Pesona Pengasuh Keponakan Ku

Pesona Pengasuh Keponakan Ku
kewajiban


__ADS_3

"mm...nya apakaah...kepercayaan anda sama dengan saya," tanya Humai dengan rasa ragu dan takut


"maksudmu apa mai, kepercayaan apa, aku benar benar gak ngerti arah pembicaraan mu"


" an..nu nya..apa agama kita sama"


"kenapa kamu menanyakan tentang agama saya, siapa kamu berani beraninya kamu bertanya seperti itu" Maria sudah tak dapat menahan kekesalannya


"maaf nya... bila pertanyaan saya menyinggung anda, tapi saya menayangkan ini karena perkerjaan saya sebagai pengasuh"


"jangan berbelit belit mai, cepat katakan ada apa dengan Aretha"


"begini nya... beberapa hari yang lalu non Aretha meminta kepada saya untuk mengajarkan dia sholat, saya bingung antara mau atau tidak, saya takut agama saya dan keluarga nyonya tidak sama, sebagai anak yang masih kecil pasti akan mengikuti agama orang tuanya, jadi saya takut salah tentang hal itu, makanya saya bertanya pada nyonya, tadinya saya mau bertanya pada mbok yum atau yang lain, tapi takut nanti jadi gibah"


perkataan Humai yang panjang lebar, membuat Maria sedikit mengerti, bahwasanya Humai melakukan ini karena tanggung jawabnya juga, dan dia juga senang karena Humai lebih memilih langsung bertanya kepadanya daripada bertanya pada orang lain


benar kata Humai seorang anak pasti akan mengikuti orang tuanya, tapi sebagai orang tua dia tidak bisa mengajari anaknya tentang ketuhanan


dalam hal ilmu dunia dan ilmu sosial Maria sudah memberikan yang terbaik, tapi tentang ilmu agama sangat kurang


"baiklah, kalau begitu saya akan carikan ustadz yanng bisa mengajari Aretha" kata Maria

__ADS_1


"hah... berarti kita satu kepercayaan nya"


"ya, kamu bilang saja dan Retha, saya akan mencarikan guru agama untuknya"


"tidak perlu nya, non Aretha masih kecil jadi yang perlu diajari hanya dasar dasarnya agama saja, biar saya yang mengajarinya"


Humai sangat senang dia sangat bahagia, selain majikannya tidak marah atas kelancangannya juga karena dia bisa dengan leluasa mengajarkan tentang islam, seperti yang ia impikan mendidik tentang ilmu agama kepada anaknya oleh dirinya sendiri


"baiklah kalau begitu nanti gaji kamu saya tambahkan"


"tidak usah nya, saya hanya memanfaatkankan ilmu yang dapat dari sejak kecil, semoga dengan ini anak saya juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat dunia akhirat walaupun itu bukan dari saya"


Maria sedikit terenyuh mendengarnya, dan dia menoleh pada Humai "apa benar dia tidak mau ditambah gajinya" sambil menatap kedua manik Humai


"tunggu, kenapa kamu mengira agama kita beda?" tanya Maria


deg


"mm.... itu nya. mung..kin karena wajah nyonya," Humai menggenggam erat tangannya sendiri


"mungkin, kamu sendiri tidak yakin akan jawabanmu, bagaimana bisa aku percaya dengan jawaban mu" Maria melihat sikap Humai yang Gugup

__ADS_1


"mmm...an"


"katakanlah, saya ingin jawaban jujur dari kamu"


"benar nya itu karena wajah nyonya yang bule dan ..."


"lalu bagaimana dengan suamiku,?"


"i..tu"


"katakanlah yang sebenarnya mai, kenapa kamu sangat ragu "


"aduh aku berkata apa, kalau saya katakan yang sebenarnya, nanti dikira aku menjaga mereka" batinnya berbicara


" kalau tentang tuan, saya kira tuan mengikuti nyonya" Humai tetap menunduk


"lalu kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, pasti ada alasan yang sangat mendasar"


"begini nya..setelah kurang lebih dua bulan saya berada disini, sedikit banyak saya sudah melihat keseharian tuan dan nyonya, maaf kalau kesannya saya telah menilai keluarga nyonya, nyonya sudah melakukan hal yang baik tapi.... maafkan kalau saya salah menilai atau salah melihat.....


"kamu dari tadi maaf terus, sudahlah cepat katakan"

__ADS_1


"keluarga nyonya orang baik tapi saya tidak pernah melihat tuan dan nyonya melaksanakan kewajiban seorang muslim, maaf nya kalau saya salah,"


__ADS_2