Pesona Pengasuh Keponakan Ku

Pesona Pengasuh Keponakan Ku
kesal


__ADS_3

dilain tempat Humai baru keluar dari toilet, penglihatannya langsung ke tempat duduk Aretha, dan yang dicari tidak ada ditempat yang ia tinggalkan, setelah melihat sekelilingnya Humai melihat dia sedang berada dalam gendongan seseorang dan sepertinya Aretha tidak baik baik saja,


melihat Aretha yang sepertinya di bawa paksa oleh seseorang, Humai langsung lari mengejar mereka


"hei....... penculik"


buuuk


"aauuww " Daffa mengadu sakit, punggungnya sepertinya dilempari sesuatu dari belakang


buuuk


kedua pria dewasa itu melihat ke bawah, dilihatnya sebuah sandal baru jatuh dari tubuh kekar Daffa, dan kedua pria itu sama sama menoleh kebelakang karena mendengar seseorang menyebutnya dengan satu kata yang jauh dari perkiraan semua orang


"heh penculik, mau dibawa kemana dia, dasar penculik" kata Humai dengan terengah engah, ya setelah melihat Aretha dibawa seseorang, Humai langsung berlari mengejar dua orang itu


dahi Daffa mengkerut, tanda tak mengerti, siapa yang disebut penculik oleh wanita didepannya, begitupun dengan Andri


"hei siapa yang kau sebut dengan penculik" tanya Daffa, tentu ia tak merasa karena yang dia bawa adalah keponakannya

__ADS_1


"ih, berlagak polos nggak bersalah, ya tentu kalian, mau apa kalian bawa anak kecil, kalau bukan mau nyulik"


"apa kita mau nyulik, apa kamu nggak lihat penampilan kita, apa kita seperti preman, atau matamu yang minus" kata Daffa tidak kalah sengitnya


" eh pak, saya rasa kalian pernah dengar, kalau mau tahu isi sebuah buku jangan hanya lihat sampulnya, jadi penampilan kalian bukan jaminan kalau kalian orang baik" suara Humai semakin keras " saya harus bisa menahan orang ini, siapa tahu ada yang lewat, dan saya bisa minta tolong" kata Humai dalam hati


"apa kau mengatakan kita orang jahat" sedari tadi hanya Daffa yang menjawab setiap perkataan Humai


sedangkan Andri hanya diam, dia sedikit terhibur dengan adegan di depannya, baru kali ini ada yang bisa membalas setiap perkataan bosnya,


"sepertinya si bos telah menemukan lawan yang sama, bagaimana ya kalau mereka berjodoh, hihihi" tentu itu hanya dipikiran andri saja


"anak" Daffa dan Andri tersenyum sinis


"heh perempuan udin, semua orang itu tahu, bahkan orang paling bodoh pun tahu kalau dia bukan anak mu, ngapain kamu ngaku ngaku orang tua nya" kata Daffa mengejek


"kamu tidak sadar atau kamu belum tahu kalau pakaian yang kamu pakai itu dibuat khusus untuk pengasuh, dasar kampungan" tambah Daffa lagi


"iya juga ya, ngapain aku bilang gitu ya, lagian ini kemana orang orang ya padahal biasanya banyak orang lewat" dalam hati Humai

__ADS_1


"justru karena saya pengasuhnya, selama saya menjadi pengasuhnya, itu berarti dia adalah tanggung jawab saya, dan itu berarti juga anak saya" jawab Humai sambil memeluk Aretha, dia tidak mau kalah


"ternyata dia pengasuh yang amanah" kata Andri dalam hati


"lagian aku heran, bisa bisanya kalian bisa masuk lingkungan sekolah, ooh saya tahu, pasti sudah menjadi mengikuti kami, sudah berapa hari kalian jadi penguntit" Humai


"apa, menguntit, kurang kerjaan banget, lagian apa kamu tidak tahu saya"


"tidak dan saya tidak mau tahu" kata Humai


"kalau kau tidak tahu, tanya saja sama Aretha siapa saya" Daffa


"eh kok kalian tahu namanya, benar kan kalian mata matain kami"


"non, non kenal sama mereka" Humai melihat kebawah dimana Aretha berada


sama dengan Daffa dan Andri mereka melihat ke arah Aretha


dan betapa kesalnya Daffa setelah melihat jawaban Aretha

__ADS_1


belum lagi dia yang sedari tadi berdebat dengan pengasuh keponakannya, tentu bertambah kesal dirinya


__ADS_2