Pesona Pengasuh Keponakan Ku

Pesona Pengasuh Keponakan Ku
tersinggung


__ADS_3

"keluarga nyonya orang baik tapi saya tidak pernah melihat tuan dan nyonya melaksanakan kewajiban seorang muslim, maaf nya kalau saya salah,"


"maaf, sebagai manusia saya hanya melihat sesuatu yang tak terhalang saja, dan maaf atas kelancangan saya" Humai benar benar tak enak hati seperti ikut campur kehidupan majikannya


"maksud kamu kewajiban yang mana, saya sudah membantu yang ada di bawah saya"


" kalau kewajiban terhadap manusia nyonya sangat baik dan saya salut tentang kebaikan nyonya, tapi apakah kewajiban terhadap Tuhan nyonya juga sudah melakukan,"


"maksudmu sholat" Humai mengangguk


" semuanya sudah saya lakukan kecuali itu, dan semuanya baik baik saja dan sesuai dengan yang saya inginkan"


Humai mengubah arah duduknya dan menatap lurus ke depan


"dulu waktu kecil saya juga berpikir, buat apa kita sholat, toh semua yang saya inginkan semuanya terpenuhi, bapak selalu memberikan apa yang saya minta,


ya dulu saya sholat karena takut sama bapak karena bapak tak akan segan untuk memukul kami apabila tidak sholat, tapi setelah saya di pesantren saya mulai memahami bahwa islam itu bagai sebuah rumah atau bangunan, dimana bangunan terdiri dari beberapa bagian, dan bagian mempunyai fungsi masing masing, begitu pun , dalam islam kita mengenal yang namanya rukun islam, sesuatu yang wajib kita amalkan


"lalu apa hubungannya...."


"awalnya saya tidak mengerti dengan sabda nabi yang mengatakan sholat adalah tiang agama, mungkin itu hanya ungkapan saja, tapi setelah berada di pondok baru saya mengerti, menurut pendapat saya, diibaratkan membuat rumah, saat ini nyonya sudah membuat pondasinya saja, sedangkan tiangnya nyonya belum mendirikan, lalu bagaimana kita akan membuat yang lain kalau tiangnya tidak ada, begitu pun dengan sholat, kalau kita belum mendirikan sholat, amal yang lain tidak ada gunanya, kata guru saya mau ditaruh di mana pahala sedekah kita, puasa kita atau perbuatan baik yang lain kalau tiangnya tidak ada, sedangkan pahala sedekah dan puasa kita bagaikan atap dan dinding pada bangunan, sedangkan rukun islam yang kelima bagaikan perlengkapan rumah saja apabila kita mampu ya kita beli, kalau tidak mampu ya tidak apa apa!,"

__ADS_1


"tapi saya tidak pernah mengharapkan apa atas perbuatan baik saya"


"saya tahu, tapi Allah itu Maha adil segala perbuatan baik atau jelek itu ada imbalan ataupun balasan, dan kita akan benar benar menjadi makhluk yang sombong kalau kita tidak pernah mau menunduk dan memohon kepadaNya,"


"kamu kan tahu, aku selalu sibuk,"


"nyonya, kita diberi waktu sehari semalam dua puluh empat jam, sedangkan Tuhan hanya meminta waktu hambaNya kurang lebih hanya Satu jam, dan itupun tidak langsung satu jam kita terus beribadah, Allah telah membaginya menjadi lima waktu, sisanya masih ada dua puluh tiga jam kita bisa melakukan apa saja, kalau kita mengejar dunia maka kita akan terus diperbudak oleh dunia, maka dari itu biarkanlah dunia yang mengejar kita, sempatkanlah menghadap Tuhan apabila ada panggilan untuk menyembahnya, mintalah dan adukan semua masalah yang kita hadapi, insyaallah Allah akan menunjukkan jalan terbaik untuk hambaNya"


Maria membenarkan perkataan Humai yang panjang lebar, hatinya sedikit terketuk, ya selama ini dia bekerja mengejar target setelah sesuai dengan target atau malah lebih dia bukan berhenti menikmati hasilnya, dia kembali mengejar target yang lain dan tidak akan pernah habis dan apabila tidak sesuai dengan apa yang ditargetkan, dia kesal dan lagi bisa menyalahkan orang lain, sungguh dunia galah menjadikannya orang yang tamak dan orang yang tidak tahu berterima kasih, apalagi orang yang bersyukur


"mbak Humai dari tadi disini ya, Retha tunggu dari tadi nggak dateng dateng, katanya cuman sebentar, cuman mau nganterin teh, ini kok lama"


"beneran ma, Retha nggak ganggu mama istirahat"


"bener kata mbak Humai sekarang udah nggak capek lagi kan udah anak mama yang paaaaling cantik, ayo sekarang kita main"


Humai pergi ke dapur untuk menaruh nampan yang dia pegang dari tadi saat bicara dengan majikannya


" kalian bicara apa dari tadi mai, kok aku lihat sepertinya serius, kamu pinjam uang mai" tanya mbok yum yang sedang membersihkan dapur


" nggak mbok, Alhamdulillah yang gaji Humai cukup untuk memenuhi kebutuhan kami" kata Humai

__ADS_1


"lalu kalian bicara apa, hingga membuat emosi nyonya naik turun"


"masak sih mbok"


"iya aku lihat gitu dari sini, kelihatan dari ekspresi wajahnya, sepertinya jadi kesel tapi tiba berubah jadi sendu "


"nggak bicara apa apa mbok, biasa masalah pekerjaan"


"ya ampun, apa benar emosi nyonya berubah ubah, apa perkataan ku tadi membuatnya tersinggung ya " hatinya bergemuruh, tak tenang


"ya sudah mbok saya keluar dulu, sekalian saya mau ambil mainannya Non Aretha"


"apa perkataan aku ada yang salah ya?, jelas salah lah ngapain aku ngurusin hidup orang, itu kan nak setiap orang!, tapi mungkin dengan begini nya bisa mendapat hidayah, iya kalau sadar kalau aku malah dipecat gimana?, aaahk sudahlah, apapun yang terjadi berarti sudah jalannya" Humai menggelengkan kepalanya, dari tadi hatinya serasa bertengkar dengan dirinya


...****************...


maaf ya para reader, author nya galau nih


sebenarnya inspirasinya itu sudah ada tapi othornya bingung milih kata katanya, takutnya bisa menyinggung para reader


pengennya sih, ada hikmah di dalam cerita nih, meskipun itu hanya pemikiran othornya saja

__ADS_1


__ADS_2