
"aduh gimana nih, kamu benar benar dalam masalah besar Humairah, siap siap saja kamu dipecat mai" batinnya berbicara
"eh kamu ngapain kamu bersembunyi di belakang Hanif, memangnya kamu anak kecil, bisa sembunyi di belakang orang"
Humai maju beberapa langkah, tapi tangannya masih memegang ujung baju Hanif, kali ini dia benar tidak punya nyali untuk melawan orang yang ada di depannya
"ngapain kamu masih disitu, dan itu kenapa tanganmu, apa di baju Hanif ada lem nya hingga tanganmu tak bisa lepas" sindir Daffa
"ma..maaf tuan"
dan tentu Humai segera melepaskan ujung baju Hanif yang ia pegang, dan kini tangannya saling bertautan dengan kepala yang masih menunduk
"sepertinya tadi kamu berbicara dengan lantang, kenapa sekarang jadi gagu, dan kalau bicara dengan seseorang itu lihat orang, memangnya wajah saya ada di bawah, hingga kamu terus menunduk," kata Daffa
"dasar majikan arogan, dari tadi nyerocos mulu, aku harus gimana nih,"
hatinya menggerutu dan dia mengangkat kepalanya melihat kearah lawan bicaranya
dan dia memasang wajah paling manis dan polos dengan jurus senyumnya, seperti orang tanpa dosa dia tersenyum pada dua pria dewasa yang ada di depannya ada
Deg
Daffa seperti mendengar bunyi jantungnya sendiri
"ngapain dia senyum seperti itu, lagian kenapa nih, gue udah biasa ngadepin orang tersenyum, biasa aja tapi kenapa hanya melihat dia tersenyum, jantung ku langsung rame," Daffa berusaha menetralisir kegugupannya dengan menghembuskan nafas kearah samping
begitu pula dengan Andri
"waduh... gila nih cewek, senyum nya bikin para lelaki jadi salah paham, kalau saja gue belum punya calon pasti gue pepet terus, eh tunggu bos sepertinya lagi salting, hahaha... rasain tuh, kena panah asmara.." Andri ngatain atasannya tentu itu dalam hatinya
"mmmpth... "Andri menahan tawa melihat atasannya sedang berusaha mengendalikan diri
"ngapain kamu" kata Daffa
__ADS_1
"nggak ada bos, mmp"
sedangkan Humai dan kedua orang di sebelahnya bingung dengan orang didepannya
Daffa mulai kembali normal dia melihat kearah Humai
"ma..maaf tuan, maaf karena saya sudah menuduh tuan penculik, tapi.. itupun karena tuan" Humai masih ingin membela diri
"apa.. kamu masih menyalahkan saya, kamu tahu aku ini siapa"
"iya... maaf... tapi seandainya tadi tuan tidak memaksa non Aretha dalam gendongan tuan, dan tuan tidak membuat dia menangis, saya tidak akan menuduh tuan, apalagi sampai nimpuk tuan pakai sandal, sekali lagi saya minta maaf" kata Humai
"beneran kamu mukul tuan" bisik Hanif sesat setelah mendengar pembelaan Humai
Humai mengangguk lemas, tidak tahu hari berbuat apa
Daffa baru saja ingin bicara, tapi Aretha sudah merengek mengajak pulang
"mbak Humai Aretha ngantuk mbak, kita pulang yuk" kata Aretha setelah selesai dengan jari jarinya, sedari tadi Aretha hanya melihat perdebatan antara paman dan pengasuhnya, bolak balik wajahnya melihat orang yang sedang bertengkar didepannya
"selamaaat... untung non Retha ngajak pulang, jadi aku tidak perlu lebih lama lagi berdebat dengan majikan arogan ini" tentu itu dalam hatinya
tanpa babibu Aretha nyelonong berjalan melewati keempat orang dewasa, mungkin dia masih kesal dengan pamannya
"non... mau kemana non" Humai memegang tangan Aretha
" mau pulang mbak"
"iya tapi pamit dulu, salim dan ucapkan salam, jangan main nyelonong aja, itu tidak baik" Humai memegang tangan Aretha, di tuntunnya tangan Aretha menghadap kepada pamannya
"maaf uncle, Retha pulang dulu ya"
cup
__ADS_1
Aretha mencium punggung tangan pamannya
"jangan lupa untuk mengganti es krim nya uncle, assalamualaikum" Aretha pamit
"mari tuan, kami pulang duluan, sekali lagi maafkan saya, assalamualaikum"
"wa'alaikum salam," jawab Daffa dan Andri
merekapun berpisah menuju ke kendaraan masing masing
di mobil yang ditumpangi Aretha
"mai beneran kamu mukul tuan Daffa " Hanif tak sabar ingin menanyakan hal ini, dari tadi mulutnya terasa gatal ingin mencerca Humai dengan beberapa pertanyaanaaaaa
"bukankah bang Hanif sudah mendengar nya tadi"
"bukan begitu aku hanya memastikan saja, takut salah dengar,.... kalau kau memang benar memukul tuan Daffa, berarti kamu dalam masalah besar, pasalnya dia itu kakak kesayangannya nyonya" secara tidak langsung Hanif memperingatkan segala kemungkinan
"lalu aku harus bagaimana bang, tadi aku sudah minta maaf"
"berdoa saja semoga nyonya dan tuan menyikapi dengan bijak"
Humai mengangguk sambil membelai rambut Aretha yang sudah tertidur
sedangkan didalam mobil Daffa
"hahaha, bos baru kali ini aku lihat pembantu mukul majikan, CEO pula,... tapi bos ngomong ngomong, dia cantik bos apalagi tadi waktu dia tersenyum, waaah benar benar manis, aah seandainya gue belum punya calon, pasti gue pepet tuh gadis, apa gue putusin aja ya" kata Andri nyerocos, dia sedang menyetir dan sesekali melihat bos sekaligus sahabatnya
"jadi laki harus kuat dan setia, jangan cuma gara gara senyuman jadi labil, lagian dia bukan gadis lagi, tapi janda"
"whaat... seriusan, tapi sepertinya masih gadis, hi hi bos kalau dendam jangan gitu lah masak anak orang dibilang janda"
"ya sudah kalau tidak percaya"
__ADS_1
"oke... kalau memang janda, berarti janda kembang dong