Pesona Janda Kembang

Pesona Janda Kembang
Part.57


__ADS_3

Sudah satu bulan kepergian Rayandra. Namun Raisa masih berlarut dalam kesedihan. Bu Sinta sudah mengajaknya periksa ke Dokter. Untung saja kata Dokter, kondisi fisik Raisa baik-baik saja. Hanya saja Dokter takut jika kesedihan Raisa, nantinya berpengaruh pada kondisi psikisnya. Maka dari itu, Bu Sinta di suruh untuk sering mengajak Raisa berbicara.


Sedangkan Reynard, dia sering pulang tengah malam. Bu Sinta sudah lelah menasehati anaknya. Bu Sinta takut jika kondisi anaknya yang seperti itu di manfaatkan oleh orang lain.


Pagi ini, Bu Sinta melihat berita skandal anaknya yang sudah tersebar di sosial media. Sebagai seorang ibu, tentu geram melihat anaknya jadi gosip pembicaraan yang tidak baik.


Bu Sinta menghampiri anaknya yang masih tidur di kamar tamu.


"Rey, bangun!" Bu Sinta menggoyang- goyangkan badan anaknya.


"Ada apa sih, Mah?" Reynard mengerjapkan ke dua matanya.


"Apa gosip ini benar?" Bu Sinta memperlihatkan layar ponselnya kepada anaknya.


Reynard mengambil ponsel yang di pegang oleh Ibunya.


"Iya, memangnya kenapa?"


Plak


Bu Sinta menampar pipi anaknya.


"Kamu itu seorang selebritis, tidak sepantasnya pergi ke club malam seperti yang di beritakan oleh media. Kamu mau jika karier yang sudah kamu bangun bertahun-tahun akan hancur sekejap mata?" Bu Sinta merasa kecewa dengan anaknya.


"Aku butuh menghibur diri, Mah." ucap Reynard sambil menunduk. Dia tidak pernah melihat ibunya semarah itu.


"Bukan seperti itu caranya, Rey. Awas saja kalau kamu ketahuan bermain wanita, Mamah akan sangat kecewa sama kamu," setelah mengatakan itu, Bu Sinta pergi dari kamar itu.


Reynard beranjak dari atas tempat tidur, lalu pergi untuk membersihkan diri dengan air dingin. Reynard tampak termenung di bawah guyuran sower.


Setelah selesai mandi, dia keluar dari kamar tamu hanya dengan menggunakan handuk. Reynard pergi ke kamarnya untuk mengambil pakaian yang akan dia kenakan. Reynard melihat istrinya yang sedang berdiri sambil menatap ke luar jendela. Dia tidak bertanya ataupun menyapa.

__ADS_1


Setelah memakai pakaiannya, dia pergi keluar dari kamar. Kebetulan dia berpapasan dengan Bu Sinta.


"Mau kemana kamu?" Bu Sinta bertanya kepada anaknya.


"Mau pergi keluar sebentar," ucapnya, lalu dia melangkah keluar rumah.


Bu Sinta hanya menatap sekilas kepergian anaknya. Lalu dia membuka pintu kamar anaknya.


Cklek


Bu Sinta membuka pintu kamar.


"Rai, makan dulu yuk! Kamu belum makan loh dari tadi," Bu Sinta mendekati Raisa yang sedang berdiri di depan jendela kamar.


Raisa tetap diam, dia tidak menghiraukan perkataan Bu Sinta.


"Rai," Bu Sinta menepuk pelan bahu Raisa.


"Makan dulu yuk!" ajak Bu Sinta.


"Iya, Mah." ucapnya.


Raisa mengikuti Bu Sinta hingga ke ruang makan. Ke duanya duduk disana. Bu Sinta mengambilkan nasi dan lauk untuk Raisa.


"Rai, ini di makan!" Bu Sinta menaruh piring yang sedang dia pegang di depan Raisa.


"Terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama, Nak." jawabnya.


Raisa hanya memakan satu suapan saja. Dia sibuk mengaduk-aduk nasi dengan sendok. Bu Sinta merasa kasihan melihat kondisi Raisa. Seharusnya dengan kondisinya yang seperti itu, ada suami yang menemaninya. Namun Reynard tidak memperhatikan istrinya. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah.

__ADS_1


"Nak, ibu suapin ya," Bu Sinta berpindah duduk di sebelah Raisa, lalu mulai menyuapinya dengan telaten.


Setelah selesai makan, Bu Sinta mengajak Raisa pergi ke Dokter.


Saat ini ke duanya sedang ada di perjalanan menuju ke rumah sakit. Saat mobil yang mereka naiki berhenti di lampu merah, Bu Sinta tak sengaja melihat Reynard di dalam mobil bersama seorang wanita.


'Siapa wanita itu? Kenapa bisa bersama Reynard?' batin Bu Sinta.


Jika saja mereka tidak akan ke rumah sakit, pasti Bu Sinta sudah mengikuti kemana anaknya pergi.


Tak lama, Bu Sinta dan Raisa sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung pergi ke ruangan Dokter yang menangani Raisa.


"Permisi, Dok." ucap Bu Sinta saat baru memasuki ruangan itu.


"Silahkan duduk!" ucapnya.


Bu Sinta mengajak Raisa untuk duduk di kursi yang ada di depan Dokter itu.


"Bagaimana keadaan Bu Raisa?" tanya Pak Dokter.


"Masih sama, menantu saya sering diam. Dia tak banyak bicara," ucap Bu Sinta.


"Coba saja orang terdekatnya mengajak dia bicara pelan-pelan. Saya takut jika kondisi Bu Raisa di biarkan berlarut-larut seperti ini, nanti malah harus di rawat," ucapnya.


"Maksud Dokter, menantu saya di rawat di rumah sakit jiwa?"


"Benar, Bu. Tapi semoga saja itu tidak sampai terjadi." ucapnya.


Bu Sinta dan Raisa sudah keluar dari ruangan Dokter. Bu Sinta bingung sekali menghadapi kondisi menantunya yang seperti itu. Dia tidak ingin jika menantunya di rawat di rumah sakit jiwa.


°°°°°°°°°°°°

__ADS_1


__ADS_2