
Raisa keluar dari kamar tamu dengan wajah yang masih sembab. Kebetulan Bu Sinta baru datang ke rumah itu, dan melihat Raisa yang baru menutup pintu kamar tamu.
"Rai," Bu Sinta memanggil Raisa.
Raisa menoleh ke belakang. Bu Sinta melihat wajah Raisa yang terlihat sembab.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Bu Sinta.
"Rai tidak apa-apa kok, Mah."
"Tapi wajah kamu sembab gitu, kamu habis nangis?"
"Hanya kelilipan saja kok," kata Raisa, sambil tersenyum menatap Bu Sinta.
Bu Sinta tidak percaya begitu saja. Namun dia juga tidak mau memaksa Raisa untuk bicara, kalau memang dia tidak ingin bicara.
'Lebih baik aku tanya saja sama Reynard,' batin Bu Sinta.
"Rai, Mamah bawain kue loh untuk kami," Bu Sinta memperlihatkan bingkisan kue yang dia bawa. "Nih, kamu potong- potong sediri ya, Mamah mau menemui Reynard dulu," Bu Sinta memberikan bungkusan kue itu kepada Raisa.
"Iya, Mah. Terima kasih," dengan wajah yang sembab, Raisa tersenyum menatap Bu Sinta.
"Sama-sama, Nak." ucapnya.
Bu Sinta mencari keberadaan Reynard. Ternyata Reynard ada di kamarnya.
"Rey, Mamah mau bicara!" ucap Bu Sinta dari depan pintu yang kebetulan tidak tertutup.
"Bicara saja!" kata Reynard.
Bu Sinta melangkah masuk ke kamar. Dia mendekati anaknya yang sedang berdiri di dekat ranjang.
__ADS_1
"Kenapa Raisa menangis?"
"Aku bersalah sama dia, aku sudah bersikap acuh. Tapi ternyata semuanya tidak seperti yang aku duga."
"Apa maksudmu? Kenapa kamu cuek sama dia?" tanya Bu Sinta
"Aku kira Raisa ada hubungan sama Lee young min," ucapnya.
"Astaga, kamu ingat loh jika istrimu sedang hamil. Kamu harus menjaga perasaannya, bukan malah membuatnya sedih," ujar Bu Sinta.
"Iya, Mah. Rey juga merasa bersalah," ucapnya.
"Ingat Rey, kamu harus jaga perasaan istrimu. Tidak baik jika ibu hamil sedih terus."
"Iya, Mah. Rey janji tidak akan curigaan lagi sama Raisa."
"Bagus, sekarang ikut Mamah. Tadi Mamah bawa kue untuk kalian," ajak Bu Sinta.
Reynard mengikuti Bu Sinta pergi keluar dari kamar. Kini ke duanya sudah sampai di lantai bawah. Reynard melihat istrinya yang sedang duduk sendirian sambil memakan kue.
"Mamah panggil Lee dulu, biar kita bisa mengobrol bersama," Bu Sinta pergi menuju ke kamar yang di tempati oleh Lee young min.
Saat ini Bu Sinta dan Lee young min sudah berada disana.
"Lee, bagaimana Nadia?" tanya Raisa.
"Urusan hutang sudah beres, sekarang tinggal aku deketin dia," ucapnya.
"Siapa Nadia?" tanya Bu Sinta yang juga penasaran.
"Itu loh, wanita yang dia suka," ucap Raisa.
__ADS_1
"Wah ternyata kamu suka wanita indo, kenalin dong sama Tante," ucap Bu Sinta, sambil menatap Lee young min.
"Nanti kalau benar jadian, Lee pasti kenalin kok," ucapnya.
°°°°
Reynard mengikuti istrinya menuju ke kamar. Hingga Raisa mau masuk ke kamar mandi, dia mengikutinya.
"Mas Rey mau ngapain?" tanya Raisa yang saat ini hendak menutup pintu kamar mandi.
"Mau ikut," ucapnya.
"Enak saja, tidak boleh!"
Brak
Raisa langsung menutup kasar pintu kamar mandi. Reynard mendekati sofa, lalu dia duduk disana sambil menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.
Tak lama, pintu kamar terbuka. Reynard beranjak dari duduknya, lalu menghampiri istrinya.
"Sayang, maafin aku," ucap Reynard yang saat ini sedang berdiri di samping istrinya.
"Maaf untuk apa?"
"Maaf karena aku sudah berpikiran yang tidak-tidak," ucapnya.
"Oh," hanya itu yang di ucapkan oleh Raisa, lalu dia melangkah mendekati tempat tidur.
Reynard menatap istrinya yang sudah berada di atas tempat tidur. Reynard memilih masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu dia menghampiri istrinya.
Reynard sudah berada di atas kasur. Dia memeluk istrinya, namun istrinya menyingkirkan tangannya.
__ADS_1
"Tidak usah peluk-peluk!" Raisa mengambil bantal guling lalu menaruhnya di tengah sebagai penghalang agar Reynard tidak bisa memeluknya.
"Baiklah, malam ini aku kedinginan karena tidak bisa memeluk kamu," Reynard memposisikan diri membelakangi istrinya. Lalu dia mulai memejamkan ke dua matanya.