
Tak terasa, kandungan Raisa semakin lama semakin membesar. Saat ini usia kandungannya sudah memasuki delapan bulan. Raisa begitu berhati-hati menjaga kandungannya.
Reynard melihat istrinya yang sedang mengusap-usap perutnya.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" Reynard menghampiri istrinya, lalu dia duduk di sebelahnya.
"Ini loh anak kita gerak-gerak," ucapnya.
"Masa sih? Coba aku pegang," Reynard mendaratkan tangannya di perut istrinya. Dia merasakan ada gerakan dari perut istrinya. Bahkan gerakannya lebih terasa dari sebelumnya.
"Terasa sekali, Mas. Jadi ingin cepat-cepat bertemu anak kita," ucap Raisa.
"Tenang saja, sayang. Tunggu satu bulan lagi, nanti juga akan berkumpul dengan anak kita," ujar Reynard.
"Iya, Mas. Aku selalu sabar kok," jawabnya.
"Kalau begitu, aku pamit berangkat kerja dulu ya," Reynard menjabat tangan istrinya. Lalu dia juga mengecup singkat kening istrinya.
"Biar Rai antar ke depan ya!" pinta Raisa.
"Tidak usah, sayang. Kamu istirahat saja."
"Baiklah," ucapnya.
Reynard mendekatkan kepalanya di perut istrinya, lalu dia menciumnya.
"Papah berangkat dulu ya, sayang." ucap Reynard, yang mencoba mengajak anaknya berbicara.
__ADS_1
"Hati-hati, Papah." ucap Raisa menirukan suara anak kecil.
Reynard segera pergi setelah dia berpamitan dengan istrinya.
Setelah kepergian suaminya, Raisa pergi ke dapur. Rasanya dia ingin sekali makan yang manis-manis. Raisa membuka kulkas, namun tidak ada makanan manis disana.
"Bi, Bibi ... " Raisa berteriak memanggil Bi Surti.
Bi Sutri yang sedang membersihkan kamar mandi, langsung menghentikan aktivitasnya. Lalu pergi ke sumber suara.
"Non Raisa memanggil Bibi?"
"Iya, Bi. Ini kulkas kosong, Bibi belum belanja?"
"Belum, Non. Niatnya Bibi akan belanja agak siangan. Sekarang masih banyak tugas rumah yang harus Bibi kerjakan. Non Raisa mau apa? Kalau begitu biar Bibi keluar sebentar untuk membelinya," tawar Bi Surti.
"Yah, bahannya habis Non. Jadi Bibi tidak membuatnya. Padahal setiap hari Bibi selalu membuat puding untuk persediaan di kulkas."
"Tidak apa-apa, Bi. Biar aku pergi ke supermarket depan untuk belanja. Nanti sekalian membeli puding."
"Tapi, Non. Bukankah Tuan Reynard melarang Non Raisa untuk keluar?"
"Ini dekat kok, Bi. Hanya di supermarket depan," kata Raisa.
"Tapi, Non ... " Bi Surti hendak melarang. Namun Raisa tetap ingin pergi.
"Saya akan tetap pergi, Bibi tidak usah khawatir," ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi Non Raisa hati-hati ya," pinta Bi Surti.
"Siap, Bi." jawabnya.
Raisa segera bersiap. Dia akan pergi ke supermarket depan, sekalian menemui Nadia.
Raisa akan menyeberang jalan. Namun dia sempat ragu-ragu. Padahal kendaraan yang lewat sedang sepi.
Akhirnya Raisa memutuskan untuk tetap menyeberang. Namun dari arah kirinya ada truk oleng yang melintas.
Brak
Raisa terserempet truk, untung saja saat ini dia sudah berada di pinggir jalan. Coba saja jika dia berdiri di tengah jalan, pasti dia bisa terpental jauh.
"Neng tidak apa-apa?" terlihat seorang wanita paruh baya datang untuk menolong Raisa.
"Saya tidak apa-apa kok," jawab Raisa sambil mencoba untuk berdiri. Karena tadi dia duduk terjatuh di pinggir jalan.
"Syukurlah," ucapnya, lalu hendak melangkah pergi. Namun tak jadi saat melihat Raisa memegangi perutnya sambil merintih.
"Aduh aww ... " pekik Raisa sambil memegangi perutnya.
"Nona, mari saya bantu," wanita paruh baya yang tadi membantu Raisa, kembali membantunya.
"Terima kasih " ucapnya.
"Sama-sama," jawabnya.
__ADS_1
°°°°