
Setelah menginap tiga hari di rumah sakit, kini Raisa sudah di perbolehkan pulang. Namun Raisa harus istirahat total. Karena akibat benturan di perutnya, membuatnya jangan terlalu banyak bergerak.
Andika menghentikan mobilnya di depan rumah. Dia membantu istrinya turun dari mobil. Dia mengendongnya hingga sampai ke kamar. Sedangkan Bu Sinta menggendong cucunya.
Reynard merebahkan istrinya di atas kasur. Sedangkan Bu Sinta merebahkan cucunya di box bayi.
"Sayang, Mamah keluar dulu ya," ucap Bu Sinta.
"Iya, Mah." kata Raisa.
Bu Sinta keluar kamar karena akan membersihkan diri. Kebetulan badannya sangat lengket.
Reynard duduk di pinggiran ranjang.
"Sayang, kamu mau apa? Biar Mas yang ambilkan," tawar Reynard.
"Aku tidak mau apa-apa, Mas." ucapnya.
"Baiklah, kalau begitu Mas mau mandi dulu," Reynard beranjak dari duduknya. Dia pergi ke kamar mandi.
Raisa memilih untuk diam di atas tempat tidur. Dia mulai memejamkan ke dua matanya.
Reynard sudah selesai mandi. Dia melihat istrinya yang sudah tertidur. Lalu dia melihat anaknya yang ada di box bayi. Ke dua matanya terbuka, namun anaknya tidak menangis, ataupun merengek.
"Sayang, kamu kok diam saja?" Reynard mengajak anaknya berbicara.
Bayi tampan itu menatap Reynard yang sedang berbicara kepadanya.
"Kamu mau di gendong Papah," Reynard mengambil anaknya yang ada di box bayi. Lalu dia menggendongnya.
Bayi tampan itu langsung menangis.
__ADS_1
"Uluh uluh anak Papah kok jadi nangis sih," Reynard mencoba untuk menenangkan anaknya.
Raisa terusik karena mendengar tangisan bayi. Dia membuka ke dua matanya, lalu menatap ke samping. Terlihat suaminya yang sedang menggendong anaknya.
"Mas, sini biar aku yang menenangkan anak kita," ucap Raisa.
"Kamu sudah bangun, sayang?"
"Iya, Mas. Aku terbangun karena mendengar tangisan anak kita," ucapnya.
Reynard mendekati istrinya, lalu dia merebahkan anaknya di sebelah istrinya.
Raisa mulai menyu*sui anaknya.
°°°°°°°°
Reynard melihat istrinya yang hendak beranjak dari atas tempat tidur.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Reynard.
"Sayang, kamu lupa kata Dokter. Kamu itu belum boleh mandi loh," Reynard mengingatkan istrinya dengan apa yang Dokter katakan.
"Tapi aku merasa gerah, Mas." ucapnya.
"Kamu tunggu saja disitu! Mas mau ambilkan air hangat untuk mengelap tubuhmu. Nanti Mas yang mengelapnya," kata Reynard.
"Baiklah," Raisa membenarkan posisi duduknya di atas ranjang.
Reynard sudah kembali dengan membawa baskom kecil. Dia menaruh baskom itu di atas meja. Reynard mulai membuka pakaian atas istrinya.
"Mas, malu," ucap Raisa, sambil menatap suaminya.
__ADS_1
"Kenapa malu, sayang? Biasanya kita saling telan*jang juga kamu tidak malu," ucapnya.
Ke dua pipi Raisa seketika memerah setelah mendengar perkataan suaminya.
"Mas, apaan sih?"
Reynard menatap wajah istrinya yang terlihat malu-malu. Lalu dia mulai mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat yang tadi dia bawa. Reynard mulai mengelap tubuh bagian atas istrinya.
"Mas, jangan nakal deh!" Raisa menepis tangan suaminya yang memegang dadanya.
"Gemes lihatnya, sayang."
"Ih, apaan sih? Bilang saja kalau mau," ucap Raisa.
"Nah itu tahu," Reynard tersenyum kecil sambil memperhatikan tubuh bagian atas istrinya.
"Jangan di lihatin seperti itu deh, aku malu loh," Raisa mengalihkan arah pandangnya.
"Seperti anak gadis saja pakai malu-malu segala," ucap Reynard, lalu dia kembali mengelap tubuh istrinya.
Kini Reynard sudah mengelap semua bagia tubuh istrinya. Dia memakaikan kembali pakaian ke tubuh istrinya, dengan pakaian ganti yang sudah dia siapkan.
"Mas, nanti anak kita di kasih nama siapa?" tanya Raisa.
"Emm, aku masih bingung," Reynard tampak memikirkan nama untuk anaknya. Namun dia belum menemukan nama yang cocok.
"Kok gitu? enam hari lagi loh anak kita harus di kasih nama," ucap Raisa.
"Iya, nanti aku cari nama yang cocok."
"Bagaimana jika kita kasih nama Rayandra wijaya," ujar Raisa memberikan sarannya.
__ADS_1
"Boleh juga, nanti kita akan kasih nama itu untuk anak kita," Reynard setuju dengan nama yang di siapkan oleh istrinya.
°°°°°°°°°