Pesona Pengasuh Keponakan Ku

Pesona Pengasuh Keponakan Ku
salah paham


__ADS_3

"apa perkataan aku ada yang salah ya?, jelas salah lah ngapain aku ngurusin hidup orang, itu kan nak setiap orang!, tapi mungkin dengan begini nya bisa mendapat hidayah, iya kalau sadar kalau aku malah dipecat gimana?, aaahk sudahlah, apapun yang terjadi berarti sudah jalannya" Humai menggelengkan kepalanya, dari tadi hatinya serasa bertengkar dengan dirinya


Humai mengambil beberapa mainan untuk dibawa keluar


" mbak Humai nanti jam berapa sholatnya, kalau bisa sekarang ya, Humai dah ngantuk nih"


"lho tumben non jam segini sudah ngantuk, apa ini karena ada mama ya, pengen dinina boboin ama mama ya non"


"ya... mumpung ada mama, pengennya sih sama papa juga, tapi kalau gak ada nggak apa deh"


"ya udah non tidur aja dulu, belajar sholatnya nanti saja kalau non sudah seger, "


"oh ya, apa Retha boleh belajar sholat" Humai mengangguk


"maka dari itu, lebih baik non segera tidur biar nanti sore lebih segar dan kita akan membeli beli mukenah yang lucu"


"yeeeey......."


mereka pun masuk, Maria dan Aretha menuju ke lantai atas sedangkan Humai berdarah menuju dapur, dia berniat membantu mbok yum yang mempersiapkan makan siang,


sesampainya di kamar Aretha segera naik ke tempat tidur, sejak kedatangan Humai, Aretha selalu ditemani pengasuhnya, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, itu karena Maria benar benar sibuk bekerja dan membantu suaminya seperti yang dibilang saudaranya


awalnya Aretha ingin protes, karena mereka tidak ada waktu luang untuk Aretha, walau hanya menemani tidur, tapi Humai dengan sabar memberikan pengertian kepada Aretha, semua yang di lakukan seorang tuanya semata mata hanya untuk Aretha


sedangkan dibawah Humai telah selesai membantu mbok Yum, dan dia beralih ke pekerjaan lain, dia hendak menyiram tanaman di depan dan disamping rumah,


"mai, nyonya sekarang dimana, " tanya Dika baru datang

__ADS_1


"eh tuan, itu tuan, non Aretha mau tidur, ingin ditemani nyonya, jadi sekarang mereka dikamar non Aretha"


"ya sudah, saya susul mereka"


"ya tuan" Humai melanjutkan pekerjaannya menyiram tanaman sambil bersenandung shalawat


sedangkan Dika segera menyusul ke kamar Aretha tanpa mengganti baju dulu, dia pun sadar, dua bulan terakhir waktunya berkurang untuk keluarga kecilnya terutama untuk Aretha


cekleek


"hallo anak papa yang cantik, kalian kok ada disini?"


"papa, papa ada disini juga, yeeey, Retha mau tidur pa, mau ditemani mama dan sekarang karena ada papa, jadi mau ditemani papa dan mama"


"ya sudah, sini papa yang baca buku ceritanya"


"ma sepertinya dia sudah tidur, kita ke kamar yuk, papa mau mandi"


"ya udah ayok" mereka meninggalkan Aretha yang sudah terlelap


"mas Dika mau mandi di bathtub, Bihar Ria siapin airnya"


"nggak usah yank, tapi kalau kamu mau juga nggak apa apa, sekalian kita main didalam,"


" maunya, lagian ini masih siang, udah mas cepetan mandinya,"


"ya udah, mas mandi dulu, nanti kita disini aja ya" Dika masih menggoda istrinya

__ADS_1


"hmm"


Dika masuk ke kamar mandi, dan Maria mengambil baju santai untuk suaminya,


setelah mengambil pakaian untuk suaminya Maria duduk di sofa entah apa yang dilihatnya, tidak ada yang ia kerjakan, di memorinya selalu mengingat percakapan dengan Humai


setelah lima belas menit Dika keluar dari kamar mandi, sambil mengusap kepalanya ia melihat sekeliling kamarnya mencari keberadaan istrinya,


Maria benar benar kepikiran tentang apa yang dikatakan Humai, hingga dia tidak sadar kalau suaminya berada disampingnya


"lagi mikirin apa sih, kok masnya dicuekin" Dika memeluknya dari samping menyelusup disela leher istrinya


" hmm...mas" rasa geli yang dirasakan tak mampu menghilangkan kegundahan hatinya


"kamu kenapa yank... sepertinya ada yang kamu pikirkan...apa ada masalah, yang, boleh saya tahu apa masalahnya "


"entahlah mas,.... mas sebenarnya aku lagi kesal," Maria tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya


" kesal, kesal sama siapa, kok tiba tiba kesal"


"aku tuh lagi kesal sama Humai, mm... bukan.... entahlah, tapi aku kesal karena dia sepertinya mengatur hidupku.... tapi"


" apa dia berani ngatur hidup kita, dia pikir siapa dia, hingga bisa mengatur hidup kita, tidak tahu berterima kasih, siapa yang menggaji dia" Dika berdiri ingin memarahi Humai


"mas.... mau kemana "


"mas mau ke bawah, mau bicara sama Humai, berani sekali dia ngatur hidup kita" Dika yang salah paham mulai dikuasai emosi

__ADS_1


"mas... nggak gitu ceritanya, dengerin dulu.... duduk sini biar Ria ceritain sebenarnya"


__ADS_2