PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
22. Ada apa?


__ADS_3

"Mama sudah pulang?" Tanya Mariam dengan wajah sembab.


"Ada yang ketinggalan, maksud mama ada berkas kerjaan mama ketinggalan. Mama mau ambil di kamar mama. Tapi mama dengar kamu menangis. Jadi mama langsung masuk ke kamarmu tanpa mengetuk pintu. Maafkan mama, Mariam. Tapi, apa yang membuatmu menangis?" Apakah perutmu sakit sayang?" Tanya Nyonya Widya dengan perasaan cemas.


"Mariam sangat kangen dengan Indonesia mama. Mariam ingin pulang dan melahirkan di sana. Mariam ingin lahir di kampung Mariam sendiri....hiks..hiks..!"


"Sayang, bukankah seorang anak perempuan ketika ingin melahirkan ditungguin ibunya?" Mama ada di sini, tapi mengapa kamu malah ingin melahirkan di Jakarta. Apakah ada yang kurang dengan perhatian mama?" Katakan saja sayang!" Pinta Nyonya Widya.


"Mama sangat baik padaku. Aku senang bisa bertemu dengan mama di sini. Aku bersyukur Allah mengijinkan aku kembali merasakan kasih sayang seorang ibu setelah, ummiku meninggal saat usiaku lima tahun.


Yang lebih membuatku bahagia, aku mengetahui mama Widya adalah ibu kandungku sendiri. Tapi hatiku sangat sedih saat aku tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sempurna, di saat aku mengetahui suamiku adalah saudara sepersusuan aku sendiri. Aku belum tahu kebenaran yang belum terbukti. Bagaimana mungkin aku harus hidup dalam ketidakpastian." Mariam mencurahkan isi hatinya.


"Sayang, mama tahu ini tidak mudah untuk dijalani kalian berdua. Tapi kalau mama tidak mencegah hubungan kalian berdua, semua kita akan mendapatkan dosa." Timpal nyonya Widya.


"Mama, biarkan aku menyelidiki sendiri kebenarannya. Aku tidak bisa hidup tanpa suamiku. Apa lagi melahirkan seorang diri tanpa ditemani suami, bukankah ummi sangat zholim pada aku dan putraku saat ini?" Suara Mariam sedikit tinggi meluapkan kekesalannya kepada nasib pernikahannya.


"Sayang, dengarkan mama!" Ayah tirimu sedang menyelidiki kasus ini dengan detektif swasta yang dapat dipercaya. Tidak bisakah kamu menunggu sesaat saja agar kita bisa selamat dari ancaman api neraka?" Nyonya Widya memberi pengertian kepada putrinya yang saat ini benar-benar terpuruk.


"Untuk apa melibatkan orang lain dalam urusan internal keluarga kita?" Bagaimana kalau mereka jadikan ini gosip yang akan meruntuhkan reputasi semua keluarga besar kita bukan?" Timpal Mariam.


"Mariam, tolong bersabarlah, mama tidak ingin kondisi yang tidak pasti ini berlarut-larut karena mama ingin melihat kamu bahagia sayang. Mama mohon tetaplah kuat. Kamu bukan wanita sembarangan. Kamu di besarkan di lingkungan pesantren. Kamu dididik dengan baik oleh Abi dan ummi yang sangat mengerti agama Islam. Kamu kuliah mengambil jurusan psikologi. Bukankah dengan ilmu kamu biasa mengendalikan setiap ujian yang saat ini ditimpakan kepada kamu dan Rendra." Ucap nyonya Widya.


"Ya Allah mama!" Ini sangat tidak adil bagiku dan bang Rendra. Kami dipisahkan dari keluarga kandung kami sendiri. Setelah dipersatukan oleh Allah, mengapa harus dihadapkan dengan kenyataan yang sangat menyakitkan seperti ini?"


Mariam memilih masuk kembali ke dalam selimutnya karena terlalu lelah berdebat dengan ibu kandungnya yang tidak paham atas keinginannya.


"Istirahatlah sayang!" Insya Allah, badai pasti berlalu."

__ADS_1


Nyonya Mariam meninggalkan kamar putrinya dan kembali ke rumah sakit.


Hatinya merasakan kegundahan yang sama seperti putrinya saat ini. Kebenciannya terhadap ibu mertuanya yang sempat padam karena berlalunya waktu, kini kembali membara saat mengetahui putrinya yang menerima semua hukuman atas perbuatan ibu mertuanya tersebut.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Mariam mengunjungi salah satu Pasaraya, untuk membelikan kebutuhan bayinya. Ia melakukannya seorang diri tanpa di temani oleh ibunya karena nyonya Widya sedang ada pelatihan di luar kota Istanbul.


Mariam memilih beberapa pernak-pernik kebutuhan bayinya walaupun tidak begitu banyak yang ia ambil karena pertumbuhan bayi lebih cepat setiap bulannya jadi sangat mubasir kalau belinya kebanyakan.


"Apakah butuh bantuan nyonya?" Tanya seseorang di balik punggung Mariam.


"Ko suaranya seperti bang Rendra?" Gumam Mariam mendengar seseorang menegurnya.


"Tunggu, dia menggunakan bahasa Indonesia?" Mariam membalikkan badannya dan benar itu adalah suaminya sendiri.


Rendra langsung memeluk istrinya tanpa rasa sungkan kepada para pengunjung Pasaraya itu yang sedang melihat kemesraan mereka.


"Ko bang Rendra, tiba-tiba ada di sini?" Apakah Abang sedang menguntit aku?" Tanya Mariam dengan rona bahagia.


"Iya, sayang!" Awalnya aku ingin nekat menemui kamu di rumah mama. Tapi saat aku ingin memarkirkan mobilku, aku melihat kamu membawa mobil sendiri menuju ke sini. Aku ikuti mobilmu sambil mengawasi kamu." Ucap Rendra.


"Astaga, bang Rendra!" Ini sangat surprise sayang. Aku hampir jantungan mendengar suara bang Rendra karena merasa tidak mungkin ada orang yang memiliki suara yang persis sama dengan bang Rendra. Nah, aku baru merasa yakin karena kata-katanya menggunakan bahasa Indonesia." Ucap Mariam.


Dokter Rendra mengajak istrinya mengunjungi beberapa restoran yang menyajikan makanan lezat. Keduanya menghabiskan waktu dengan bercanda ria. Mariam menunda niatnya untuk membeli keperluan bayinya. Saat ini hatinya sangat bahagia karena bisa bersama dengan sang suami yang sudah sangat lama ia rindukan.


"Apakah bang Rendra menginap di hotel?" Tanya Mariam.

__ADS_1


"Iya sayang, hotel yang sama saat kita ingin bulan madu dulu. Dan kamarnya sama karena aku sudah booking seminggu yang lalu." Ucap Rendra sambil mengelus perut besar istrinya.


"Apakah aku boleh main di hotel, bang Rendra?" Tanya Mariam.


"Tentu saja sayang!" Ayo kita ke sana sekarang. Apakah kamu ingin mau makan lagi?"


"Tidak!" Aku ingin main ke hotel bang Rendra."


Keduanya jalan sambil merangkul pinggang. Mariam selalu tersenyum karena hari ini dilimpahkan kebahagiaan yang begitu banyak untuknya.


Ia sepertinya lupa statusnya saat ini. Ia ingin mengabaikan semua hal tabu yang saat ini menjadi pemisah antara mereka berdua. Ia hanya sedang mengikuti kata hatinya tanpa mengindahkan lagi setiap larangan yang disampaikan oleh ibu kandungnya.


Setibanya mereka di hotel, Rendra meminta Mariam untuk duduk di tempat tidurnya. Ia membuka sepatu milik Mariam dan membaringkan istrinya itu.


Tangannya masih saja mengusap perut besar Mariam. Tiba-tiba bayinya bergerak ruang menendang-nendang tangannya.


"Auhhgt!" Pelan-pelan sayang." Jerit Mariam kesakitan karena bayinya merasakan kebahagiaan yang sama seperti dirinya kini.


"Apakah dia selalu seperti ini sayang?" Tanya Rendra bahagia karena bisa merasakan gerakan bayinya dalam perut istrinya.


"Gerakannya tidak seheboh ini bang. Mungkin dua sangat gembira melihatmu datang menemuinya, makanya dia tidak pedulikan mamanya kesakitan seperti ini." Ucap Mariam.


"Mariam, aku merindukanmu sayang." Suara bisikan Rendra tepat dikuping Mariam sambil meremas bukit kembar Mariam yang membuatnya sangat tergiur.


Bagai terhipnotis karena kerinduannya yang sama, Mariam membiarkan aksi suaminya pada tubuhnya.


"Aku juga merindukan kamu bang. " Mariam menatap dalam wajah sang suami dan Rendra mendaratkan ciumannya pada bibir ranum sang istri.

__ADS_1


__ADS_2