
Bu Sinta terbangun saat mendengar ketukan pintu dari luar rumah. Kebetulan tadi Bu Sinta ketiduran di sofa saat menunggu anak dan menantunya.
"Jam berapa ini?" Bu Sinta mengambil ponselnya yang ada di atas meja, lalu melihat jam yang ada di layar ponsel.
Begitu terkejutnya saat melihat jika ternyata sudah pukul 11 malam.
'Apa Raisa dan Reynard baru pulang,' gumam Bu Sinta saat mendengar ketukan dari depan pintu.
Bu Sinta sudah membuka pintu itu. Ternyata yang datang hanya Raisa sendirian.
"Loh, kamu kok sendirian, Nak? Dimana Rey?" tanya Bu Sinta, saat melihat Raisa yang sedang berdiri di depan pintu dengan lesu.
"Aku tidak tahu, Mah." jawab Raisa dengan lirih.
"Kamu sakit?"
"Tidak kok, ya sudah kalau begitu aku masuk dulu," Raisa berlalu pergi begitu saja melewati Bu Sinta yang masih berdiri di depan pintu.
Bu Sinta merasa jika ada sesuatu yang sedang terjadi kepada Raisa.
'Apa mungkin Reynard menyakitinya?' batin Bu Sinta.
Bu Sinta sedikit penasaran kenapa anaknya tidak ikut pulang. Mungkin itu ada kaitannya dengan raut wajah Raisa yang terlihat cemberut.
Bu Sinta mencoba untuk menghubungi Reynard. Namun ternyata nomornya tidak aktif.
'Sepertinya kali ini Rey memang benar-benar bikin ulah lagi,' Bu Sinta merasa geram.
Raisa yang sudah berada di kamar, tak bisa lagi membendung air matanya. Dia memikirkan suaminya yang begitu tega tidak datang menemuinya di restoran. Padahal dia rela menunggu berjam-jam hingga restoran tutup.
__ADS_1
'Kamu jahat, Mas. Kamu tidak datang, padahal aku ingin memberi kejutan,' batin Raisa.
Karena kelelahan menangis, Raisa tertidur di atas tempat tidur. Padahal dia belum berganti pakaian.
°°°°°°°°°°°°°
Pagi harinya, Raisa terbangun dari tidurnya. Dia memegangi kepalanya yang pusing, mungkin karena efek menangis semalam. Raisa menatap ke sekeliling kamarnya yang terlihat sepi.
Raisa menghela napasnya, lalu turun dari atas tempat tidur. Dengan lesu, dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Reynard membuka pintu kamarnya. Dia mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi. Lalu dia duduk di sofa untuk menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Reynard beranjak dari duduknya, lalu mendekati istrinya. Reynard memeluk istrinya yang kini hanya memakai handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Kamu wangi sekali," ucap Reynard sambil menghirup aroma wangi dari tubuh istrinya.
"Mas, aku mau pakai baju," Raisa melepaskan pelukan suaminya. Lalu berjalan mendekati lemari untuk mengambil pakaian ganti.
Reynard hanya memperhatikan istrinya yang sedang membuka lemari. Tiba-tiba terbesit rasa bersalah di hatinya. Bagaimana jika istrinya tahu, jika ada wanita lain yang saat ini sedang hamil anaknya. Sudah pasti Raisa akan sangat kecewa.
'Semoga saja aku bisa menemukan jalan keluarnya,' batin Reynard sambil memijat keningnya.
Setelah mengambil pakaian ganti, Raisa kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian disana.
Bu Sinta melihat anaknya yang baru keluar dari kamar.
"Rey, Mamah mau bicara serius sama kamu," ucap Bu Sinta yang saat ini berdiri di belakang anaknya.
"Bicara apa, Mah?" tanya Reynard.
__ADS_1
Bu Sinta tidak menjawab, namun malah menggandeng tangan anaknya dan mengajaknya pergi ke taman belakang.
Kini ke duanya sudah duduk di kursi panjang yang ada di taman.
"Coba jelaskan ke Mamah. Dari mana saja kamu semalam? Kenapa kamu baru pulang? Kenapa kamu tega membiarkan istrimu pulang larut malam?" Bu Sinta melontarkan berbagai pertanyaan kepada anaknya.
"Aku semalam ada urusan, Mah. Tapi, memangnya Raisa dari mana? Kok pulang larut malam?"
"Jadi kamu tidak datang ke restoran sesuai permintaan Mamah?"
"Tidak, memangnya kenapa?"
Bu Sinta mengusap wajahnya kasar. Itu berarti kemarin Raisa menunggu Reynard berjam-jam di restoran. Sekarang Bu Sinta tahu kenapa wajah Raisa semalam terlihat lesu.
"Kamu jahat, Rey. Kenapa anak Mamah jadi seperti ini?" Bu Sinta memukul dada anaknya dengan ke dua tangannya.
"Apa salahku? Kenapa Mamah bicara seperti itu?"
"Kemarin Mamah menyuruh kamu untuk datang ke restoran itu karena Raisa mau memberi kejutan untukmu. Dia sudah pergi duluan kesana. Dan kamu tahu, " sejenak Bu Sinta menghentikan perkataannya. "Semalam Raisa pulang pukul sebelas. Mamah sempat melihat raut kekecewaan di wajahnya, dan sekarang Mamah tahu jika kamu yang membuat dia kecewa," ujar Bu Sinta, lalu menghela napasnya.
Reynard semakin merasa bersalah kepada istrinya.
"Rey minta maaf, Mah." kata Reynard.
"Kalau mau minta maaf jangan sama Mamah. Tapi minta maaflah kepada istrimu. Jelaskan semuanya yang membuat kamu tidak pergi ke restoran," pinta Bu Sinta.
'Jelaskan semuanya? Tidak mungkin jika aku menjelaskan kehamilan Siska kepada istriku,'' batin Reynard.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1