
Raisa sudah merasa baik-baik saja. Dia segera pergi ke supermarket yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Namun saat dia melangkah melewati pintu masuk, dia merasakan lagi sakit di perutnya.
"Kak Raisa," Nadia mendekati Raisa lalu memapahnya.
"Nad, perutku sakit sekali," keluh Raisa.
"Lebih baik kita ke rumah sakit, Kak. Aku takut jika terjadi sesuatu dengan Kak Raisa," ujar Nadia yang merasa khawatir.
"Tapi kamu lagi kerja," Raisa merasa tak enak hati jika merepotkan Nadia.
Nadia memanggil temannya, lalu temannya itu mendekatinya. Nadia ijin pergi sebentar untuk mengantar Raisa. Teman Nadia mengatakan jika akan bicara kepada atasannya, kalau Nadia ijin sebentar.
Nadia melangkah keluar dari supermarket dengan memapah Raisa. Nadia menyetop taxi yang lewat.
Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam taxi.
“Nad, tolong hubungi suamiku! Ponselnya ada di tas,” pinta Raisa meminta tolong.
“Baik, Kak.” Nadia mengambil tas milik Raisa, lalu mengambil ponsel dari dalam tas itu.
“Nama kontaknya, suamiku.” ucap Raisa.
Nadia langsung mencari nama kontak itu, lalu melakukan panggilan telfon.
Panggilan terhubung
📞”Hallo,” ucap Nadia dari balik telfon.
📞”Hallo, sayang. Kok suara kamu beda?” tanya Reynard dari balik telfon.
📞”Saya Nadia, ini saya sedang bersama Kak Raisa.”
📞”Kenapa kamu yang bicara?”
📞”Saya hanya mau memberitahu jika saat ini saya dan Kak Raisa sedang ada di perjalanan menuju ke rumah sakit,” ucap Nadia.
📞”Rumah sakit mana? Istri saya kenapa?” tanya Reynard yang merasa panik.
📞”Kak Raisa perutnya sakit, sekarang saya mau membawanya ke rumah sakit pelita,” ucap Nadia.
📞”Baiklah, saya akan menyusul kesana.”
Kini ke duanya sudah selesai bertelfonan.
Tak lama, taxi yang mereka naiki sudah sampai di rumah sakit pelita. Nadia membantu memapah Raisa berjalan memasuki rumah sakit.
Nadia berteriak meminta pertolongan. Terlihat seorang perawat menghampiri mereka.
Raisa di bawa ke ruang pemeriksaan. Nadia ikut mengantar Raisa hingga masuk ke dalam.
“Maaf, Nona. Silahkan Keluar dulu! Karena saya mau memeriksa keadaan pasien,” ucap seorang Dokter yang baru memasuki ruangan itu.
__ADS_1
“Baiklah,” Nadia melirik tas milik Raisa yang tergeletak di pinggir ranjang pasien. Lalu dia mengambilnya dan membawanya keluar.
Cukup lama Nadia duduk disana. Dia mendengar pintu ruang pemeriksaan terbuka. Ternyata Dokter yang memeriksa Raisa keluar.
“Maaf, dengan keluarga pasien?”
“Saya temannya, Dok. Bagaimana keadaan Kak Raisa dan kandungannya?”
“Keadaannya cukup buruk, dan pasien harus segera melakukan operasi persalinan. Jika tidak, takutnya terjadi apa-apa dengan bayinya.”
“Lakukan yang terbaik, Dok! Tolong selamatkan ke duanya.”
“Akan saya lakukan, tapi saya butuh tanda tangan dari pihak keluarga,” ucapnya.
“Sebentar, Dok! Saya akan menghubungi suaminya.”
“Baik, saya tunggu.”
Nadia sudah mencoba untuk menghubungi Reynard. Namun belum juga ada jawaban. Akhirnya Nadia menghubungi Bu Sinta. Untung saja Bu Sinta langsung mengangkat panggilan telfon itu. Nadia meminta agar Bu Sinta segera datang ke rumah sakit.
°°°°°°°
Dua puluh menit kemudian, Bu Sinta baru sampai di rumah sakit. Bu Sinta menghampiri Nadia yang sedang duduk sendirian.
“Nad, bagaimana keadaan Raisa?”
“Kak Raisa belum di tangani Dokter, karena perlu tanda tangan persetujuan dari pihak keluarga,” ucap Nadia.
“Belum, tadi saya sudah menghubunginya beberapa kali, namun tidak ada jawaban,” ucap Nadia.
“Astaga, anak itu. Sekarang Dokternya mana?”
“Ada di dalam, biar saya panggilkan,” Nadia mengetuk ruangan itu, lalu Dokter keluar.
Dokter membawa selembar kertas yang merupakan surat persetujuan dari keluarga. Bu Sinta langsung tanda tangan.
Dokter itu kembali masuk ke dalam ruangan.
Terlihat beberapa perawat keluar dengan mendorong brankar pasien dimana Raisa berbaring. Mereka akan memindahkan Raisa ke ruang operasi.
Bu Sinta dan Nadia mengikuti kemana Raisa dibawa.
Mereka menunggu di depan ruang operasi. Bu Sinta sudah beberapa kali menghubungi nomor Reynard. Namun ternyata tidak di angkat juga.
‘Rey lagi ngapain sih? Istrinya mau melahirkan malah tidak ada kabar,’ gumam Bu Sinta.
Bu Sinta kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.
Tring tring
Bu Sinta mendengar ponselnya berdering. Dia kembali mengambil ponselnya. Ternyata itu panggilan masuk dari Reynard.
__ADS_1
📞”Hallo, Rey. Kamu kemana saja sih? Mamah hubungi dari tadi tapi tidak ada jawaban juga,” ucap Bu Sinta kepada anaknya.
📞”Maaf, Mah. Tadi Rey mau ijin tapi tidak boleh karena masih harus shooting.”
📞”Lalu, sekarang kamu dimana?” tanya Bu Sinta.
📞”Aku sudah ada di depan rumah sakit nih. Dimana ruangan Raisa?”
📞”Raisa ada di ruang operasi sedang di tangani oleh Dokter,” ucapnya.
Bu Sinta memberitahukan dimana ruang operasi. Lalu Reynard segera pergi kesana.
Reynard melihat Ibunya dan Nadia yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di depan ruang operasi.
“Mah, bagaimana kondisi Raisa?” tanya Reynard yang sedang melangkah mendekati Ibunya.
“Masih di tangani oleh Dokter, kita doakan saja yang terbaik,” ucap Bu Sinta.
“Iya, Mah. Semoga Raisa dan bayinya selamat.”
“Amin,” ucap Bu Sinta.
°°°°°°
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Terlihat Dokter keluar dari ruangan itu.
“Dok, bagaimana istri dan anak saya?” tanya Reynard yang kini sudah berdiri di depan Dokter yang menangani istrinya.
“Alhamdulilah, ke duanya selamat. Hanya saja Bu Raisa masih belum sadar,” ucapnya.
Reynard dan Ibunya merasa senang saat tahu jika Raisa dan anaknya baik-baik saja.
“Boleh kami masuk?” tanya Bu Sinta.
“Nanti saja, saat ini pasien akan langsung di pindahkan ke ruang perawatan,” ucapnya.
“Baiklah,” ucap Bu Sinta.
Terlihat beberapa perawat mendorong brankar pasien tempat Raisa berbaring. Salah satu perawat menggendong bayi mungil yang baru lahir.
Reynard, Bu Sinta, dan Raisa mengikuti mereka.
Raisa di tempatkan di ruangan inap terbaik yang ada di rumah sakit itu.
Reynard mendekati perawat yang sedang menggendong anaknya. Dia meminta untuk menggendongnya.
Reynard mulai mengadzankan anaknya. Setelah itu dia kembali menyerahkan anaknya kepada perawat itu.
Reynard mendekati istrinya, lalu dia mengecup singkat keningnya.
“Sayang, terima kasih karena sudah menjadi istri yang sempurna. Cepat sadar, sayang. Anak kita laki-laki loh, tampan sepertiku. Kamu harus segera melihatnya, sayang.” Ucap Reynard kepada istrinya yang masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
°°°°°°