
"oh ya... bagus itu, tapi meski begitu kamu harus hati hati dan awasi, aku tidak mau terjadi sesuatu ama keponakan ku,"
"ya.. ya udah Ria ke ruangan dulu"
"ya udah sana pergi"
"ih nyebelin" Maria menutup pintu,kesal dia yang disuruh ke menghadap, dia juga yang diusir
Maria berjalan menuju ruangannya, dia teringat kembali akan angan angannya
"kok bisa ya aku membayangkan itu, padahal ini hari pertama Humai bekerja hi hi..." sambil berjalan dia bicara sendiri
kembali ke kediaman Dika, dimana tempat Humai bekerja menjaga dan mengasuh Aretha, mereka semakin dekat,
hari ini Aretha libur sekolah pihak yayasan telah memberikan info pada wali masing masing, jadi yang mereka kerjakan bercanda, bercerita dan bermain, tentu dengan bermain dengan memberikan nilai pendidikan, yang bisa merangsang daya fikir Aretha
Humai benar benar bersyukur, walaupun ia jauh dari buah hatinya tapi dia bisa mencurahkan perhatian dan kasih sayang nya pada nona kecilnya itu sedikit mengurangi kerinduannya pada Alfa, dan ditambah lagi dia mendapatkan gaji, dengan yang itu dia bisa membantu orang tuanya dan memenuhi kebutuhan anaknya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
fajar telah datang bersamaan dengan suara muadzin, membangunkan semua insan yang terbuai dengan indahnya mimpi, bagi mereka yang terbiasa bangun menyambut sang fajar tidak akan sulit melepas bunga tidur, begitu juga Humai bahkan sebelum sang fajar datang dia telah bersimpuh memohon kepada sang Maha khalik, dan tak lupa bersyukur atas segala kenikmatan yang telah ia rasakan, suara muadzin telah berakhir, Humai segera menunaikan ibadahnya, beberapa ritual sebelum dan sesudah kewajibannya pun ia kerjakan
Humai melipat mukenah kemudian merapikan tempat tidur dan menyapu kamar sendiri, setelah selesai dia keluar menuju dapur membantu mbok yum
"kamu bangun jam berapa mai, hari masih gelap kok kamu sudah ada di dapur?" tiba tiba suara mbok yum di belakangnya Humai
"eh mbok...Humai sudah biasa mbok, bangun jam segini, kalau mau tidur lagi tidak bisa, mau ke kamar non Retha ini masih gelap, ya jadi deh kesini, gak apa apa kan mbok" ucap Humai
"iyalah mbok gak apa apa, mbok malah seneng, kamu bisa membantu jika ada senggang" mbok seneng karena Humai tidak pilih pilih pekerjaan meskipun disini tugasnya sebagai pengasuh
setelah beberapa menit menemani mbok yum membuat sarapan pagi, Humai terpaksa meninggalkan Mbok yum karena ia harus segera ke kamar Aretha
__ADS_1
hari ini Aretha masuk seperti biasanya, jadi dia harus membangunkan dan menyiapkan keperluan nona kecilnya
satu setengah jam Humai berada dikamar Aretha, sekarang mereka keluar menuju meja makan, ternyata disana mama dan papanya Aretha telah menunggu
"pagi ma, pa" Aretha menghampiri kedua orang tuanya dengan wajah ceria
"pagi sayang"
cup
cup
mereka secara bergantian mencium Aretha
"wah anak papa sudah cantik rupanya dan kelihatannya semangat sekali" ujar Dika
"iya dong pa, anak siapa dulu"
"eh kata siapa anak papa, ini anak mama, kan cantiknya sama kayak mama, tentu ini anak mama"
"tanpa sumbangan dari papa gak akan anak cantik ini" Dika mencubit gemas pipi Aretha
"sumbangan apa pa"
hahaha
mendengar pertanyaan Aretha, Dika tertawa
"ish papa, udah jangan dengerin papa sayang, papa itu iri, kita kan berdua cantik, sedangkan papa sendirian, gak ada temannya"
"ooh...eh kalau gitu papa yumbang ke mbak Humai aja pa!"
__ADS_1
uhuk uhuk
glek
semuanya benar benar terkejut mendengar ucapan Aretha
begitupun dengan Humai, ia menelan salivanya seakan ia tercekat dengan ludahnya sendiri
"maksudnya sayang" tanya Maria setelah menetralisir keterkejutan nya
"ia papa kasih sumbangannya ke mbak Humai aja, nanti kan dedek Alfa bisa sama papa, kan jadinya sama, sama sama berdua"
huh
ada kelegaan dihati setiap orang yang berkumpul di meja makan
"eh... dedek Alfa itu siapa ya? apa pacarnya Aretha? Dika kembali menjahili Aretha
plethak
"auwh... sakit ma" sebenarnya tidak sakit hanya ia terkejut dengan pukulan Maria di lengannya
" biarin... lagian nanyanya kek gitu, dia masih balita, gak usah macam macam"
"papa mama kenapa sih, dari tadi ribut terus, lagian kalau pacar Retha gak panggil dedek, panggil sayang sama kayak papa dan mama"
Maria membulatkan matanya pada Dika
"lalu derek Alfa itu siapa" tanya Dika menghindari tatapan intimidasi Maria
"derek Alfa itu adeknya mbak Humai"
__ADS_1