
"nggak pa.... mereka itu yaitu Yanti dan temannya yang mau kerja disini, "jawab Maria
"ooh... lho bukannya Yanti mau nikah kok masih ikut kesini "
" iya katanya dia mau mengajarkan temannya itu dan sekaligus pamitan pada kita yang ada disini " jawab Maria
" bagus itu jadi kita perlu repot lagi, dan dia bisa langsung bekerja" Dika manggut manggut
" ya....semoga Arethanya nyaman sama pengasuh yang baru ya pa... secara papa kan tahu kalau ada orang baru aretha susah untuk didekati" Maria sedikit cemas
" iya..ya.. semoga saja pengasuh yang sekarang bisa mengambil hati anak kita, syukur syukur bisa langsung dekat, agar kita tidak repot repot lagi cari baby sister lagi" Dika membenarkan apa yang dicemaskan
...****************...
__ADS_1
sementara jauh itu dari kota, Humai memasukkan beberapa potong baju, gadis, kerudung dan tak lupa perlengkapan ibadahnya
"mai... apa kamu sudah yakin mau kerja apalagi ini jauh dari bapak dan ibu...sini ibu bantu" bu anis masuk ke kamar anaknya berniat membantu Humai yang sedang mempersiapkan keberangkatannya besok
"hh... sebenarnya Humai mulai ragu bu, tapi mau gimana lagi, yanti sudah memberi kabar bahwa ada pengasuh baru sebagai gantinya dan lagi pula ini masih dalam masa percobaan takut anaknya nanti tidak nyaman dengan Humai, maka dari itu Humai bawa sedikit dan disana juga pake seragam" jelas Humai sambil melipat pakaian yang akan dia bawa
"jadi nanti kalau anaknya tidak mau sama kamu, apa kamu langsung pulang?, itu nggak enak di kamu, kamu sudah berkorban tenaga, perasaan, dan terutama itu ongkos pulang pergi kan itu tidak sedikit, lalu kau ditolak dan disuruh pualang" tanya bu anis
"hmm tidak gitu juga bu, mungkin saya bekerja hanya satu bulan gaji atau paling tidak sampai mereka menemukan pengasuh yang bisa membuat anaknya nyaman"
"membantu....maksudnya bagaimana, ibu belum paham" sorot matanya mengarah pada Humai
"iya....selain ingin mempunyai penghasilan sendiri, Humai tuh mau membantu Yanti, masak hanya gara gara pekerjaan dia gagal menikah padahal itu ibadah, jadi saya tuh bersyukur saja apapun kedepannya nanti, diterima syukur, tidak diterima pun Humai bersyukur karena bisa bersama Alfa lagi" jelas Humai
__ADS_1
" ya sudahlah... oh ya jam berapa kamu berangkat biar ibu siapin bekal untuk dijalan" bu anis
"kata Yanti berangkat jam tujuh, soalnya untuk sampai ke stasiun butuh satu jam dari sini, tapi Humai mau berangkat duluan, Humai mau nyekar ke pusaran bang Adnan, sekalian pamit" mengucapkan nama Almarhum suaminya membuat matanya mengembun, itu berarti dia tidak bisa ziarah ke makam almarhum suaminya
" bu biarkan Alfa tidur sama Humai malam ini, besok sebelum Alfa bangun Humai harus berangkat," kata Humai melihat ibunya mau membawa Alfa ke kamarnya
"ya sudah, kalau begitu saya tidur dulu, kamu jangan sampai larut malam tidurnya,ingat katanya besok mau berangkat pagi sekali" bu anis keluar kamar dan menutup pintu
setelah ditinggal ibunya, dikamar Humai melihat anaknya yang terlelap dibuai mimpi, melihat anaknya tidur Humai tersenyum, entah apa yang ada dimimpi Alfa, mimik wajahnya berubah ubah kadang tersenyum lalu berganti lagi seakan akan ia marah, berganti lagi seperti ingin menangis bahkan anggota tubuh yang lain ikut bergerak seiring dengan bergantinya mimik wajah Alfa
"maafkan ummi nak, harus meninggalkan Alfa saat ini, ini ummi lakukan demi masa depan kita, ummi tidak mau terlalu menyusahkan kakek dan nenek, semoga.. dengan ummi kerja sedikit membantu kakek dan nenek dan ummi bisa menabung untuk masa depan kita, terutama masa depan Alfa, ummi sayang Alfa" dikecupnya kepala Alfa setelah membelai rambut anaknya
"seandainya bisa, ummi akan bawa Alfa kemana ummi pergi tapi untuk saat ini anak ummi disinit dulu ya sama kakek, nenek dan bu de Adiba, jangan nakal ya...jadilah anak baik, semoga anak ummi jadi anak yang sholeh dan bis hj khalil p membanggakan kita semua dunia akhirat" dikecupnya lagi kepala anaknya dan dilihat wajah Alfa seperti ingin menangis seakan akan mengerti setiap perkataan ibunya
__ADS_1
Humai mengambil posisi untuk tidur dan membawa Alfa dalam pelukan nya