
"ih siapa yang mesum sih" tangkas Maria setelah kaget dengan tepuk tangan abangnya
"itu tadi kamu senyum senyum sendiri ngapain, kalau tidak berpikiran mesum" kata Daffa
"eh ya bang tadi abang bilang Ria harus bantu mas dalam proyek bersama pak Hendra, maksudnya gimana ya bang?" tanya Maria sembari menegakkan posisi duduknya
"kamu kan tahu pak Hendra itu siapa, dia tidak akan mudah bekerjasama dengan perusahaan lain selain dengan kita, yang pak Hendra mau dalam proyek itu salah satu anggota keluarga papa ikut andil proyek tersebut," Daffa
"oh, tapi kan ada Mas Dika bang, kan dia menantunya papa, otomatis dia kan termasuk anggota keluarganya papa" Maria
"ya kau benar, tapi pak ingin yang menjadi ahli waris papa juga ikut terlibat dalam proyek ini, lagian proyek ini memberikan kesempatan untuk menunjukkan kalau suami kamu bisa dan mampu untuk pemimpin perusahaan, abang mau dia bisa memimpin perusahaan sendiri yaa... walaupun bukan dari nol tapi setidaknya dia bisa memajukan perusahaan itu dari yang sebelumnya," Daffa
"terimakasih ya bang, telah memberikan kesempatan dan membantu mas Dika, abang memang is the best deh" Maria tak lupa candaannya
"setelah proyek dengan pak Hendra selesai, perusahaan yang dipegang suamimu akan saya alihkan atas nama kamu," Daffa beranjak dari tempat duduk kebesarannya melangkah menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya dan bersandar dengan kepala menghadap ke langit langit
"ooh.."
"kok ekspresi kamu gitu, kenapa" Daffa tak menyangka tanggapan Maria
__ADS_1
"yaa... sebenarnya saya lebih senang begini aja bang, biar tanggung jawab aku sama mas Dika terhadap perusahaan itu gak terlalu berat, gitu"
"aku melakukan ini, selain itu memang hak kamu, sebagai ahli waris papa, abang juga ingin menunjukkan kepada keluarga besar kita bahwa abang tidak salah merestui dan mendukung kamu dalam memilih pasangan, abang yakin dengan rasa cinta dan tanggung jawab Dika terhadap kalian, pasti kamu dan Aretha bahagia, dan aku yakin dengan tekad dan kerja keras perusahaan nanti akan lebih maju"
Maria bergerak mendekati Daffa, bergelayut manja layaknya anak kecil terhadap saudara laki lakinya
"makasih ya bang, selama abang telah menjaga dan memenuhi kebutuhan dan keinginan Ria, abangku memang the best deh" kata Maria memegang tangan Daffa sembari meletakkan menyandarkan kepalanya di bahu abangnya
"menjaga dan memastikan kamu bahagia itu sudah menjadi tanggung jawab abang, sebagai pengganti papa, abang sekarang udah tenang dan lega melihat kamu sudah bahagia apalagi sudah Aretha" kata Daffa sembari mengusap kepala Maria
"ya memang abang terbaik, tapi sayang.... jomblo akut" seloroh Maria
mendengar seloroh Maria, Daffa beranjak dari tempat duduknya kembali ke kursi kebesarannya
"ih kebiasaan deh, selalu mengalihkan pembicaraan" kata Maria
"yang akan kamu bicarakan di luar pekerjaan sedangkan kita masih di kantor" jawab Daffa jengah
"alah alasan, kenapa sih bang....cuman disuruh cari istri susah banget, jangan bilang abang itu..."
__ADS_1
"apa... kamu mau mengatakan abang tidak normal, kamu tenang saja abang masih normal" Daffa berhenti sejenak kemudian meneruskan pekerjaannya kembali
"bagaimana Ria mau tenang lihat abang pacarannya ama kertas terus, belum lagi tiap diteror mama nanyain kapan punya mantu perempuan, capek akunya bang, ditanya terus sama mama" kata Maria
" ngapain mama ngurusin hidup kita dari dulu kemana" Daffa melempar berkas yang ia pegang setelah mengingat beberapa tahun yang lalu
"biar bagaimana pun dia tetap mama kita, pasti mama masih mengkhawatirkan anak anaknya, terutama abang yang masih belum pasangan"
"ya udah, itu urusan abang lebih sekarang kamu balik keruanganmu"
"iya.." Maria melangkah keluar dari ruangan abangnya
"tunggu, gimana dengan pengasuhnya Aretha, aku tidak mau kamu salah ambil orang meskipun itu rekomendasi dari pengasuh yang lama" tanya Daffa setelah Maria membuka pintu
"dia baik bang, bahkan Aretha langsung dekat dengan pengasuhnya"
"oh ya... bagus itu, tapi meski begitu kamu harus hati hati dan awasi, aku tidak mau terjadi sesuatu ama keponakan ku,"
"ya.. ya udah Ria ke ruangan dulu"
__ADS_1
"ya udah sana pergi"
"ih nyebelin" Maria menutup pintu