Pesona Janda Kembang

Pesona Janda Kembang
Part.34


__ADS_3

Hari ini Raisa memutuskan untuk ikut dengan suaminya ke lokasi shooting. Sebenarnya Reynard melarang, namun Raisa tetap memaksa ingin ikut. Akhirnya Reynard memperbolehkannya ikut.


Raisa duduk di salah satu kursi sambil menatap suaminya yang sedang beradu akting dengan Siska. Raisa senang karena saat adegan ber*ciuman, Reynard dan Raisa tidak sampai menyatukan bibir mereka. Itu berarti suaminya tidak mau di sentuh oleh wanita lain. Namun dari arah kamera terlihat seperti nyata.


Setelah pengambilan beberapa adegan, kini semuanya beristirahat sebentar. Reynard menghampiri istrinya yang sedang duduk sendirian.


"Sayang, kok kamu sejak tadi diam saja disini. Kamu tidak mau beli minum atau apa gitu?"


Raisa menggelang-gelengkan kepalanya.


"Kasihan loh dede bayinya nanti kelaparan. Kita cari makan yuk!" ajaknya.


"Baiklah," Raisa beranjak dari duduknya. Lalu menggandeng tangan suaminya menuju ke restoran depan lokasi shooting.


Raisa yang mengakunya tak lapar, namun dia terlihat lahap seperti sedang kelaparan. Sesekali Reynard menyuapinya.


Ternyata dari meja yang tak jauh dari tempat mereka, ada Siska bersama Aldo. Siska menatap Aldo yang sejak tadi menatap mantan istrinya.


"Ekhm, sepertinya ada yang ingin balikan sama mantan nih," ucap Siska.


Aldo menatap Siska yang duduk di depannya.


"Kamu tidak cemburu?"


Siska tersenyum menatap Aldo lalu dia berkata, "Tidak," ucapnya.


"Kamu yakin sudah tidak mencintaiku?" tanya Aldo, yang mencoba untuk meyakinkan.


"Entahlah, perasaan ini kok hilang perlahan-lahan. Tapi sepertinya jika menggoda suami orang, itu bisa menjadi tantangan besar,"ucap Siska, sambil menatap Reynard.


"Kamu suka sama Reynard?"


"Entahlah, tapi kalau aku bersatu sama dia, nanti karirku pasti melejit."


"Kalau begitu kita bekerja sama," Aldo mengangkat tangannya dan meminta berjabat tangan dengan Siska.


Siska menjabat tangan Aldo sambil menyunggingkan senyum liciknya.


°°°


Setelah seharian di lokasi shooting, kini Reynard dan Raisa sudah ada di perjalanan pulang.


Reynard mendengar ponsel miliknya berbunyi.

__ADS_1


"Mas, itu ada yang telfon loh, coba angkat!"


Reynard mengambil ponsel miliknya lalu dia mengangkat panggilan telfon itu. Kebetulan Pak Alex yang menelfonnya dan memintanya untuk bertemu nanti malam.


Raisa melihat suaminya yang sudah selesai bertelfonan.


"Mas, siapa yang telfon?" tanya Raisa.


"Pak Alex, tapi sedikit aneh loh. Masa Pak Alex meminta untuk bertemu nanti malam di cafe. Biasanya kalau ada hal penting selalu menyuruh pergi ke kantor saja."


"Mungkin urusan sangat mendesak, Mas."


"Entahlah, aku juga tidak tahu," ucapnya.


Reynard kembali fokus mengemudikan mobilnya.


Kini keduanya sudah sampai di rumah. Raisa dan Reynard segera beristirahat di kamar.


Raisa sedang tiduran di paha suaminya.


"Sayang, nanti kalau anak kita sudah lahir, kamu mau cari baby sister atau tidak?" tanya Reynard, sambil menyibak rambut istrinya yang menutupi wajah.


"Aku belum memikirkan itu," ucap Raisa.


"Anak kita ya tidurnya sama aku, kan aku Ibunya," Raisa mendongkakkan kepalanya sambil menatap suaminya.


"Masa sih kamu mau tidur sama anakmu saja. Suamimu juga butuh di tidurin."


"Kok jadi aku yang nidurin? Bukannya Mas Rey yah?"


"Lebih tepatnya kita berdua, sayang." ucap Reynard.


"Iye deh, ya sudah aku nurut saja sama Mas Rey, bagaimana baiknya."


Cukup lama mengobrol, Reynard mengajak istrinya untuk tidur.


°°°


Malam harinya, Reynard sudah berpakaian rapih. Dia akan pergi untuk menamui Pak Alex. Dia hanya pergi sendiri, tanpa mengajak istrinya. Kebetulan Raisa juga malas untuk ikut.


Reynard sudah sampai di cafe tempat dia bertemu dengan Pak Alex. Namun dia menatap seisi restoran tampak sepi. Tidak ada pengunjung satu pun.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang waiters.

__ADS_1


"Saya mau bertemu dengan atasan saya, tapi kok cafe ini sudah kosong? Apakah sudah mau tutup?" tanya Reynard.


"Apakah anda Pak Reynard?"


"Benar, saya Reynard," ucapnya.


"Mari ikut saya ke lantai atas. Kebetulan orang yang akan bertemu anda sudah ada di atas," ucapnya.


"Baiklah," Reynard mengikuti waiters itu menuju ke lantai atas.


Terlihat seorang wanita yang sedang duduk membelakanginya. Reynard mengeryitkan keningnya dengan sedikit heran. Dia akan menemui Pak Alex, namun yang dia lihat hanya seorang wanita.


"Silahkan, Pak. Kebetulan utusan Pak Alex sudah menunggu," waiters itu segera pergi dari sana.


Reynard berjalan mendekati wanita itu. Dia heran saat melihat Siska yang duduk disana.


"Ngapain kamu disini?" tanya Reynard.


Siska tersenyum menatap Reynard.


"Silahkan duduk!" pinta Siska.


"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Pak Alex menyuruhku datang, sedangkan yang ada disini itu kamu?" tanya Reynard.


"Duduk dulu! Nanti aku akan bicara," ucap Siska.


Karena penasaran dengan apa yang akan di katakan, Reynard pun duduk di depan Siska.


Baru juga duduk, Reynard merasakan jika ada yang menyentuh kakinya. Dia menatap ke bawah dan melihat kaki putih Siska sedang bermain-main di kakinya.


"Siska, jangan keterlaluan!"


"Aku tidak keterlaluan kok, aku hanya mau memberimu penawaran yang bagus. Bagaimana jika kita menjalin hubungan di belakang Raisa. Aku akan melakukan pelayanan yang memuaskan deh," ucapnya.


"Jangan harap! Kamu tidak level sama saya. Apalagi milik kamu yag sudah di jamah siapa saja," Reynard beranjak dari duduknya lalu pergi dari sana.


Siska menatap Reynard yang sedang melangkah pergi.


'Tunggu saja tanggal mainnya, pasti aku akan membuatmu tergila-gila denganku,' batin Siska.


Sebenarnya Siska sengaja menyuruh Pak Alex untuk menelfon Reynard dan menyuruhnya bertemu. Karena Siska adalah simpanannya, jadi Pak Alex hanya menurut saja dengan perintahnya.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2