
Terlihat Reynard yang baru bangun tidur. Dia menatap jam yang ada di dinding. Ternyata baru pukul lima pagi. Reynard menatap istrinya yang sedang tidur di sebelahnya.
'Kamu pulas sekali, sayang,' batin Reynard. Lalu dia beranjak dari atas tempat tidur. Dia mendekati anaknya yang sedang tidur di box bayi.
"Sayangnya Papah masih bobo yah," Reynard menyentuh wajah anaknya. Namun terasa sangat dingin. Saat dia menyentuh hidungnya, ternyata anaknya sudah tidak bernapas.
"Sayang, kamu kenapa?' Reynard merasa sangat panik. Dia keluar dari kamar untuk memanggil ibunya.
Reynard mengetuk-ngetuk pintu kamar yang di tempati oleh ibunya.
Tok tok
“Mah ... Mamah ... “Reynard berteriak memanggil ibunya.
Tak lama, Bu Sinta membuka pintu kamarnya.
“Ada apa, Rey?’ tanya Bu Sinta sambil mengucek matanya, karena masih mengantuk.
“Anak Rey tidak bernapas,” ucap Reynard.
“Apa?” Bu Sinta mendadak hilang rasa kantuknya saat mendengar perkataan Reynard.
“Ayo lihat sendiri, Mah.” Reynard melangkah duluan.
Bu Sinta mengikuti langkah anaknya. Saat ini ke duanya sudah berada di dalam kamar. Bu Sinta langsung mengecek keadaan cucunya. Dan benar saja, bayi mungil itu sudah tidak bernyawa.
“Cepat kamu hubungi Dokter!” pinta Bu Sinta.
“Baik, Mah.” Jawab Reynard.
Reynard segera menghubungi Dokter yang kemarin menangani istrinya saat melahirkan. Kebetulan dia sempat meminta nomor ponselnya. Karena takutnya ada efek yang serius pasca operasi. Apalagi kondisi Raisa yang sedang tidak baik-baik saja. Akibat benturan pada perutnya saat dia kecelakaan, membuat dia harus lebih berhati-hati.
Reynard sudah selesai menelfon. Dia kembali ke kamarnya. Reynard melihat istrinya yang sudah terbangun dari tidurnya. Raisa terlihat bingung saat melihat Bu Sinta yang sedang menangis.
“Mah, Mamah kenapa?” tanya Raisa.
Bu Sinta mengelap sudut matanya yang basah, lalu menghentikan tangisnya. Bu Sinta mendekati Raisa.
“Mamah tidak apa-apa kok,” ucapnya, lalu duduk di pinggir ranjang.
__ADS_1
Reynard menggendong anaknya, lalu membawanya keluar dari kamar.
“Loh itu kenapa Mas Rey bawa Rayan keluar kamar?” Raisa menunjuk suaminya yang sedang membuka pintu kamar.
“Siapa Rayan?” tanya Bu Sinta, yang memang tidak tahu.
“Nama anakku, nanti aku kasih nama Rayan,” kata Raisa. Lalu dia menatap suaminya yang sedang menggendong anaknya keluar dari kamar itu. "Kenapa Mas Rey bawa Rayan keluar?" tanya Raisa.
Bu Sinta semakin sedih saat tahu jika Raisa sudah menyiapkan nama untuk anaknya. Bu Sinta tidak bisa membayangkan jika Raisa tahu bahwa anaknya telah meninggal. Pasti Raisa akan terpukul sekali jika mengetahui kenyataan itu.
“Oh, nama yang bagus," sejenak Bu Sinta menghentikan perkataannya. "Rey bawa Rayan itu karena mau menggendongnya. Tadi kan Rayan terbangun dari tidurnya,” ujar Bu Sinta yang terpaksa untuk berbohong.
“Kenapa tidak di berikan ke aku? Rayan bisa sama aku loh,” ucap Raisa.
“Biar dia sama ayahnya, lagian Reynard ayahnya loh.”
“Baiklah,” ucap Raisa.
Sebenarnya Bu Sinta sengaja tidak ingin memberitahu Raisa jika anaknya sudah meninggal. Nanti Bu Sinta akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara.
•••••
“Selamat datang, Dok! Silahkan masuk!” ucap Reynard.
“Dimana anak itu?”
“Ada di kamar, mari ikut saya!” pinta Reynard.
Dokter itu mengikuti Reynard pergi ke salah satu kamar yang ada di lantai bawah.
Cklek
Kini ke duanya masuk ke kamar itu.
“Coba periksa anak saya, Dok! Kenapa tiba-tiba dia meninggal?” ucap Reynard.
“Sebentar, Pak.” Dokter itu mendekati bayi tampan yang di baringkan di atas tempat tidur.
Dokter itu segera memeriksa bayi mungil yang sudah tidak bernyawa itu.
__ADS_1
Reynard melihat Dokter itu yang sudah selesai memeriksa anaknya.
“Dok, bagaimana?” tanya Reynard.
“Sepertinya ini efek dari benturan pada perut Ibu Raisa. Saya kira hanya akan bereaksi di Bu Raisa. Ternyata anaknya juga mengalami sakitnya,” jelas Dokter.
“Kenapa Dokter tidak bicara saat anak saya masih berada di rumah sakit?”
“Saat itu anak Pak Reynard masih baik-baik saja. Mungkin ini efek lanjutan yang di alaminya,” jelas Dokter.
“Kenapa semua ini bisa terjadi,” Reynard mengacak rambutnya kasar.
“Saya turut berduka cita, Pak. Memang benturan yang di alami oleh Bu Raisa cukup serius. Dan saat itu penanganan dia di rumah sakit sedikit terlambat karena pihak keluarga tidak datang juga.” Jelasnya.
Reynard mengingat jika saat itu dia tidak langsung pergi ke rumah sakit saat di beri kabar kalau istrinya akan melahirkan. Jika saja dia langsung datang, mungkin anaknya tidak akan telat di tangani.
“Baiklah, saya akan mencoba ikhlas,” ucap Andika dengan sedikit lesu.
“Kalau begitu saya permisi,” setelah berpamitan, Dokter itu segera pergi.
Kebetulan Reynard sudah transfer sejumlah uang pembayaran biaya pemeriksaan anaknya sebelum Dokter itu datang.
Reynard memerosotkan tubuhnya ke lantai. Dia tidak bisa menahan tangisnya.
Cklek
Reynard mendengar suara pintu terbuka. Ternyata Bu Sinta yang masuk ke dalam kamar.
“Nak, kamu jangan menangis. Sebaiknya kita segera urus pemakaman anak kamu,” Bu Sinta mengusap pelan bahu anaknya agar sedikit merasa tenang.
“Iya, Mah. Lalu bagaimana dengan Raisa?”
“Mamah belum memberitahunya,” ucap Bu Sinta.
“Jangan beritahu dulu, Mah. Kalau begitu Reynard mau mengundang ustadz yang ada di komplek ini untuk datang kesini,” ucap Reynard.
“Iya, Nak.” Ucap Bu Sinta.
Reynard beranjak dari duduknya, lalu segera pergi.
__ADS_1
°°°°°°°°°°°