Pesona Janda Kembang

Pesona Janda Kembang
Part.64


__ADS_3

Sudah dua bulan ini Reynard lebih sering berada di rumah. Tentu itu kesempatan yang tidak akan di lewatkan oleh Bu Sinta. Reynard merasa kecapean karena tugas yang di berikan oleh Bu Sinta. Yaitu menyuruhnya untuk mengurus Raisa.


Siang ini, Reynard akan menemani Raisa pergi periksa. Kebetulan mereka sudah membuat janji dengan Dokter yang biasa memeriksa Raisa.


Tok tok


Reynard mengetuk pintu ruangan Dokter.


Setelah di persilahkan masuk, kini ke duanya masuk ke dalam.


“Selamat datang Bu Raisa, sepertinya ada aura yang berbeda nih karena datang bersama suami,” ucap Dokter.


“Pak Dokter bisa saja,” Raisa tersenyum malu.


“Sepertinya sudah banyak perkembangan nih. Sekarang kamu sudah merespon perkataan orang lain.”


“Alhamdulilah, Dok.” Kata Raisa sambil tersenyum senang.


“Biar saya periksa dulu, mari!” Dokter itu meminta Raisa untuk pindah duduk di brankar pasien, lalu mulai memeriksanya.


Dokter juga bertanya beberapa pertanyaan kepada Raisa.


Setelah selesai memeriksa, Raisa di minta untuk duduk kembali di tempat semula.


“Jadi bagaimana kondisi istri saya, Dok?” tanya Reynard.


“Sejauh ini kondisinya cukup baik. Mungkin dalam waktu dekat ini Bu Raisa akan sembuh sepenuhnya,” ucapnya.


“Terima kasih, Dok.” Ucap Reynard.


“Ini saya resepkan beberapa obat untuk Bu Raisa,” Dokter itu menuliskan resep di selembar kertas, lalu memberikannya kepada Raisa.


“Terima kasih, Dok.”


“Sama-sama, lekas sembuh Bu, saya doakan Ibu di karuniai momongan lagi,” ucap Pak Dokter.


“Amin, Pak.”


Setelah selesai pemeriksaan, kini ke duanya keluar dari ruangan itu.


Raisa merasa senang karena kondisinya yang semakin membaik.


Sepertinya nanti aku akan bikin kejutan untuk Mas Rey. Karena Mas Rey sudah mengurusku hingga kondisiku lebih membaik,’ batin Raisa.


°°°°°°°°°

__ADS_1


Raisa sudah berdandan cantik. Dia bercermin sambil melihat penampilan dirinya. Raisa segera keluar kamar sebelum suaminya kembali. Kebetulan tadi Bu Sinta menyuruh Reynard pergi ke luar untuk mengalihkan perhatian.


Raisa keluar dari kamar lalu menghampiri Bu Sinta.


“Mah, Rai sudah siap,” kata Raisa, yang saat ini berdiri di dekat Bu Sinta.


“Wah, kamu cantik sekali, Nak.” Bu Sinta memuji kecantikan Raisa.


“Terima kasih, Mah. Apa sekarang Rai langsung pergi?”


“Iya, Nak. Ayo Mamah antar ke depan! Kebetulan Mamah juga sudah bicara kepada supir untuk menyiapkan mobil.


“Baik, Mah.”


Tepat lima menit setelah kepergian Raisa, terlihat mobil Reynard memasuki halaman rumah. Bu Sinta segera keluar saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.


“Rey, kamu bawa pesanan Mamah?” tanya Bu Sinta.


“Bawa nih,” ucapnya sambil memberikan kantong kresek berisi pecel lele kepada Bu Sinta.


“Eh tunggu!” Bu Sinta menghentikan langkah Reynard yang akan memasuki rumah.


“Ada apa lagi?” Reynard menoleh ke belakang.


“Aku cape, Mah. Lagian ngapain sih?”


“Kali ini saja coba kamu menurut sama Mamah. Kamu pergi kesana, nanti ketemu sama orang penting utusan Mamah. Lagian satu jam lagi itu jam makan malam. Nanti sekalian saja kamu makan malam disana,” Bu Sinta terus mencoba untuk membujuk anaknya.


“Sepenting apa si, Mah?”


“Kalau kamu tidak pergi, lebih baik Mamah ke luar negeri saja, menetap disana.”


“Baiklah, aku mau.” Reynard hendak melangkah pergi, namun Bu Sinta menahan tangannya.


“Kamu mandi dulu yang wangi, terus ganti pakaian yang bagus,” pinta Bu Sinta.


“Ngapain sih pakai pakaian bagus-bagus segala, lagian ini juga bagus,” protes Reynard.


“Ayo menurutlah!” Bu Sinta menggandeng tangan Reynard, lalu mengajaknya masuk ke rumah.


Reynard sudah terlihat rapih. Dia akan segera pergi.


Bu Sinta mengirim pesan kepada Raisa, jika saat ini Reynard sudah ada di perjalanan menuju ke restoran.


Di tengah perjalanan, Reynard mendengar ponselnya berdering.

__ADS_1


Ternyata itu panggilan masuk dari Siska.


📞”Hallo, ada apa?” tanya Reynard.


Dia membelalakan ke dua matanya saat mendengar perkataan Siska.


📞”Baiklah, sekarang aku ke apartemenmu,” Reynard langsung mematikan panggilan telfonnya.


‘Mungkin jika aku tidak pergi ke restoran, itu tidak apa-apa. Lagian Mamah tidak bicara jelas tujuanku pergi kesana,’ batin Reynard.


Saat ini Reynard sudah sampai di depan apartemen Siska.


Tok tok


Tak menunggu waktu lama, pintu itu terbuka. Siska langsung memeluk Reynard.


“Hiks ... hiks ... Aku harus ngapain? Aku hamil,” ucap Siska di sela-sela isak tangisnya.


“Tenanglah,” Reynard semakin di buat pusing oleh kenyataan yang baru dia ketahui, jika saat ini Siska hamil anaknya. Dia sama sekali tidak mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.


°°°°°°°°°


Sudah hampir satu jam Raisa menunggu kedatangan suaminya. Namun suaminya tidak datang juga.


Terlihat seorang waiters menghampirinya.


“Maaf, Nona. Untuk pesanannya akan di antar kapan?”


“Sebentar, Kak. Saya masih menunggu suami saya belum datang.”


“Baiklah, nanti konfirmasikan saja jika siap di antar,” ucapnya.


“Baik, Kak. Terima kasih atas perhatiannya,” ucap Raisa ramah.


Raisa terus menunggu suaminya. Beberapa kali dia pergi ke depan restoran untuk menunggu disana, namun ternyata suaminya tidak datang juga.


Hingga restoran hendak tutup, Raisa masih duduk sambil menyenderkan kepalanya di meja.


“Maaf, Nona. Restoran kami akan tutup. Sebaiknya Nona segera pergi,” ucap waiters yang kini mendatangi Raisa.


“Maaf, Kak. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Raisa dengan lesu.


Jujur saja saat ini Raisa sangat kecewa kepada suaminya karena tidak datang. Padahal Raisa rela menunggu walaupun sambil menahan lapar. Niatnya dia ingin memberi kejutan dengan bantuan Bu Sinta. Namun nyatanya malah mengecewakan.


°°°°°°°°

__ADS_1


__ADS_2