Pesona Pengasuh Keponakan Ku

Pesona Pengasuh Keponakan Ku
berdebat


__ADS_3

dan betapa kesalnya Daffa setelah melihat jawaban Aretha


belum lagi dia yang sedari tadi berdebat dengan pengasuh keponakannya, tentu bertambah kesal dirinya


sementara itu sang korban yaitu Aretha, sejak melihat pengasuhnya mengejar, dia sudah berhenti merengek, dan menjadi acuh terhadap pamannya, terlebih lagi dia sudah diambil alih oleh pengasuhnya dan kini dia lagi fokus pada tangannya, dia sedang sibuk menjilati sisa es krim di jari tangannya, dan mendengar pertanyaan pengasuhnya, Aretha hanya menggelengkan kepalanya tanpa keterangan apapun


entah karena kesal dengan sang paman karena telah membuang es krim nya, atau mungkin karena terlalu dia fokus dengan jari tangannya, yang jelas jawaban dari Aretha sukses membuat Daffa benar benar kesal dan geram, dan itu benar benar membuat Daffa sebagai tersangka kriminal


"kalian lihat sendiri kan, apa jawaban anak asuh saya, jadi sebaiknya kalian cepat pergi, sebelum saya teriaki kalian penculik, dan kalian dihakimi warga" gertak Humai


"tumben sepi biasanya banyak orang lewat" guman Humai melihat keadaan sekitar


"hh...teriak.. teriak saja, kita tidak takut, dan apa kata kamu, kamu pengasuh yang bertanggung jawab, bertanggung jawab dari mana, kau membiarkan dia makan es krim, ooh... aku tahu, kamu membiarkan dia makan es krim, supaya dia sakit, dan kamu bisa bersantai karena tidak perlu mengawasi kesana kemari, ngaku aja kamu.. mau makan gaji buta kamu"


"ish....kamu itu cowok, tapi dari nyerocos saja dari tadi kayak mulut wanita saja" Humai menggerutu


mmmpph"


Andri menahan tawa, mendengar gerutuan Humai, berbanding terbalik dengan Daffa, kedua manik nya membulat kearah Andri dan membuat Andri langsung diam mengunci mulutnya


"eh pak, kalau cuman sekali tidak akan sakit, dan perlu bapak ketahui, saya sudah menghubungi nyonya saya, dan dia bilang tidak apa apa" kata Humai


"berhenti panggil saya bapak, memang saya saya kawin dengan ibumu, seenaknya saja panggil bapak, bapak,"


"terserah aku lah, emangnya mau dipanggil apa, dipanggil adek, nggak sadar apa kalau sudah tua" Humai menggerutu


dan kali ini Andri benar benar tidak bisa mulutnya untuk tertawa

__ADS_1


"hahaha.... aduh bos sakit perutku, hahaha... baru kali ada yang berani sama lho bos... hahaha" Andri terbata bata sambil memegang perutnya


"kawinin aja sekalian bos.... lihat bibirnya yang sudah bilang kamu tua, pasti manis, kalau di cepok" bisik Andri mengompori atasannya


"diam kamu"


dan dari sudut lain, seseorang sedang berjalan sedikit di percepat, melihat rekan kerjanya sedang beradu debat dengan seseorang, dia tidak tahu karena karena dia datang dari arah belakang lawan bicara temannya


"Humai, ada apa?" setelah sampai dia langsung menyapa Humai tanpa menoleh ke arah lawan bicara Humai


"bang Hanif, syukurlah abang sudah datang" Humai lega akhirnya bahkan ada yang bisa membantunya


"ini bang non Aretha mau diculik" tutur Humai


"diculik?" Hanif menoleh kebelakang "tu..tuan" hanif mundur beberapa langkah dan sedikit membungkuk, sebagai tanda dia sedang menghormati orang di depannya


"abang ngapain, emang abang kenal sama mereka" bisik Humai pada Hanif


"kamu dari mana saja, kenapa sampai telat jemput Aretha" tanya Daffa


"maaf tuan, tadi ban nya bocor dan kebetulan ban serep saya juga lupa bawa, jadi saya masih menghubungi pihak bengkel" Hanif menjelaskan keterlambatannya


"bang ngapain sih bang, nggak ada gunanya mereka penculik, nggak akan didengar sama mereka" kata Humai menggerutu


"penculik... mereka" telunjuk Hanif menunjuk kepada orang yang di depannya


Humai mengangguk pasti

__ADS_1


"maaf tuan, maafkan Humai, dia baru bekerja, jadi dia tidak tahu anda siapa" kata Hanif


"ooh jadi namamu Humai, bukan memperkenalkan diri, malah langsung main tuduh" sindir Daffa


"buat apa kenalan sama kalian, nggak ada untungnya"


"mai... sudah cepat minta maaf sama mereka" cegah Hanif


"hah... emang mereka siapa bang, abang kenal dengan mereka" tanya Humai lagi, sedikit berbisik tapi masih di dengar oleh yang lain


Hanif menepuk jidatnya, karena Humai tak ngerti ngerti


"ya sudah kasih tahu siapa saya nif, biar dia tidak sembarangan nuduh" Daffa


"emang dia siap bang, kok kenal dan abang juga" tanya Humai polos


"aduh Humai, dia itu saudaranya nyonya, pamannya non Aretha" Hanif


"ooh..." jawab Humai


"apaaa... sau.. saudara nyonya"


Hanif mengangguk, sedangkan Daffa dan Andri tersenyum melihat tingkah Humai, apalagi Andri ingin dia tertawa lebar melihat gelagat Humai


sedangkan Humai segera berlindung dibelakang tubuh Hanif, kepalanya terus menunduk, tentu malu dan takut sekarang yang ia rasakan


"aduh gimana nih, kamu benar benar dalam masalah besar Humairah, siap siap saja kamu dipecat mai" batinnya berbicara

__ADS_1


"eh kamu ngapain kamu bersembunyi di belakang Hanif, memangnya kamu anak kecil, bisa sembunyi di belakang orang"


Humai maju beberapa langkah, tapi tangannya masih memegang ujung baju Hanif


__ADS_2