
Reynard terbangun dari tidurnya. Dia sudah tidak melihat istrinya di sampingnya.
'Kemana Raisa? apa mungkin dia sudah bangun,' batin Reynard.
Reynard memilih untuk beranjak dari atas tempat tidur. Dia keluar dari kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Reynard melihat istrinya yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga. Lalu dia menghampirinya.
"Sayang," Reynard mendudukan dirinya di sebelah istrinya. Namun istrinya bergeser.
Reynard bergeser lagi agar duduknya lebih dekat dengan istrinya. Namun ternyata Istrinya kembali bergeser. Kini Raisa sudah ada di ujung sofa.
"Mas Rey mau aku sama anak ini jatuh," ucap Raisa sambil menunjuk perutnya.
"Bukan begitu, sayang. Aku hanya ingin duduk di sebelah kamu," ucapnya.
"Tapi aku tidak mau."
"Baiklah," Reynard beranjak dari duduknya. Dia kembali ke kamar karena harus bersiap.
Reynard sudah selesai mandi. Penampilannya juga sudah rapih. Dia keluar kamar dan akan mengajak istrinya untuk sarapan. Sesampainya di lantai bawah, Reynard sudah tidak melihat istrinya di ruang keluarga.
'Kemana Raisa?' batin Reynard.
Reynard akan pergi ke dapur untuk mencari istrinya. Namun saat melewati ruang makan, dia melihat istrinya sedang makan dengan lahap.
"Sayang, kok kamu tidak tungguin aku?" Reynard menarik kursi di depan istrinya, lalu dia duduk disana.
"Ngapain?" Raisa masih fokus melahap sarapannya.
"Kamu masih marah?"
"Hm," ucap Raisa cuek.
"Tidak asyik loh kalau kamu cuek seperti itu. Hati-hati loh jangan terlalu cuek sama suami. Nanti kalau suaminya di ambil orang, baru tahu rasa."
Raisa menatap Reynard yang juga sedang menatapnya.
"Awas saja kalau berani macam-macam, nanti aku tidak mau ketemu Mas Rey lagi," ucap Anara.
"Eh, jangan! Mas tidak akan macam-macam kok, sayang. Kan cintanya Mas cuma kamu."
"Yakin nih? Kalau begitu turuti semua keinginanku," ucapnya.
"Mas akan turuti semuanya. Kamu mau apa? Nanti kalau Mas pulang kerja pasti di bawain."
"Emm ... " Raisa tampak berpikir. Tak lama dia menyunggingkan senyumannya.
"Aku minta nasi goreng bikinan Mas Rey. Nanti pulang kerja langsung di bikinan yah," pinta Raisa.
"Tapi Mas tidak bisa memasak loh."
__ADS_1
"Usaha dong, katanya mau menuruti apa pun keinginanku," kata Raisa.
"Baiklah, demi istri tercinta," ucap Reynard.
Setelah selesai berbicara dengan istrinya, Reynard segera memulai untuk sarapan. Dia terus menatap istrinya yang sedang duduk di depannya.
"Kenapa lihatin aku?" tanya Raisa.
"Kamu cantik," kata Reynard.
"Dasar modus," Raisa kembali fokus melahap makanannya.
Reynard tersenyum kecil menatap istrinya.
Raisa beranjak dari duduknya, karena dia sudah selesai makan. Reynard juga buru-buru menghabiskan makannya, agar dia bisa menyusul istrinya.
Reynard mendekati istrinya yang kini sedang duduk sendirian.
"Sayang," Reynard menatap istrinya yang sedang menonton televisi.
"Ada apa?"
"Mas mau berangkat nih, tidak di kasih ciuman penyemangat dulu?"
"Tidak," ucapnya.
"Astaga, baiklah." Reynard dengan cepat menyambar bibir tipis istrinya.
"Aku berangkat dulu," Reynard langsung pergi dari sana. Karena takut kena amuk oleh istrinya.
°°°°°°°°
Raisa melihat Lee young min yang baru keluar dari kamarnya.
"Lee, kamu mau kemana?" tanya Raisa.
"Aku mau pergi keluar," ucap Lee young min, yang saat ini menghentikan langkahnya di depan Raisa.
"Pagi sekali, tidak sarapan dulu?"
"Nanti saja cari di luar, kebetulan mau pergi sama Nadia."
"Ekhm, pendekatan nih."
"Bisa di bilang seperti itu, ya sudah aku pergi dulu," ucap Lee young min.
"Hati-hati, Lee."
Lee young min hanya mengacungkan jempolnya. Lalu dia melanjutkan langkahnya.
Saat ini Lee young min sudah berada di taman kota. Kebetulan Nadia sudah berada disana.
__ADS_1
"Sudah lama?" tanya Lee young min, kepada Nadia yang sedang duduk di kursi panjang.
Nadia menatap ke sumber suara.
"Belum kok, aku juga baru datang," ucapnya.
"Katanya mau ngajak sarapan bareng?"
"Mau sekarang?" tanya Nadia.
"Boleh," ucapnya.
"Ayo ikut!" Nadia beranjak dari duduknya.
Lee young min mengikuti kemana Nadia pergi.
Kini ke duanya sudah sampai di dekat penjual bubur ayam di pinggir jalan.
"Kita makan disini?" Lee young min merasa tidak nyaman berada disana, karena tempatnya terbuka.
"Iya, ini tempat langgananku loh," ucapnya.
Nadia menarik kursi lalu duduk disana. Lee young min juga duduk di depan Nadia.
"Pak, bubur ayamnya dua porsi," ucap Nadia kepada penjual bubur ayam yang sedang berdiri di dekatnya.
"Baik, Neng. Mohon di tunggu," ucapnya.
Setelah selesai makan bubur, Lee young min mengajak Nadia untuk bicara. Mereka kembali ke taman agar bisa mengobrol dengan tenang.
"Nad, bagaimana keputusanmu? Apa kamu mau menerimaku sebagai kekasihmu?" tanya Lee young min.
"Aku tidak pacaran, aku hanya ingin jika ada yang serius dan saling cocok, langsung saja menikah."
"Lalu, apa menurutmu kita cocok?" tanya Lee young min.
"Aku tidak tahu," kata Nadia.
"Kenapa begitu?"
"Kita beda keyakinan, jadi tidak mungkin bisa bersatu."
"Apa kamu tidak bisa ikut keyakinanku?" tanya Lee young min.
"Itu tidak mungkin, dalam agamaku jika keluar dari keyakinan dosa besar. Kecuali kamu yang pindah keyakinan sepertiku," ujar Nadia.
"Apa tidak berdosa jika aku pindah keyakinan yang sama denganmu?"
"Tidak, itu malah bagus." ucapnya.
"Aku butuh waktu untuk berpikir," ucap Lee young min.
__ADS_1
Lee young min tidak semudah itu untuk pindah keyakinan. Pasti keluarganya yang ada di korea tidak menyetujuinya. Jadi dia butuh waktu untuk berpikir, dan juga dia akan bicara baik-baik kepada orang tuanya.
°°°°°