
" tadinya aku tidak percaya, aku akan pergi meninggalkan kampung ini, tapi setelah berada di kereta ini, ternyata ini nyata, Ya semuanya berangkat dari awal, awal yang, lingkungan baru, pekerjaan baru, orang baru, kebiasaan baru, Ya semoga aku berada di tempat yang baik" dengan memejamkan mata dia berbicara sendiri
dr...dr...dr
Humai menoleh ke samping kanannya, ternyata handphone Yanti yang bergetar
Yanti menggeser tangannya ke warna hijau
" hallo bu." sapa Humai
" ....."
" ya bu.... kami sudah di dalam kereta bu, mungkin sore kami bisa sampai disana " Kata Yanti seperti menjawab sebuah pertanyaan
"......"
"ya bu, terimakasih" kata Yanti lagi, Yanti menutup telpon
"siapa yang menelpon, kok sepertinya ingin kita segera sampai" Humai yang sedari tadi hanya sebagai pendengar penasaran siapa yang bicara dengan temannya
"itu, bu Maria, " jawab Yanti
dahi Humai mengkerut
"siapa bu Maria, setahuku di kampung tidak ada yang namanya Maria" kata Humai
"hahaha...kamu kok polos banget sih mai, lagian siapa yang bilang kalau dia tetangga kita di kampung, dia itu majikan kita... eh salah majikan kamu, kan aku sudah mengundurkan diri,"
Humai mencelos, ia benar benar malu karena itu menandakan dia memang benar benar orang kampung tulen
__ADS_1
"lagian kita sekarang berada di kereta menuju ibukota kenapa kamu masih merasa ada di kampung"
"ish... kamu yan. namanya juga baru keluar dari tempurung, jadi belum terbiasa dengan dunia luar" Humai balik timpali candaan Yanti
"iya...dan yang keluar dari tempurung itu adalah kodok bukan kura kura" balas Yanti
" maksudnya"
"ya...katanya mau baru keluar dari tempurung, berarti lho itu diibaratkan kodok keluar dari tempurung langsung lompat menjauh, buktinya kamu sekarang pergi melancong sangat jauh, sedangkan kalau kura kura keluar tempurung tetep aja di situ situ aja, ha ha"
"haha, kamu bisa aja yan, tapi benar kata kamu, sekali melompat keluar langsung ke ibukota,"
keduanya sama larut dalam kebahagiaan, kadang ekspresi wajah mereka berganti ganti saat mereka berbicara, sampai mereka lelah berbicara dan sama sama tertidur di kereta
setelah beberapa jam menaiki kendaraan darat tercepat, akhirnya menjelang sore akhirnya mereka sampai di stasiun tempat pemberhentian terakhir
" Yan, sepertinya sudah masuk waktu ashar, kita sebaiknya cari tempat ibadah dulu, kita kan tadi sudah niat menjama' sholat dzuhur ke sholat ashar, jadi lebih baik disegerakan, jadi nanti kalau kita sudah sampai, kita bisa langsung istirahat" kata Humai
"kamu benar mai, apalagi nanti jam para pekerja pulang, pasti akan macet, akulah kita cari musholla dulu" Yanti membenarkan ajakan Humai
setelah setengah jam istirahat, mereka keluar dari musholla stasiun mencari taxi, memang lebih mahal daripada angkot tapi mereka sudah lelah dan ingin segera sampai, apalagi handphone Yanti dari tadi bergetar terus, itu tandanya bukan hanya mereka yang ingin segera sampai tapi majikan mereka juga
dr....dr...dr. dr
"hallo bu," yanti
"....."
"ya bu, kami sudah keluar dari stasiun bu, kami akan segera sampai"
__ADS_1
"......"
"ya bu, gak apa apa, ibu tenang saja kami akan menjaga non Aretha" kata Yanti
empat puluh lima menit telah berlalu, setelah berjibaku dengan kemacetan akhirnya sampai, mereka berdua turun dan mengambil barang bawaan mereka di bagasi
" pak urip, buka pintu dong" yanti setengah teriak karena ia mengira tidak ada orang di pos
"panggil salam dulu Yan, kamu tuh, Assalamualaikum, Assalamualaikum" Humai
"ia ustadzah, maaf lupa dan pasti kangen sama yang ada disini" sanggah Yanti
setelah beberapa menit keluar pria, dengan segera menghampiri pintu pagar yang dijaganya
" kamu Yan, ayo masuk, eh ini siapa yan?" pak urip baru sadar ada orang lain yang mengikuti Humai
" pak urip kenalin, ini teman saya, namanya Humai, dia akan menggantikan saya sebagai baby sitternya non Aretha"
"Humai ini pak urip, dia security disini"
pak urip mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan, tapi Humai menangkupkan kedua tangannya di depan dada
"urip"
"maaf, Humai, pak saya orang baru disini jadi mohon bantuan dan bimbingan nya, ya pak, maaf saya tidak bisa menyambut tangan bapak" kata Humai
"tak apa, saya juga yang salah, ah... berarti nambah teman ceritanya Yan, kamu sendiri mau kemana Yan" kata pak urip
" ada deh, udah Yanti dan Humai masuk dulu capek, lagian non Aretha sendiri katanya
__ADS_1