
Saat ini Reynard berada di lokasi shooting. Kebetulan tadi dia habis menjemput Siska, atas permintaan sutradara. Karena biasanya Siska kalau berangkat ke lokasi shooting selalu seenaknya sendiri. Namun jika ada yang menegur, Pak Alex selalu membelanya. Mungkin Karena Siska itu wanita simpanannya.
Reynard menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia sudah terlihat sangat tampan. Reynard sedikit merapihkan rambutnya.
“Ekhm, ayo Rey!” Ajak Siska.
“Sudah mau mulai?”
“Iya, sekarang giliran kita,” ucap Siska.
Reynard mengikuti Siska yang terlebih dahulu sudah melangkah mendahuluinya.
Selama shooting, tidak ada kendala apa pun. Karena Reynard dan Siska sama-sama ahli dalam berakting.
Setelah dua jam proses shooting berlangsung, kini Pak Sutradara menyuruh mereka untuk beristirahat.
Siska mendekati Reynard yang sedang duduk sendirian.
“Boleh aku gabung?” Siska sudah berdiri di samping Reynard.
“Silahkan!” kata Reynard.
Siska segera duduk di kursi depan Reynard.
“Akhir-akhir ini aku melihat kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Kamu ada masalah?” tanya Siska.
“Tidak kok, aku tidak ada masalah sama sekali,” kata Reynard.
“Bicaara saja kalau memang butuh teman curhat,” ucap Siska.
__ADS_1
“Sepertinya ini bukan tempat yang cocok untuk bercerita,” Reynard menatap kanan kirinya.
“Bagaimana jika nanti setelah pulang,, kita pergi ke suatu tempat?”
“Boleh juga, kebetulan aku butuh refresing.”
“Aku akan membawamu ke tempat yang indah,” ucap Siska.
•••••••••
Saat ini Reynard dan Siska sudah berada di sebuah danau yang indah. Mereka duduk di kursi panjang sambil menikmati suasana sekitar danau.
“Aku dengar istrimu sedang tidak baik-baik saja,” Siska menatap Reynard yang sedang duduk di dekatnya.
“Ya, begitulah.”
“Kamu boleh kok kalau merasa lelah atau butuh hiburan, datang ke Apartemenku,” tawar Siska.
“Atau mungkin ke club malam bareng aku,” Siska masih saja mencoba untuk membujuk Reynard.
“Beritaku viral gara-gara aku pergi ke club,” ucap Reynard.
“Itu sih kamu saja yang tidak pintar. Jangan datang ke club yang biasa dong. Aku ada nih club langgananku, disana aman. Hanya orang-orang Papan atas yang datang. Bahkan kalau mau, aku tinggal pilih salah satu om-om tajir yang datang. Lumayan tuh bisa jadi ATM berjalan,” ujar Siska.
“Boleh juga, ya sudah, nanti malam kita pergi.”
“Oke, nanti malam jam tujuh malam,” ucap Siska, lalu dia beranjak dari duduknya. Namun Siska kehilangan keseimbangan. Mungkin karena high heels yang dia pakai terlalu tinggi.
Bruk
__ADS_1
Siska jatuh ke pangkuan Reynard.
“Maaf, aku hanya terpeleset,” Raisa kembali beranjak dari pangkuan Reynard.
“Tidak masalah,” ucap Reynard.
Sebenarnya Reynard mengikuti ajakan Siska hanya karena dia butuh udara segar. Dia yakin Siska tidak mungkin macam-macam jika dia juga tidak menanggapinya. Dia juga tidak tertarik sama Siska, karena Siska itu wanita simpanan.
Cukup lama Reynard dan Siska ada disana. Kini ke duanya memilih untuk pulang.
“Jangan lupa nanti malam,” ucap Siska sebelum masuk ke dalam mobilnya.
“Siap, aku akan mengingatnya,” Reynard tersenyum kecil menatap Siska.
Kini ke duanya masuk ke mobil masing-masing, dan langsung mengemudikan mobilnya.
Setelah cukup lama mengemudi, kini Reynard sudah sampai di rumah.
Bu Sinta yang sedang bersantai di ruang depan, melihat anaknya baru pulang. Bu Sinta mencegat anaknya yang hendak pergi ke kamar.
“Rey, tunggu!”
Reynard menatap Ibunya yang sudah berada di dekatnya.
“Ada apa?” tanya Reynard.
“Istrimu---“ ucapan Bu Sinta terhenti karena Reynard memotong perkataannya.
“Aku lelah, Mah.” Reynard berlalu pergi menuju ke kamar tamu untuk beristirahat.
__ADS_1
Bu Sinta semakin tidak mengenali anaknya. Padahal tadi dia akan memintanya untuk sedikit saja perhatian dengan istrinya.
°°°°°