
Bu Sinta melihat Raisa yang baru keluar dari kamarnya. Dia mendekatinya dan mengajaknya untuk duduk bersama.
Raisa terlihat diam tidak seperti biasanya.
"Rai, kamu kenapa?"
Raisa tersenyum menatap ibunya,
"Aku tidak apa-apa kok," ucapnya.
Bu Sinta melihat senyuman itu terlihat di paksakan.
"Jangan di tutup-tutupi, Mamah tahu kok jika kamu kecewa sama suamimu. Maafin Rey, Mamah mohon, walaupun ini berat untuk kamu," Bu Sinta memegang kedua tangan Raisa.
Seketika Raisa menangis, dia begitu sedih karena sudah di abaikan oleh suaminya.
"Kenapa Mas Rey begitu tega, Mah? Apa salahku?"
"Rai, kamu yang sabar, Nak. Mamah yakin kok jika Rey tidak bermaksud melakukan itu. Dia pasti punya alasan kenapa tidak datang ke restoran," ujar Bu Sinta.
"Tapi Mas Rey sudah terlalu sering menyakiti hatiku, Mah. Bahkan disaat aku sedang berjuang untuk sembuh akibat kehilangan anakku," Raisa terisak di dalam pelukan Bu Sinta.
"Bertahanlah sekali lagi, Nak. Demi Mamah ya," Bu Sinta masih terus meyakinkan Raisa.
Raisa menarik napas panjang, lalu berucap,
"Iya, Mah. Aku akan bertahan sekali lagi. Jika kali ini Mas Rey kembali menyakitiku, aku akan pergi dari kehidupannya."
Bu Sinta melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata yang menetes di pipi Raisa.
__ADS_1
"Terima kasih, Nak." Bu Sinta senang karena Raisa masih mau bertahan.
°°°°°°°°°
Reynard keluar dari kamarnya, dia melihat Ibu dan istrinya sedang duduk berdua.
"Mah, Rai, aku mau pergi keluar dulu," pamit Reynard.
"Mau kemana? Bukankah kamu baru pulang?" tanya Bu Sinta.
"Ada urusan penting," ucapnya, lalu melangkah pergi.
"Sepenting apa sehingga kamu mengabaikan istrimu sendiri?" tanya Bu Sinta, sehingga menghentikan langkah anaknya.
"Maaf, tapi aku harus pergi," Reynard melanjutkan langkahnya. Sebenarnya dia sedikit sedih mengatakan itu. Tapi dia memang harus pergi agar urusannya dengan Siska cepat selesai.
"Rai, Mamah mau mengikuti kemana Reynard pergi. Kamu di tinggal sendiri tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa kok, Mah." ucapnya.
"Baiklah, kalau begitu Mamah langsung pergi ya," Bu Sinta beranjak dari duduknya, lalu mengambil kunci mobil yang ada di kamar. Setelah itu Bu Sinta segera pergi mengikuti kemana anaknya pergi.
Bu Sinta terus mengikuti mobil Reynard yang ada di depannya. Namun saat di lampu merah, Reynard sudah pergi terlebih dahulu. Sedangkan Bu Sinta masih berhenti bersama pengendara lain.
"Sialan," Bu Sinta memukul stir mobil.
Setelah lampu hijau, Bu Sinta kembali mengemudikan mobilnya. Namun mobil yang di kendarai Reynard sudah tidak terlihat lagi.
Bu Sinta memilih berputar arah untuk pulang.
__ADS_1
Raisa melihat Bu Sinta yang sudah kembali pulang.
Bu Sinta mendekati Raisa dan duduk di sebelahnya.
"Mamah ketinggalan jejak, Rai. Reynard sudah pergi entah kemana," ucapnya.
"Sabar, Mah. Mungkin ini belum saatnya untuk kita tahu apa yang selalu Mas Rey lakukan di luar sana."
"Maafin Mamah, ya."
"Mamah tidak usah minta maaf. Rai tidak apa-apa kok," ucapnya, dengan senyum yang di paksakan.
°°°°°°°°°°
Saat ini Reynard sudah sampai di apartemen Siska.
"Ada apa kamu memanggilku?"
"Antarkan aku periksa ke Dokter," rengek Siska sambil bergelayut manja di lengannya.
"Baiklah," demi anak di dalam kandungan Siska, terpaksa Reynard menurut.
Keduanya keluar dari apartemen. Mereka segera pergi menuju ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Siska terus memeluk Reynard. Reynard yang di perlakukan seperti itu merasa risih.
Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu lama, kini keduanya sudah sampai di rumah sakit. Reynard ikut Siska hingga ke ruang pemeriksaan. Kebetulan sebelumnya Siska sudah membuat janji. Jadi dia langsung saja menemui Dokter.
Ternyata kandungan Siska baik-baik saja. Siska merasa senang karena di perutnya ada kehidupan lain. Dia akan menjaga kandungannya sebaik mungkin. Dia juga akan meminta Reynard untuk menikahinya.
__ADS_1