satu ayat. Andapun Abang tahu, aku wajib mengingatkan agar Abang kembali ke jalan yang benar."
"Sayang, kadang aku merasa tidak pantas memilikimu karena minimnya agama yang aku tahu. Harusnya aku yang menjadi imammu yang harus banyak mengajarkan kamu tentang agama."
"Jangan merasa malu karena ilmu seseorang, tapi tanamkan rasa cemburumu pada ilmu agama yang dimiliki oleh orang lain agar kamu termotivasi untuk lebih baik dari orang itu."
"Benarkah?" Berarti cemburuku jadi dobel sayang. Aku sangat cemburu jika kamu bicara dengan lawan jenis tanpa sepengetahuan aku. Makanya aku tidak suka kalau kamu jadi dokter psikolog yang harus berhadapan dengan banyak pasien."
"Dasar suami posesif!" Mariam cemberut menanggapi perkataan suaminya yang terlalu menjaga ruang geraknya.
Sudah tiga bulan menikah dengan Rendra, belum ada tanda-tanda kehamilan pada diri Mariam. Dokter Rendra selalu mengawasi Mariam agar tidak terlalu bekerja keras baik di rumah maupun di rumah sakit, agar istrinya cepat hamil.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
"Tumben pulang sore sayang?" Tanya nyonya Andara pada putra dan menantunya."
"Abang Rendra nanti malam ganti shif dengan temannya dokter Danu." Sepertinya Mariam tidak suka ditinggal sendirian oleh suaminya.
Sejak menikah dengan Rendra, Mariam sudah terbiasa selalu bersama dengan suaminya kecuali ada pasien yang harus menjalani operasi darurat dan itu dimaklumi oleh Mariam karena dia pernah ada di posisi yang sama, di mana keluarga pasien mengharapkan pertolongan dokter untuk menolong orang yang mereka cintai.
"Mariam, apakah kamu tidak suka Rendra meninggalkan kamu di malam hari?"
"Tidak juga bunda."
"Tapi, kenapa kamu kelihatan sedih?"
"Aku tidak apa bunda, hanya baru merasakan akan ditinggalkan bang Rendra malam ini." Jawab Mariam.
"Sayang, beginilah menjadi istri seorang dokter. Kita harus merelakan sebagian waktu kita untuk mereka. Kadang kamu harus tidur sendirian sepanjang malam. Dan ketika suamimu pulang pagi, dia harus tidur untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang lelah. Tapi besok hari libur, mungkin Rendra sudah mempertimbangkan akan menggantikan waktumu malam ini dengan hari esok. Berarti, besok kalian bisa bersantai." Ucap Nyonya Andara.
"Terimakasih bunda, kalau begitu Mariam ke atas dulu." Mariam menemui suaminya yang sudah duluan mandi.
Untuk bisa menyenangkan suaminya, Mariam sudah menanggalkan bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi dengan tubuh polos.
Tanpa diketahui oleh Rendra yang sedang berdiri di bawah shower, Mariam memeluk suaminya dari belakang. Tubuh keduanya yang sudah polos saling tersentuh, seperti sengatan listrik yang tiba-tiba membuat milik suaminya membengkak dibawah sana.
Mariam memainkan milik suaminya dalam genggaman tangannya. Rendra meringis nikmat merasakan sensasi luar biasa dari permainan tangan istrinya pada miliknya.
"Akkkk!" Desa* Rendra yang tidak kuat lagi ketika Mariam mengeksplorasi ke dalam mulutnya hingga Rendra terpekik, lalu menarik tubuh istrinya agar berdiri sejajar dihadapannya.
Keduanya saling memagut bibir dan menyentuh tempat sensitif mereka. Rendra memasukkan miliknya di antara belahan paha istrinya dan memacu tubuh itu dibawah guyuran air shower yang hangat.
"Sayang, akkhhh!" Erangan dan lenguhan makin menggema bersama suara gemericik air shower.
Tidak puas permainan itu di kamar mandi, Rendra menggendong tubuh istrinya membawa ke kasur mereka.
Keganasan Rendra di atas tempat tidur, membuat Mariam seakan sedang terbang di negeri awan.
Tubuh keduanya kembali bergetar setelah setengah jam menahan gejolak birahi. Rendra menyemburkan benih miliknya kedalam rahim istri dan berharap Mariam segera hamil.
Rendra tidak segera mencabut miliknya dari sarang istri. Ia ingin memastikan benihnya yang tumpah itu sudah tersalurkan dengan baik ke wadahnya.
"Sayang, selamat datang dirahim mami." Pintanya lembut.
Mariam mengamini permohonan suaminya." Aamiin, semoga kita bertemu secepatnya." Sambung Mariam yang menginginkan hal yang sama pada suaminya.
"Huhh!" Rendra menghembuskan nafasnya kasar, lalu mengajak lagi istrinya mandi junub.
Mariam menikmati setiap momen itu dengan perasaan bahagia.
"Kita akan makan malam bersama ayah bunda?" Tanya Mariam melihat suaminya sedang berbaring dengan baju buthtub yang masih melekat di badan suaminya.
"Kalau bisa minta diantar ke kamar saja sayang karena aku lagi malas turun." Ujar Rendra manja.
"Apakah orangtuamu tidak tersinggung dengan perilaku kita?"
"Mereka tahu kita ini pengantin baru sayang, tolong jangan kuatir berlebihan seperti itu." Timpal Rendra memeluk istrinya.
"Baiklah, aku telepon pelayan dulu untuk mengantarkan makan malam untuk kita." Mariam bicara dengan pelayannya.
"Bibi, mohon maaf, tolong antarkan makan malam kami ke ke kamar dan sampaikan permohonan maaf kami kerena tidak bisa makan malam bersama ayah dan bunda." Ucap Mariam sopan.
__ADS_1
"Baik nona muda!"
Bibi Ira menutup telepon dan menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk tuan dan nona muda yang saat ini sedang berbulan madu.
Ini bukan hal pertama yang biasa dilakukan oleh Rendra. Suami dari Mariam ini sering makan sendirian di kamarnya. Hanya ketika ulang tahun ayahnya atau adik tirinya, ia baru mau bergabung bersama keluarganya itu.
Biasanya, Rendra bersikap dingin kepada ayahnya sebelum menikahi Mariam. Ia merasa perpisahan ibu kandungnya dan ayahnya pasti ada sangkut pautnya dengan neneknya yang memaksa nyonya Andara menggantikan tempat ibunya.
"Sayang, kalau nanti libur kita ke puncak yuk!" Ajak Mariam yang sudah kangen dengan kampung halamannya.
"Insya Allah sayang, nanti akan ke sana." Ucap dokter Rendra yang sedikit malas ke kampung istrinya.
"Sayang, mungkin kita butuh tempat yang tenang untuk bisa bulan madu. Kenapa kita tidak ke Bali saja." Ucap dokter Rendra.
"Baiklah sayang!" Terserah kamu saja." Ucap Mariam mengalah kepada suaminya.
Tidak lama, ponsel dokter Rendra berdering. Rendra segera menjawab panggilan itu yang ia kira dari pasiennya.
"Hallo sayang!" Sapa seorang wanita sangat mesra pada Rendra.
Rendra tersentak karena ia sangat mengenal nada suara itu.
"Lana..?"
"Dari siapa sayang?" Tanya Mariam curiga.
"Mungkin ini salah sambung." Rendra buru-buru mematikan ponselnya karena tidak ingin menyakiti istrinya.
Rendra meletakkan ponselnya dan masuk ke dalam walk in closet.
Tidak lama kemudian bunyi ponsel Rendra berdering lagi, kali ini Mariam yang menerimanya.
"Hallo, assalamualaikum!" Sapa Mariam lembut.
"Maaf saya bicara dengan siapa ya?" Tanya wanita itu dari seberang telepon.
"Saya istrinya dokter Rendra, apakah ada yang ingin mbak sampaikan?" Tanya Mariam ramah.
"Istri?" Sejak kapan dokter Rendra memiliki istri?" Bukankah lelaki hidung belang itu tidak ingin terikat dengan wanita manapun." Ucap Lana dengan bahasanya yang kasar.
"Maaf mbak, kalau tidak penting, saya matikan ya." Ucap Mariam.
"Tunggu dulu!" Kalau benar anda istrinya Dokter Rendra, anda harus tahu kalau dokter Rendra....?"
"Banyak wanita penghibur seperti mbak, dalam hidupnya?" Sambung Mariam membuat Lama terperanjat.
"Berarti kamu juga dong salah satu wanita penghiburnya?" Jangan-jangan kamu hamil anaknya terus dokter Rendra terpaksa menikah dengan kamu?"
"Maaf mbak!" Itu bukan urusanmu, bukan kapasitas saya untuk menjelaskan hidup saya pada anda. Anda adalah bagian dari masa lalu suami saya, jadi anda tidak berhak atas Dokter Rendra karena dia sudah memiliki saya sebagai istrinya yang sah terimakasih!" Mariam menutup ponsel suaminya dengan nafas tersengal menahan amarah.
Rendra keluar dengan menggunakan baju santai dan duduk lagi di samping istrinya yang terlihat sangat kesal.
"Ada apa sayang?" Tanya dokter Rendra.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa sangat lapar saat ini." Ucap Mariam yang tidak ingin menceritakan perdebatannya dengan Lana, wanita masa lalu suaminya.
"Ya Allah, berapa wanita lagi yang akan menghubungi suamiku?" Gumam Mariam dalam diamnya.
__ADS_1
Mariam masuk ke kamar mandi ingin mengambil air wudhu untuk menghilangkan amarahnya yang sudah mengusai hati dan pikirannya saat ini.