
Bu Sinta sudah kembali dari luar kota. Jujur saja selama pergi, Bu Sinta merasa tidak tenang karena terus memikirkan Raisa. Namun saat tahu Raisa baik-baik saja, Bu Sinta merasa lega.
Saat ini Bu Sinta sedang duduk bersama Lee young min dan Raisa. Kebetulan hari ini adalah hari terakhir Lee young min menginap.
“Terima kasih, Lee. Kamu sudah menjaga Raisa dengan baik,” ucap Bu Sinta.
“Sama-sama, lagian saya sudah menganggapnya sebagai Kakak. Jadi itu sudah menjadi tugas saya untuk menjaganya."
Bu Sinta melihat Reynard yang baru keluar dari kamar. Lalu Bu Sinta mengedipkan matanya ke arah Lee young min untuk memberinya kode.
Lee young min tidak tahu apa yang di maksud oleh Bu Sinta. Namun saat dia membuka pesan di ponselnya, dia tahu jika maksud kedipan mata itu untuk meminta tolong.
Kebetulan tadi Bu Sinta mengirimkan pesan kepada Lee young min. Karena jika langsung di bicarakan, takutnya ketahuan oleh Reynard.
“Tante senang sekali melihat kepribadian kamu yang sekarang, Lee. Kamu semakin sopan. Coba saja jika kamu menjadi suaminya Raisa, pasti Tante akan sangat senang,” ujar Bu Sinta.
“Nanti kalau Nadia tidak mau denganku, pasti aku akan langsung menikahi Raisa,” ucap Lee young min, memerankan aktingnya dengan baik.
“Coba saja kalau Reynard yang bodoh itu menceraikan Raisa, pasti Mamah akan langsung menikahkan kalian,” ucap Bu Sinta.
Reynard yang berada di ruang makan, dia mendengar obrolan Ibunya dan Lee young min. Kebetulan Bu Sinta sengaja menambah volume suaranya agar terdengar oleh Reynard.
Reynard yang mendengar obrolan mereka, dia merasa geram. Bisa-bisanya ibu kandungnya sendiri menawarkan menantunya kepada lelaki lain.
Reynard menaruh lagi gelas yang tadi dia pegang. Kebetulan dia baru selesai minum.
__ADS_1
Reynard menghampiri mereka dan ikut bergabung duduk disana.
“Nanti kalau kamu jadi seorang suami, kamu harus setia, Lee. Kalau tidak setia, nanti istrimu pergi malah tahu rasa. Kamu sendiri yang akan menyesal,” ucap Bu Sinta menyindir.
“Pasti dong, aku akan selalu setia bagaimana pun istriku nanti. Karena aku yang sudah berjanji untuk membahagiakannya. Jika aku menyakitinya, itu sama saja jika aku pecundang yang tidak bertanggung jawab,” ujar Lee young min.
Bu Sinta tersenyum puas mendengar jawaban Lee young min. Dia juga melihat raut wajah Reynard yang seperti sedang menahan amarah.
“Mah, Rey mau pergi,” Reynard beranjak dari duduknya, lalu pergi dari sana.
Reynard pergi ke kamar untuk berganti pakaian.
Bu Sinta melihat anaknya keluar dari kamar, dengan memakai pakaian yang sudah terlihat rapih.
“Rey, kamu mau kemana?” tanya Bu Sinta.
°°°°°°°°°°°
Pagi ini Lee young min berpamitan untuk pergi. Dia akan kembali ke pesantren.
“Tante, Rai, aku pamit dulu yah. Kalian baik-baik di rumah,” ucap Lee young min dengan ramah.
“Hati-hati, Nak. Jangan lupa sering kasih kabar,” ucap Bu Sinta.
“Siap, Tan.” Lee young min tersenyum menatap Bu Sinta.
__ADS_1
Lee young min sudah menganggap Bu Sinta ataupun Raisa sebagai saudara sendiri. Mereka juga sudah baik kepadanya. Dia senang karena ada orang lain yang memang bukan siapa-siapa, tapi mau berbaik hati kepadanya. Mau menganggapnya seperti keluarga sendiri.
Bu Sinta dan Raisa mengantar Lee young min hingga ke depan rumah. Setelah melihat Lee young min masuk ke taxi, mereka kembali masuk ke rumah.
Bu Sinta melihat anaknya yang baru keluar dari kamar.
“Rey, kamu ngapain saja di kamar? Tadi Lee pamit pergi loh, kamu malah ngumpet,” ucap Bu Sinta.
“Biarin, lagian malas ketemu dia,” ucap Reynard.
“Bilang saja kalau kamu cemburu.”
“Tidak, ngapain aku cemburu sama dia,” Reynard melangkah menuju ke ruang keluarga, lalu Bu Sinta mengikutinya.
“Kamu tidak shooting?” tanya Bu Sinta sambil mendudukan dirinya di atas sofa.
“Tidak, shootingnya sudah selesai.”
“Syukurlah, itu berarti kamu bisa sering di rumah. Oh iya, nanti Mamah mau pergi. Kamu jagain Raisa di rumah ya,” pinta Bu Sinta.
“Kok aku?”
“Kamu itu suaminya, jadi sudah kewajiban kamu untuk menjaganya.”
“Baiklah,” padahal niatnya Reynard akan pergi keluar. Namun sepertinya kali ini dia harus tetap di rumah.
__ADS_1
°°°°°°°°