
"seandainya bisa, ummi akan bawa Alfa kemana ummi pergi tapi untuk saat ini anak ummi disini dulu ya sama kakek, nenek dan bu de Adiba, jangan nakal ya...jadilah anak baik, semoga anak ummi jadi anak yang sholeh dan bisa membanggakan kita semua dunia akhirat" dikecupnya lagi kepala anaknya dan dilihat wajah Alfa seperti ingin menangis seakan akan mengerti setiap perkataan ibunya
Humai mengambil posisi untuk tidur dan membawa Alfa dalam pelukan nya
sudah tiga puluh menit berlalu tapi matanya masih enggan diajak tidur, padahal dia ingin segera tidur agar besok tidak telat dan tentu lebih segar bugar untuk perjalanan ke kota besok, akhirnya sambil memeluk Alfa Humai membaca shalawat berharap tertidur
"hoaam.... " Humai melebarkan tangannya dan berdoa, entah jam berapa dia tidur, yang jelas saat dia bangun, ini waktunya sholat malam mengadu pada yang Maha Khalik
setelah beberapa jam, kini pagi mulai menyapa, setelah sholat subuh Humai pergi ke dapur ia mulai mengambil beberapa bahan makanan untuk di olah, mungkin hanya ini yang bisa dilakukan sesaat sebelum dia pergi merantau, tak lupa juga ia membuatkan makanan kesukaan anaknya dan tentu mempunyai nilai gizi tinggi untuk menunjang perkembangan otak serta tubuh anaknya
"ini masih sangat pagi kenapa kamu sudah ada di dapur" suara bu anis mengagetkan Humai
"eh ibu.. kok ibu tiba tiba ada disitu bikin Humai kaget, mm ini Humai lagi masak untuk sarapan nanti, " sambil terus memotong sayuran yang ada di depannya
__ADS_1
" kamu tuh sebentar lagi mau berangkat, harusnya duduk saja supaya dalam perjalanan kamu tidak lelah, kalau kamu sudah capek dari sini ibu khawatir kamu bisa mabuk di kendaraan, nanti kamu malah merepotkan Yanti, perjalanan kamu sangat jauh," bu anis jelas khawatir karena Humai tidak pernah jauh dari dirinya apalagi melakukan perjalanan jauh bahkan sang jauh
" justru itu bu karena Humai sebentar lagi mau berangkat Humai buat sarapan untuk ibu, bapak dan Adiba dan ini untuk Alfa......hanya ini yang bisa Humai lakukan sebelum berangkat, tapi maaf Humai tidak bisa ikut sarapan bersama bapak, ibu dan Adiba apalagi bersama Alfa" makanan yang diolahnya hampir selesai
" lho kenapa tidak bisa, bukannya kamu buat sarapan ini supaya kita makan sama sama untuk terakhir kali, memangnya jam berapa kereta mu berangkat ?, sampai kamu tidak sarapan sama kita"
" insyaallah jam sembilan bu, tapi dari sini ke stasiun itu butuh waktu kurang lebih satu jam, dan lagi Humai mau ke pemakaman, jadi habis buat sarapan Humai harus siap siap mau berangkat " jelas Humai
" lalu kamu sarapan dimana" tanya bu anis
"bu, maafkan Humai, bukannya Humai tidak mau makan bersama kalian, tapi Humai takut pada saat nanti sarapan dan Alfa bangun,...itu membuat Humai batal pergi, padahal Humai sudah janji, dan janji harus ditepati, ibu gak mau kan mempunyai anak yang tidak menepati janjinya" Humai menahan air mata yang mengembun di pelupuk matanya
bu anis tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi ingin keluar, ia merasa sangat kasihan kepada anak sulungnya, diusia yang masih muda dia sudah berstatus janda terlebih lagi ada Alfa yang menjadi tanggung jawabnya, seandainya dia mampu dalam bentuk materi pasti ia akan melarang anaknya bekerja apalagi pergi jauh keluar kota
__ADS_1
"bu, Humai mohon keikhlasan ibu agar setiap langkah Humai diberkahi oleh Allah, karena dengan doa dan restu kalian, pasti semuanya akan mudah terutama untukku dan Alfa,.....oh ya bapak dan Adiba mana bu"
"sepertinya bapakmu belum pulang dari masjid sedangkan adikmu entahlah apa dia sudah bangun atau tidak, Ya sudah kamu mandi sana,.... katanya sebentar lagi kamu berangkat, sambil nunggu bapak pulang, ini biar ibu yang lanjutkan" kata bu anis
^^^Humai melangkah keluar dari dapur menuju ke kamarnya, di kamar dia melihat Alfa yang masih terlelap, dia menghampiri anaknya dan mencium kening Alfa agak lama, setelah puas Humai keluar menuju kamar mandi. ^^^
jarum jam menunjukkan setengah enam, Humai keluar dari kamar membawa tas ransel yang biasa menemani saat ia pulang pergi pesantren, dia melangkah menuju ruang keluarga disana bapaknya sudah pulang, Adiba pun juga ada, ibunya masih ada di dapur
" pak... Humai mau berangkat maafkan Humai kalau selalu merepotkan bapak dan Humai titip Alfa bimbing dia seperti bapak membimbing Humai" Humai mengambil dan mencium tangan bapak dengan takdzim
"baiklah,...bapak hanya bisa mendoakan semoga apa yang kamu citakan semua terwujud dunia dan akhirat" kata pak achmad
"Adiba... mbak mohon bantu mbak menjaga Alfa dan kamu bisa memberikan pendidikan sesuai yang kamu tahu mulai dari yang paling dasar" Humai memeluk Adiba
__ADS_1
ibu keluar dari dapur membawa bungkusan plastik dan diberikan pada Humai, hampir setengah jam bercengkrama dengan keluargannya dan tiba saatnya dia harus benar benar berpisah dari keluarganya, semua berat untuk melepaskan kepergian Humai tapi ini untuk masa depan yang lebih baik