
"mas mau ke bawah, mau bicara sama Humai, berani sekali dia ngatur hidup kita" Dika yang salah paham mulai dikuasai emosi
"mas... nggak gitu ceritanya, dengerin dulu.... duduk sini biar Ria ceritain sebenarnya" Maria menceritakan semuanya percakapannya dengan Humai
"tadinya sebenarnya Ria juga kesal mas, seperti kata mas Humai ikut campur dan mengawasi gerak gerik kita, tapi setelah dipikir pikir selama ini kita memang terlalu fokus akan namanya dunia, termasuk kepada Aretha, tadinya saya rasa dengan kita memberikan kenyamanan dan pendidikan umum dan memberikan yang terbaik padanya, kita sudah melakukan tanggung jawab kita sebagai orang tua, tapi ternyata aku salah, kita hanya fokus mengajarkan Aretha tentang ilmu dunia dan seisinya , sedangkan ilmu agama kita lupa untuk mengenalkan dan mengajarinya tapi kini aku bersyukur walaupun kita tidak bisa untuk mengajarkan ilmu agama pada Aretha, setidaknya dia bisa belajar pada Humai, bahkan Humai dengan senang hati untuk membimbing Aretha," Maria menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya
"mendengar ceritamu, aku merasa malu, seharusnya aku yang bisa membimbing anak dan isteriku menuju tempat yang lebih baik, maafkan aku ya ma tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik, seharusnya aku yang mengajak kalian kejalan yang benar, yaitu dengan tidak melupakan Tuhan, tapi malah aku sendiri yang sibuk dan silau akan kehidupan dunia, mengejar target sana sini, mama ya ma"
"mas Dika tidak salah, aku yang salah terlalu menuntut papa, agar seimbang dengan keluarga besar ku, hingga melupakan tugas kita kepada Allah, seharusnya kita saling mengingatkan, tapi malah kita sama sama terlena akan dunia yang tak ada habisnya kecuali kita mati, pa bagaimana kalau kita sama sama belajar, setahu mama waktu pacaran papa bisa sholat,"
"ya, seperti yang kamu katakan karena sibuk dan silau akan dunia, papa lupa akan tugas papa sebagai hamba Allah, tidak seperti waktu pacaran dulu, selain papa tidak terlalu sibuk dan lagi papa selalu selalu diingetin ayah dan ibu, terutama ibuku, seperti kata mama mari kita sama belajar dan memperbaiki diri dan jangan lupa untuk selalu mengingatkan kita salah atau lupa"
, tak terasa mereka sama sama tertidur setelah percakapan dari hati ke hati,
__ADS_1
hari sudah siang, waktunya untuk makan siang, tapi keluarga itu belum ada yang turun, termasuk Aretha yang berjanji untuk belajar sholat, karena tidak ada yang turun, Humai dan mbok yum pergi ke kamar masing masing
"sepertinya mereka, akan melewati makan siang mai, lebih baik kita pergi ke kamar, istirahat dan sholat dulu" ajak mbok yum
"ya mbok, bahkan non Aretha juga anteng tidur siangnya"
"Ya kamu benar, mungkin karena ditemani papa mamanya tidur y, jadi non Aretha bisa anteng"
"mbok Yum benar, ya sudah, Humai sholat dulu ya mbok,"
"mbak Humai, kenapa tadi Aretha tidak dibangunin, kan Retha sudah bilang mau belajar sholat"
"anu non tadi saya juga ketiduran non, jadi lupa mau bangunin non"
__ADS_1
"huhh mbak Humai gimana sih"
"ya sudah, belajarnya nanti saja ya, pada waktu magrib, jadi lebih di ijabah doanya"
"oh ya, baiklah, eh mbak Humai kapan kita beli mukennah buat Retha"
selesai makan Aretha dan Humai pergi ke taman belakang, Humai membawa beberapa mainan dan camilan beserta minumannya
sedangkan papa dan mamanya Aretha masuk ke ruang kerja Dika, Dika ingin membahas pertemuannya dengan utusan pak Hendra tadi pagi
"mm... non kalau kita pergi sekarang sampai ditempat pasti sudah sore, belum lagi masih cari toko tempat jual mukennahnya, pasti tambah lama, kan mbak belum tahu toko atau butiknya dimana, dan setelah itu kita pasti lelah, lalu non nggak jadi deh belajar sholatnya, karena sudah capek abis muter muter" kata Humai panjang lebar
"lalu kapan kita beli mukennahnya, Retha inginnya segera," Aretha merengek
__ADS_1
"non bagaimana kalau belanja online saja non, kan enak non bisa milih sama nyonya dan yang penting nggak perlu keluar rumah dan tentu tidak capek pastinya" usul Humai
"mbak Humai benar, ya udah Retha cari mama dulu, Retha tinggal dulu ya mbak" Aretha berlari penuh semangat mencari mamanya di lantai atas