
Di semua kabar berita, termasuk layar televisi menayangkan gosip terhangat di kalangan selebritis. Terlihat jelas ada foto Reynard dan Siska yang baru keluar dari apartemen. Hingga keduanya pergi ke rumah sakit.
Tentu gosip yang sedang hangat ini menjadi incaran para wartawan. Mereka langsung bergerak cepat untuk mencari informasi yang sesungguhnya.
Pyar
Gelas yang di pegang oleh Raisa jatuh ke lantai. Raisa terkejut melihat berita di layar televisi yang menayangkan suaminya bersama dengan Siska.
“Kamu keterlaluan, Mas.” Raisa berlari menuju ke kamarnya.
Bu Sinta mematikan layar televisi, lalu menghampiri Raisa.
“Rai, untuk apa kamu membereskan semua pakaianmu?” Bu Sinta mendekati Raisa yang sedang mengambil beberapa baju dari dalam lemari.
“Aku mau pergi untuk menenangkan diri,” ucapnya.
“Yang seharusnya pergi itu Mamah atau Reynard. Karena ini rumahmu, dan kita hanya menumpang disini,” ujar Bu Sinta.
“Mamah jangan bicara seperti itu. Terlalu banyak kenangan di rumah ini bersama Mas Rey. Aku hanya ingin sendiri, Mah. Tolong ijinkan aku pergi,” Raisa terlihat berkaca-kaca.
Bu Sinta memeluk Raisa, lalu mengusap punggungnya.
“Pergilah jika itu bisa membuat kamu tenang, Nak. Tapi Mamah ikut ya,” pintanya.
“Jangan, Mah. Aku ingin pergi sendiri,” ucap Raisa.
__ADS_1
“Baiklah, tapi perginya jangan lama-lama, Nak. Mamah akan selalu menunggumu disini,” ucap Bu Sinta sambil melepaskan pelukannya.
“Terima kasih, Mah.” Raisa kembali memeluk Bu Sinta.
“Maafin Reynard ya, Mamah tidak tahu jika dia berbuat seperti itu di belakang kamu,” Bu Sinta merasa tak enak hati kepada Raisa. Karena putranya sudah menyakiti hatinya.
Bu Sinta membantu membereskan barang-barang Raisa.
Saat ini Raisa akan pergi di antar oleh supirnya. Saat Bu Sinta bertanya kemana arah tujuannya, Raisa tidak mau memberitahu.
“Mah, Rai pamit dulu,” ucapnya.
“Hati-hati, Nak.” Bu Sinta mencium kedua pipi anaknya.
°°°°°°°°°
Lima belas menit setelah kepergian Raisa, Bu Sinta mendengar ketukan pintu dari luar rumah. Bu sinta yang sedang bersantai, segera membuka pintu rumahnya. Ternyata yang datang itu Reynard.
Plak
Bu Sinta menampar anaknya karena sudah terlalu geram.
“Untuk apa kamu pulang?”
“Maafin aku, Mah.” Ucapnya sambil menundukan pandangannya.
__ADS_1
“Maaf? Kamu kira kata maaf itu cukup untuk mengembalikan kepercayaan istrimu,” Bu Sinta membentak anaknya.
“Tapi aku melakukan itu karena ada alasannya. Saat ini Siska sedang hamil anakku,” jelas Reynard.
“Lalu, kamu percaya begitu saja jika itu anakmu?”
Reynard diam, dia tidak menjawab perkataan ibunya.
“Kenapa diam? Kamu bingung, bukan? Kalau mau bertindak sesuatu itu jangan gegabah. Sekarang imbasnya ke kamu sendiri. Karier yang kamu bangun dengan susah payah, kini hancur sekejap mata hanya karena kebodohanmu,” ucap Bu Sinta penuh amarah.
“Dimana Raisa?”
“Dia sudah pergi jauh, lebih baik kamu urus saja ja*langmu itu,” setelah mengatakan itu Bu Sinta pergi dari hadapan anaknya.
Tring tring
Reynard hendak mengejar ibunya, namun tak jadi saat dia mendengar ponselnya berbunyi.
📞”Hallo,” ucap Reynard.
📞”Bodoh! Berani-beraninya kamu terjerat skandal seperti itu. Kamu tahu kan berapa kerugian yang di alami oleh perusahaan? Mulai detik ini, saya keluarkan kamu dari agensi saya,” ucap Pak Alex yang saat ini sedang emosi.
Pak Alex mematikan panggilan telfonnya begitu saja.
“Arrgghhhh .... Kenapa semuanya jadi seperti ini?” teriak Reynard sambil mengacak rambutnya kasar.
__ADS_1